Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2755 tentang Larangan berdiri untuk menghormati seseorang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini melarang seseorang yang senang dan bangga dihormati dengan cara orang-orang berdiri untuknya, karena itu tanda kesombongan dan keinginan diagungkan seperti raja. Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu justru menyuruh Ibn az-Zubair dan Ibn Shafwan duduk, karena beliau takut terjerumus ke dalam ancaman Nabi ﷺ. Adapun berdiri untuk menghormat tanpa maksud mengagung-agungkan diri, para ulama menjelaskan perinciannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama (Shahih secara makna, dihasankan at-Tirmidzi):

عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ قَالَ: خَرَجَ مُعَاوِيَةُ فَقَامَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ وَابْنُ صَفْوَانَ حِينَ رَأَوْهُ، فَقَالَ: اجْلِسَا، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَتَمَثَّلَ لَهُ الرِّجَالُ قِيَامًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»

"Barangsiapa yang senang bila manusia berdiri untuknya (menghormatinya), maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di Neraka."

(HR. at-Tirmidzi no. 2755, dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu; at-Tirmidzi berkata: hasan)

Ayat yang menjadi dasar larangan sombong dan merasa besar:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

"Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."

(QS. Luqman [31]: 18)

Kaitan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Riyadh ash-Shalihin memasukkan hadits semakna dalam bab larangan sombong dan merasa diagungkan.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari membahas hadits-hadits berdiri dan menyimpulkan larangan itu berlaku bila disertai niat mengagungkan seseorang secara berlebihan.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab-kitabnya tentang kelembutan hati menegaskan bahaya cinta kedudukan dan pujian.
  • Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan ayat Luqman di atas sebagai larangan sombong dan berbangga diri.

Penjelasan Rinci

1. Makna hadits.

Nabi ﷺ mengancam orang yang senang bila orang lain berdiri untuknya — bukan sekadar berdiri, tetapi kesenangan hati karena merasa diagungkan. Kata "فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ" adalah ancaman keras: siapa yang menginginkan hal itu, ia sedang menyiapkan jalan menuju Neraka. Ini menunjukkan bahwa cinta diagungkan adalah penyakit hati yang berbahaya.

2. Sikap Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu.

Ketika Ibn az-Zubair dan Ibn Shafwan berdiri untuknya, Mu'awiyah langsung menyuruh mereka duduk dan menyebutkan hadits ini. Ini menunjukkan kewaspadaan salaf terhadap pujian dan penghormatan berlebihan, meski beliau seorang khalifah. Ini pelajaran adab: pemimpin sejati tidak mencari diagungkan.

3. Perincian ulama tentang berdiri.

Para ulama dalam daftar membedakan:

  • Berdiri untuk mengagungkan dan merasa senang diagungkan → terlarang, sesuai hadits ini.
  • Berdiri untuk menyambut, menghormat, atau membantu tanpa niat mengagungkan diri → dibolehkan. Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah menyuruh para sahabat berdiri untuk Sa'ad bin Mu'adz, dan ini dipahami sebagai bentuk penghormatan yang wajar, bukan pengagungan.
  • Berdiri karena kebutuhan, seperti menyambut tamu atau orang tua, juga tidak termasuk larangan.

4. Penyakit yang diperingatkan.

Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa cinta kedudukan dan pujian adalah sumber banyak kerusakan hati. Orang yang senang diagungkan akan mudah terjatuh pada riya', sombong, dan merendahkan orang lain. Karena itu Nabi ﷺ memberi ancaman keras.

5. Kesimpulan ulama.

Yang terlarang adalah isi hati — rasa senang dan bangga diagungkan — bukan semata gerakan berdiri. Jika seseorang berdiri menghormat dengan niat baik, dan yang dihormati tidak merasa bangga, maka tidak termasuk ancaman hadits ini. Inilah yang paling kuat menurut dalil, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi.

Story Telling

Diceritakan bahwa Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu — seorang khalifah yang dihormati — ketika keluar, dua tokoh besar Quraisy, Abdullah bin az-Zubair dan Abdullah bin Shafwan, berdiri untuk menghormatinya. Namun beliau tidak merasa senang, justru langsung berkata: "Duduklah." Lalu beliau menyebut sabda Nabi ﷺ tentang ancaman Neraka bagi yang senang diagungkan.

Betapa berbeda dengan kebiasaan banyak pemimpin yang justru menikmati berdiri hormat dari rakyatnya. Mu'awiyah mengajarkan bahwa kemuliaan sejati bukan dari berdiri orang lain, tetapi dari ketakwaan kepada Allah. (Kisah ini disebutkan dalam riwayat at-Tirmidzi dan dibahas para ulama seperti Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari.)

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan senang diagungkan. Jika orang berdiri untuk kita, jangan merasa bangga; sadarilah itu ujian hati.
  2. Jangan memaksa orang berdiri untuk menghormati kita, apalagi menuntutnya.
  3. Berdiri untuk menghormat (menyambut tamu, orang tua, guru) dibolehkan selama tidak disertai niat mengagung-agungkan secara berlebihan.
  4. Latih hati dari cinta pujian. Ibn Rajab mengingatkan bahwa cinta kedudukan merusak keikhlasan.
  5. Teladani sikap Mu'awiyah yang menolak diagungkan meski beliau seorang pemimpin.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?