Penjelasan Hadits Jami' At-Tirmidzi No. 2716
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ mengirim surat kepada para penguasa besar dunia — Kisra (Persia), Kaisar (Romawi), An-Najashi (Habasyah), dan penguasa lainnya — untuk mengajak mereka masuk Islam. Ini menunjukkan bahwa dakwah harus disampaikan kepada semua lapisan, termasuk penguasa, dengan cara yang penuh hikmah dan adab. Hadits ini juga menegaskan bahwa An-Najashi yang menerima surat Nabi ﷺ berbeda dengan An-Najashi yang dishalatkan Nabi ﷺ (yakni Ashhamah bin Abjar).
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an
Allah ﷻ berfirman:
QS. An-Nahl [16]: 125
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."
QS. Al-Ahzab [33]: 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
Hadits Terkait
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Izin Masuk dan Adab, Bab Tentang Menulis kepada Orang-orang Musyrik (No. 2716). Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih gharib.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim dari Anas bin Malik dengan lafaz yang serupa, dan Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari menyebutkan tentang surat Nabi ﷺ kepada Kisra dan Kaisar.
Kaitan dengan Ulama
- Imam At-Tirmidzi (penyusun hadits ini) menyatakan derajat hadits sebagai hasan shahih gharib.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengirim surat kepada para penguasa setelah perjanjian Hudaibiyah, sebagai bentuk dakwah yang terorganisir.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan adab berdakwah kepada penguasa dengan cara yang lembut dan penuh hikmah.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad merinci nama-nama penguasa yang dikirimi surat dan isi surat Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
1. Konteks Hadits
Hadits ini menceritakan bahwa sebelum wafatnya, Rasulullah ﷺ mengirim surat kepada empat penguasa besar:
- Kisra — gelar raja Persia (Sasanid)
- Kaisar — gelar raja Romawi (Bizantium)
- An-Najashi — gelar raja Habasyah (Ethiopia)
- Setiap penguasa zalim — para raja dan pemimpin lainnya
Tujuan surat tersebut adalah mengajak mereka kepada Allah (dakwah tauhid).
2. Penjelasan Ulama tentang Hadits Ini
Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits ini dan menilainya hasan shahih gharib. Gharib berarti hadits ini pada sebagian jalur memiliki keunikan, namun tetap shahih.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa pengiriman surat kepada para penguasa dilakukan setelah Perjanjian Hudaibiyah (6 H), ketika kaum Muslimin sudah memiliki posisi politik yang lebih kuat. Ini menunjukkan bahwa dakwah kepada penguasa memerlukan persiapan dan waktu yang tepat.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa dalam berdakwah kepada penguasa, Nabi ﷺ menggunakan bahasa yang santun, jelas, dan tidak menyinggung secara kasar. Surat kepada Heraklius, misalnya, dimulai dengan "Bismillahirrahmanirrahim, dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya, kepada Heraklius pembesar Romawi. Salam bagi siapa yang mengikuti petunjuk..."
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad mencatat bahwa Nabi ﷺ mengirim surat-surat ini dengan utusan khusus, seperti Dihyah al-Kalbi ke Heraklius, Abdullah bin Hudzafah ke Kisra, dan Amr bin Umayyah ad-Dhamri ke An-Najashi.
3. Perbedaan An-Najashi yang Menerima Surat dan yang Dishalatkan Nabi ﷺ
Hadits ini secara tegas menyatakan: "An-Najashi ini bukanlah yang didoakan oleh Nabi ﷺ."
Para ulama menjelaskan:
- An-Najashi yang menerima surat adalah Ashhamah bin Abjar, raja Habasyah yang masuk Islam dan melindungi kaum Muslimin yang hijrah ke Habasyah. Ia wafat pada tahun 9 H dan Nabi ﷺ menyalatkannya (shalat ghaib).
- An-Najashi yang dimaksud dalam hadits ini — menurut sebagian ulama — adalah raja Habasyah yang lain yang hidup pada masa yang berbeda, atau bisa juga merujuk pada penerusnya.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membahas perbedaan ini. Pendapat yang kuat: An-Najashi yang menerima surat dan masuk Islam adalah Ashhamah, dan Nabi ﷺ menyalatkannya. Adapun redaksi "bukan yang didoakan Nabi ﷺ" dalam hadits ini bisa jadi merujuk pada An-Najashi yang lain (raja Habasyah sebelumnya atau sesudahnya), atau ini adalah penjelasan dari perawi bahwa ada dua An-Najashi.
Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa An-Najashi Ashhamah adalah raja yang adil, masuk Islam, dan Nabi ﷺ mengabarkan kematiannya kepada para sahabat serta menyalatkannya.
4. Pelajaran Dakwah dari Hadits Ini
a. Dakwah tidak mengenal batas sosial
Nabi ﷺ tidak hanya berdakwah kepada orang miskin dan lemah, tetapi juga kepada para raja dan penguasa. Ini menunjukkan Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.
b. Hikmah dan adab dalam berdakwah
Surat-surat Nabi ﷺ ditulis dengan bahasa yang jelas, penuh hormat, dan tidak menghina. Ini sesuai dengan QS. An-Nahl [16]: 125.
c. Kesabaran dan strategi
Nabi ﷺ mengirim surat setelah posisi Islam kuat, bukan di awal dakwah di Makkah. Ini mengajarkan bahwa dakwah memerlukan strategi dan waktu yang tepat.
d. Tauhid adalah inti dakwah
Semua surat Nabi ﷺ berisi ajakan kepada tauhid — meninggalkan kesyirikan dan menyembah Allah saja.
Story Telling
Kisah Surat Nabi ﷺ kepada Heraklius
Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma:
Nabi ﷺ mengirim surat kepada Heraklius, raja Romawi, melalui Dihyah al-Kalbi. Isi suratnya:
"Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya, kepada Heraklius, pembesar Romawi. Salam bagi siapa yang mengikuti petunjuk. Amma ba'du: Aku mengajakmu dengan ajakan Islam. Masuklah Islam, niscaya engkau selamat, dan Allah akan memberimu pahala dua kali. Jika engkau berpaling, maka engkau menanggung dosa rakyatmu. Wahai Ahli Kitab, marilah kita berpegang pada kalimat yang sama, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, katakanlah: 'Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim.'"
Heraklius kemudian memanggil Abu Sufyan (yang saat itu masih musyrik) dan bertanya tentang Nabi ﷺ. Setelah mendengar jawaban Abu Sufyan, Heraklius tahu bahwa ini adalah Nabi yang telah dinubuatkan dalam kitab-kitab mereka. Namun, karena takut kehilangan kekuasaan dan ditentang oleh para pembesarnya, ia tidak masuk Islam.
Hikmah: Dakwah harus disampaikan dengan jelas dan penuh hikmah. Hidayah adalah urusan Allah, tugas kita hanya menyampaikan.
Kesimpulan Praktis
- Berdakwahlah kepada semua orang — keluarga, tetangga, kolega, bahkan pemimpin — dengan cara yang hikmah dan santun.
- Gunakan bahasa yang baik dalam berdakwah, tidak menghina atau merendahkan.
- Pahami waktu dan strategi — dakwah memerlukan kesabaran dan pendekatan yang tepat.
- Tauhid adalah inti dakwah — ajaklah manusia kepada Allah sebelum kepada hal-hal lain.
- Teladani Nabi ﷺ dalam kesungguhan berdakwah, termasuk kepada para penguasa.
- Hidayah adalah milik Allah — tugas kita hanya menyampaikan dengan cara terbaik.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.