Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2724 tentang Adab duduk dalam majelis dan balasan sesuai sikapnya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita adab-adab penting dalam majelis ilmu, yaitu: bersegera mengisi tempat yang kosong, duduk di tempat yang tersedia tanpa memaksa, dan tidak meninggalkan majelis tanpa alasan yang jelas. Hadits ini juga menunjukkan bahwa Allah ﷻ membalas setiap niat dan perilaku hamba-Nya; siapa yang mendekat kepada Allah dan menghormati majelis ilmu, Allah akan memuliakannya, dan siapa yang berpaling, Allah pun berpaling darinya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab tentang adab duduk di majelis, no. 2724. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Teks Hadits (sebagaimana yang Anda sertakan):

حَدَّثَنَا الأَنْصَارِيُّ، حَدَّثَنَا مَعْنٌ، حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، عَنْ أَبِي مُرَّةَ، مَوْلَى عَقِيلِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَذَهَبَ وَاحِدٌ فَلَمَّا وَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ سَلَّمَا فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الآخَرُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قَالَ " أَلاَ أُخْبِرُكُمْ عَنِ النَّفَرِ الثَّلاَثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ " . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ . وَأَبُو وَاقِدٍ اللَّيْثِيُّ اسْمُهُ الْحَارِثُ بْنُ عَوْفٍ وَأَبُو مُرَّةَ مَوْلَى أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِي طَالِبٍ وَاسْمُهُ يَزِيدُ وَيُقَالُ مَوْلَى عَقِيلِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ .

Makna Ringkas: Rasulullah ﷺ mengabarkan tentang tiga orang yang datang ke majelis beliau. Dua orang mendekat dan duduk dengan adab yang baik, satu di antaranya mengisi celah kosong dan yang lain duduk di belakang. Sedangkan yang ketiga pergi meninggalkan majelis. Beliau ﷺ lalu menjelaskan balasan bagi masing-masing: yang pertama didekatkan kepada Allah, yang kedua dirahmati karena rasa malunya, dan yang ketiga dijauhi karena berpaling.

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, 'Berlapang-lapanglah dalam majelis,' maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, 'Berdirilah kamu,' maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)

Ayat ini sangat erat kaitannya dengan hadits di atas, karena keduanya membahas adab dalam majelis. Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan kaum mukminin untuk saling menghormati dan memberikan kelapangan dalam majelis, dan Allah menjanjikan balasan yang besar berupa kelapangan di dunia dan akhirat, serta pengangkatan derajat bagi orang-orang yang berilmu dan beriman.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu hadits adab yang sangat agung. Mari kita bedakan tiga perilaku dan balasannya:

  1. Orang Pertama: Mencari Celah dan Duduk di Dalamnya

Perilakunya: Ia melihat ada tempat kosong di lingkaran majelis, lalu ia segera duduk di sana. Ini menunjukkan semangatnya untuk dekat dengan majelis ilmu dan menghormati Rasulullah ﷺ.

Balasannya: Rasulullah ﷺ bersabda, "فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ" (ia berlindung/mendekat kepada Allah, maka Allah pun melindungi/mendekatkannya). Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa makna "berlindung kepada Allah" adalah ia mendekatkan diri kepada Allah dengan menghadiri majelis ilmu dan menghormatinya. Maka Allah pun membalasnya dengan memberikan tempat yang mulia di sisi-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.

  1. Orang Kedua: Duduk di Belakang Karena Malu

Perilakunya: Ia tidak menemukan celah di lingkaran, dan karena rasa malunya, ia tidak memaksa untuk masuk ke depan, melainkan memilih duduk di belakang. Rasa malu di sini adalah akhlak yang terpuji, karena ia tidak ingin mengganggu orang lain atau terkesan memaksakan diri.

Balasannya: Rasulullah ﷺ bersabda, "فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ" (ia malu, maka Allah pun malu kepadanya). Ini adalah balasan yang setimpal. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa "rasa malu Allah" di sini adalah makna yang layak bagi keagungan Allah, yaitu Allah tidak akan menghinakannya dan akan memberikan rahmat serta kemuliaan kepadanya. Rasa malu yang baik akan melahirkan sikap hati-hati dan menjauhi hal-hal yang tidak pantas.

  1. Orang Ketiga: Berpaling dan Meninggalkan Majelis

Perilakunya: Ia datang, tetapi kemudian pergi meninggalkan majelis tanpa alasan yang jelas. Ini menunjukkan sikap tidak menghargai majelis ilmu dan tidak menghormati Rasulullah ﷺ.

Balasannya: Rasulullah ﷺ bersabda, "فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ" (ia berpaling, maka Allah pun berpaling darinya). Ini adalah peringatan yang sangat keras. Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa "berpalingnya Allah" berarti Allah tidak lagi memberikan taufik dan pertolongan-Nya kepada orang tersebut, sehingga ia akan tersesat dan merugi. Ini adalah konsekuensi dari sikapnya yang meremehkan kebaikan.

Pelajaran Penting dari Para Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (beliau mensyarah hadits ini dalam kitabnya) menekankan bahwa hadits ini menunjukkan dianjurkannya duduk di tempat yang kosong dalam majelis, dan tidak memaksa untuk duduk di tempat yang tidak semestinya.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (saat menjelaskan hadits-hadits adab dalam Shahih Al-Bukhari) menyebutkan bahwa hadits ini mengajarkan tentang adab menghadiri majelis ilmu, yaitu bersegera mengambil tempat yang tersedia dan tidak memaksa orang lain untuk bergeser.
  • Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah menegaskan bahwa hadits ini shahih dan mengandung faedah yang besar tentang adab dan balasan atas perbuatan.

Hadits ini juga mengajarkan bahwa niat dan perilaku seseorang dalam menghadiri majelis ilmu akan menentukan balasannya. Orang yang bersemangat dan menghormati majelis akan dimuliakan, sedangkan orang yang meremehkannya akan dijauhkan dari kebaikan.

Story Telling

Para ulama salaf sangat memperhatikan adab dalam majelis ilmu. Diriwayatkan tentang Muhammad bin Sirin (seorang ulama tabi'in yang sangat mulia), bahwa beliau tertawa terbahak-bahak ketika mendengar sebuah hadits, lalu beliau berkata, "Mereka (para sahabat) berkumpul di majelis Rasulullah ﷺ dengan penuh adab dan ketenangan, seakan-akan di atas kepala mereka ada burung." (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu'allaq).

Gambaran ini menunjukkan betapa para sahabat sangat menghormati majelis Nabi ﷺ. Mereka duduk dengan tenang, tidak banyak bergerak, dan sangat memperhatikan apa yang disampaikan. Inilah adab yang menjadikan mereka mendapatkan keberkahan ilmu yang luar biasa.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersemangatlah untuk dekat dengan majelis ilmu. Carilah tempat yang kosong dan duduklah di sana dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah.
  2. Jangan memaksakan diri untuk duduk di tempat yang tidak semestinya. Jika tidak ada tempat, duduklah di belakang dengan penuh adab dan rasa malu.
  3. Jangan meninggalkan majelis ilmu tanpa alasan yang jelas. Jika terpaksa, mintalah izin dengan cara yang baik.
  4. Jadikan rasa malu sebagai perisai akhlak. Rasa malu untuk berbuat buruk atau mengganggu orang lain adalah bagian dari iman.
  5. Sadari bahwa setiap perilaku kita ada balasannya di sisi Allah. Siapa yang mendekat kepada Allah, Allah akan mendekatkan dirinya; siapa yang berpaling, Allah pun berpaling darinya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.