Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2703 tentang Adab salam antara berkendara, berjalan, duduk, sedikit, dan banyak

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab mulia dalam menyebarkan salam, yaitu siapa yang seharusnya memulai salam terlebih dahulu. Secara ringkas, orang yang berkendara memulai salam kepada pejalan kaki, pejalan kaki kepada yang duduk, jumlah yang sedikit kepada yang banyak, dan yang muda kepada yang lebih tua. Ini semua adalah bentuk tawadhu' (kerendahan hati) dan penghormatan dalam Islam, bukan berarti yang lain tidak boleh memulai salam, tetapi ini adalah bimbingan agar yang "lebih tinggi" atau "lebih sibuk" menunjukkan kerendahan hati.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Al-Isti'dzan wal-Adab, Bab "Ma Ja'a fi Salamur-Rakib 'alal-Masyi", no. 2703. Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 6232) dan Imam Muslim (no. 2160) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits riwayat At-Tirmidzi yang Anda sertakan adalah sebagai berikut:

يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي، وَالْمَاشِي عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ

Artinya: "Orang yang berkendara memberi salam kepada orang yang berjalan, orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk, dan yang sedikit memberi salam kepada yang banyak."

Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim disebutkan tambahan: "وَالصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ" (dan yang muda kepada yang tua).

Adapun dalil dari Al-Qur'an tentang perintah menyebarkan salam adalah firman Allah Ta'ala:

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

"Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini), hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya) yang itu menjadi hak kamu, salam yang diberkati lagi baik dari sisi Allah." (QS. An-Nur [24]: 61)

Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in, seperti Al-Hasan Al-Bashri yang meriwayatkan hadits ini dari Abu Hurairah, memahami bahwa hadits ini adalah petunjuk adab, bukan kewajiban mutlak. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa sunnahnya adalah yang disebutkan dalam hadits ini memulai salam, namun jika yang lain memulai lebih dahulu, maka itu pun baik dan tidak mengapa.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hikmah di balik urutan salam ini. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa salam adalah sebab timbulnya rasa cinta dan kasih sayang di antara kaum muslimin. Adapun orang yang berkendara diperintahkan memulai salam kepada pejalan kaki karena orang yang berkendara biasanya berada di posisi lebih tinggi dan lebih cepat, sehingga ia diperintahkan untuk merendahkan diri. Demikian pula orang yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, karena orang yang berjalan seakan-akan "lewat" dan lebih sibuk, sehingga ia yang memulai.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan adab yang diajarkan Nabi ﷺ agar setiap muslim saling menghormati. Orang yang sedikit jumlahnya memberi salam kepada yang banyak, karena yang sedikit adalah pihak yang "datang" dan "bergabung", sehingga ia yang memulai. Yang muda memberi salam kepada yang tua sebagai bentuk penghormatan kepada usia dan pengalaman.

Namun, para ulama juga menegaskan bahwa jika terjadi kebalikan dari urutan ini, hal itu tidaklah terlarang. Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa para sahabat saling bersalaman dan saling mendahului dalam memberi salam. Yang terpenting adalah menyebarkan salam di antara sesama muslim, karena salam adalah doa keselamatan dan tanda persaudaraan.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah bimbingan adab (irsyad), bukan kewajiban. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa jika yang berjalan memberi salam kepada yang berkendara, atau yang duduk kepada yang berjalan, maka itu tetap sah dan berpahala, hanya saja menyelisihi yang lebih utama.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bernama Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma sangat bersemangat dalam menyebarkan salam. Beliau keluar ke pasar bukan untuk berdagang atau membeli sesuatu, melainkan hanya untuk mengucapkan salam kepada orang-orang yang ditemuinya. Beliau berkata, "Aku keluar hanya untuk menyebarkan salam, dan aku memberi salam kepada siapa pun yang kulihat, baik yang tua maupun yang muda." (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa').

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami betul semangat syariat dalam menyebarkan salam. Mereka tidak menunggu siapa yang lebih dahulu, tetapi justru berlomba-lomba memulai salam karena cinta kepada sunnah Nabi ﷺ. Inilah akhlak mulia yang seharusnya kita contoh.

Kesimpulan Praktis

  1. Mulailah salam kepada yang lebih utama sesuai urutan dalam hadits: yang berkendara kepada pejalan kaki, pejalan kaki kepada yang duduk, yang sedikit kepada yang banyak, dan yang muda kepada yang tua.
  2. Jangan menunggu orang lain memulai salam — berlomba-lombalah dalam kebaikan, karena menyebarkan salam adalah sunnah yang dicintai Nabi ﷺ.
  3. Salam adalah doa dan tanda cinta — ucapkanlah dengan tulus, karena salam akan menumbuhkan kasih sayang di antara sesama muslim.
  4. Jika urutan terbalik, tidak mengapa — yang penting adalah tetap menyebarkan salam dan tidak meninggalkannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?