Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2768 tentang Larangan berbaring tengkurap karena dibenci Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa berbaring dengan posisi tengkurap (di atas perut) adalah kebiasaan yang tidak disukai oleh Allah ﷻ. Ini adalah adab dan bimbingan dari Nabi ﷺ tentang cara berbaring yang baik. Posisi yang paling utama adalah berbaring miring ke kanan, sebagaimana kebiasaan Nabi ﷺ, karena itu lebih baik untuk kesehatan dan lebih sesuai dengan tuntunan syariat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ melihat seorang laki-laki berbaring di atas perutnya, maka beliau bersabda:

"إِنَّ هَذِهِ ضِجْعَةٌ لَا يُحِبُّهَا اللَّهُ"

"Sesungguhnya berbaring seperti ini tidak disukai oleh Allah."

(HR. At-Tirmidzi no. 2768, dalam Kitab Akhlak dari Rasulullah ﷺ, Bab: Kebencian Berbaring di Atas Perut. At-Tirmidzi berkata: "Dalam bab ini ada riwayat dari Thihfah dan Ibnu Umar.")

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya.

Hadits pendukung dari Abu Hurairah lainnya:

Nabi ﷺ juga bersabda ketika melihat seorang laki-laki berbaring tengkurap:

"إِنَّ هَذِهِ ضِجْعَةٌ يُبْغِضُهَا اللَّهُ"

"Sesungguhnya ini adalah cara berbaring yang dibenci Allah."

(HR. Ahmad, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami' no. 2194)

Hadits tentang cara berbaring Nabi ﷺ:

Dari Al-Barra' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

"إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ"

"Apabila engkau mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah seperti wudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi kananmu."

(HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bagian dari adab-adab tidur yang diajarkan oleh Nabi ﷺ. Berbaring tengkurap adalah posisi yang tidak disukai oleh Allah ﷻ karena beberapa alasan:

1. Pendapat Ulama Tentang Makna "Tidak Disukai Allah"

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa makna "لَا يُحِبُّهَا اللَّهُ" (tidak disukai Allah) adalah bahwa Allah membenci perbuatan tersebut. Ini menunjukkan bahwa posisi ini makruh (dibenci) dalam syariat, bukan haram. Namun, jika seseorang melakukannya tanpa sengaja atau karena kebutuhan, maka tidak mengapa.

2. Hikmah Larangan Berbaring Tengkurap

Para ulama menyebutkan beberapa hikmah mengapa posisi ini tidak disukai:

  • Dari sisi kesehatan: Berbaring tengkurap dapat menekan organ-organ vital seperti jantung dan paru-paru, sehingga mengganggu pernapasan dan pencernaan. Ini dijelaskan oleh para dokter dan juga disebutkan oleh ulama seperti Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zad Al-Ma'ad ketika membahas adab tidur.
  • Dari sisi syariat: Posisi ini menyerupai cara berbaringnya orang-orang yang sombong dan juga menyerupai cara duduknya penghuni neraka (sebagaimana disebutkan dalam sebagian riwayat). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Termasuk petunjuk Nabi ﷺ dalam tidur adalah berbaring di atas sisi kanan menghadap kiblat, dan beliau membenci tidur tengkurap."

3. Posisi Tidur yang Dianjurkan

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah sepakat bahwa posisi tidur yang paling utama adalah berbaring miring ke kanan, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ﷺ. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa tidur miring ke kanan adalah sunnah, dan tidur miring ke kiri diperbolehkan namun kurang utama.

4. Pengecualian

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang hukum tidur tengkurap, beliau menjawab bahwa posisi ini makruh berdasarkan hadits ini, kecuali jika ada kebutuhan atau alasan tertentu. Misalnya karena sakit atau kondisi tertentu yang mengharuskannya, maka tidak mengapa.

5. Pelajaran dari Hadits Ini

Hadits ini menunjukkan bahwa Islam memperhatikan seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk cara tidur. Ini adalah bagian dari kesempurnaan syariat yang mengatur seluruh gerak-gerik hamba-Nya. Bahkan dalam hal yang terlihat sepele seperti posisi tidur, Nabi ﷺ memberikan bimbingan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Beliau pernah berkata: "Aku membagi malamku menjadi tiga bagian: sepertiga untuk shalat, sepertiga untuk tidur, dan sepertiga untuk menghafal hadits Rasulullah ﷺ."

Ketekunan Abu Hurairah dalam menuntut ilmu membuat beliau menjadi perawi hadits terbanyak. Dari beliau, kita mendapatkan banyak sekali bimbingan Nabi ﷺ dalam perkara-perkara kecil sekalipun, seperti cara berbaring ini. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak meninggalkan satu pun kebaikan kecuali telah diajarkannya.

Hikmah yang bisa kita ambil: Perhatian Nabi ﷺ terhadap hal-hal kecil menunjukkan bahwa agama ini sempurna dan mencakup seluruh aspek kehidupan. Maka sudah sepantasnya kita berusaha mengikuti sunnah beliau dalam segala hal, sekecil apa pun.

Kesimpulan Praktis

  1. Hindari berbaring tengkurap tanpa kebutuhan, karena ini adalah posisi yang tidak disukai Allah ﷻ.
  2. Biasakan tidur miring ke kanan sebagaimana kebiasaan Nabi ﷺ, dengan niat mengikuti sunnah.
  3. Jika terpaksa karena sakit atau kondisi tertentu, maka tidak mengapa berbaring dengan posisi yang paling nyaman.
  4. Ambil pelajaran bahwa Islam mengatur seluruh aspek kehidupan, maka kita harus bersemangat mempelajari dan mengamalkan sunnah dalam segala hal.
  5. Niatkan setiap aktivitas termasuk tidur sebagai ibadah dengan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?