Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2705 tentang Adab salam antara penunggang, pejalan, dan jumlah orang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab mulia dalam kehidupan sehari-hari, yaitu siapa yang lebih dahulu mengucapkan salam. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa penunggang kendaraan memberi salam kepada pejalan kaki, pejalan kaki memberi salam kepada orang yang berdiri/duduk, dan jumlah yang sedikit memberi salam kepada jumlah yang banyak. Ini bukan sekadar aturan formal, melainkan pelajaran tentang tawadhu' (kerendahan hati), menghilangkan kesombongan, dan menyebarkan kasih sayang di antara sesama muslim.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat At-Tirmidzi (No. 2705):

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan) adalah:

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ، أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَنْبَأَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ، أَخْبَرَنِي أَبُو هَانِئٍ، اسْمُهُ حُمَيْدُ بْنُ هَانِئٍ الْخَوْلاَنِيُّ عَنْ أَبِي عَلِيٍّ الْجَنْبِيِّ، عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ " يُسَلِّمُ الْفَارِسُ عَلَى الْمَاشِي وَالْمَاشِي عَلَى الْقَائِمِ وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ "

Makna ringkas: "Penunggang memberi salam kepada pejalan kaki, pejalan kaki kepada yang berdiri, dan yang sedikit kepada yang banyak."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari sahabat Fadalah bin 'Ubaid radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang terkait dengan perintah menyebarkan salam:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. An-Nisa' [4]: 86:

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

"Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang sepadan. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu."

Kaitan dengan ulama: Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani juga menshahihkannya dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi (No. 2705). Adapun penjelasan tentang hikmah di balik urutan salam ini, para ulama seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hal ini mengandung makna penghormatan kepada yang lebih membutuhkan dan mengajarkan kerendahan hati.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung adab yang indah dalam menyebarkan salam. Mari kita pahami satu per satu:

1. Penunggang memberi salam kepada pejalan kaki

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam Syarah Shahih Muslim bahwa hikmahnya adalah karena penunggang berada di posisi yang lebih tinggi dan lebih "berkuasa" (karena memiliki kendaraan), maka ia diperintahkan untuk memulai salam kepada pejalan kaki. Ini adalah bentuk tawadhu' dan menghilangkan kesombongan. Penunggang yang berada di atas kendaraan bisa saja merasa lebih tinggi derajatnya, maka ia justru diperintahkan untuk merendahkan hati dengan memulai salam.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa ini juga mengandung makna bahwa orang yang memiliki kelebihan (dalam hal ini kendaraan) hendaknya tidak merasa lebih mulia, tetapi justru lebih dahulu menyapa saudaranya.

2. Pejalan kaki memberi salam kepada orang yang berdiri/duduk

Orang yang berjalan biasanya sedang dalam perjalanan dan akan segera melewati orang yang berdiri atau duduk. Maka ia diperintahkan untuk memulai salam. Ini juga mengandung makna bahwa orang yang "bergerak" (tidak menetap) memberi salam kepada yang "menetap", sebagai bentuk penghormatan.

3. Yang sedikit memberi salam kepada yang banyak

Ini adalah adab yang sangat indah. Kelompok yang lebih sedikit jumlahnya diperintahkan untuk memulai salam kepada kelompok yang lebih banyak. Ini mengajarkan bahwa kelompok minoritas tidak boleh merasa rendah diri, dan kelompok mayoritas tidak boleh menunggu untuk disalami. Yang sedikit justru memulai dengan salam sebagai bentuk penghormatan dan untuk mencairkan suasana.

Hikmah umum dari hadits ini:

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam menjelaskan adab-adab Islam menekankan bahwa salam adalah salah satu sarana untuk menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang di antara kaum muslimin. Dengan adanya aturan siapa yang memulai, maka tidak akan terjadi kebingungan atau saling menunggu. Yang jelas, salam tetap harus diucapkan dan dijawab, dan aturan ini hanyalah untuk menentukan siapa yang lebih utama memulai.

Catatan penting: Para ulama menegaskan bahwa aturan ini bukanlah kewajiban yang berdosa jika ditinggalkan, melainkan sunnah dan adab yang sangat dianjurkan. Jika ada orang yang tidak mengikuti urutan ini, tidak mengapa. Yang terpenting adalah salam tetap diucapkan dan dijawab.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa para sahabat Nabi ﷺ sangat menjaga adab salam ini. Suatu ketika, ada seorang sahabat yang sedang berjalan dan bertemu dengan sekelompok orang yang sedang duduk. Maka ia pun segera mengucapkan salam kepada mereka, karena ia adalah pejalan kaki dan mereka adalah orang-orang yang duduk.

Namun yang lebih indah, ada kisah tentang seorang salaf yang sangat menjaga penyebaran salam. Diriwayatkan bahwa sebagian ulama salaf (di antaranya disebutkan dari kalangan tabi'in) sangat bersemangat memulai salam kepada siapa pun yang ditemuinya, bahkan kepada anak-anak kecil sekalipun. Ini karena mereka memahami bahwa salam adalah sarana untuk menumbuhkan kecintaan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian." (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Hikmah dari kisah ini: Adab salam yang diajarkan Nabi ﷺ bukanlah sekadar formalitas, melainkan jembatan untuk membangun ukhuwah dan menghilangkan sekat-sekat sosial.

Kesimpulan Praktis

  1. Ucapkan salam dengan semangat — jangan menunggu orang lain memulai, karena menyebarkan salam adalah sunnah yang dicintai Nabi ﷺ.
  2. Terapkan urutan adab ini dalam keseharian — jika Anda berkendara dan bertemu pejalan kaki, dahulukan salam. Jika Anda berjalan dan melewati orang yang duduk, dahulukan salam. Jika kelompok Anda sedikit bertemu kelompok yang banyak, dahulukan salam.
  3. Jadikan salam sebagai sarana tawadhu' — jangan merasa gengsi untuk memulai salam, karena ini justru tanda kerendahan hati dan keimanan.
  4. Jawab salam dengan lebih baik — sebagaimana perintah Allah dalam QS. An-Nisa' [4]: 86, balaslah salam dengan yang lebih baik atau yang sepadan.
  5. Ajarkan adab ini kepada keluarga dan anak-anak — agar budaya salam tumbuh subur di tengah masyarakat muslim.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?