Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2679 tentang Larangan banyak bertanya dan membantah perintah Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah pelajaran agung tentang adab seorang muslim dalam beragama: jangan banyak bertanya tentang hal-hal yang tidak diwajibkan atau tidak perlu, karena hal itu bisa memberatkan diri sendiri dan menjadi sebab kebinasaan umat terdahulu. Kita diperintahkan untuk mengambil apa yang diperintahkan Nabi ﷺ dan meninggalkan apa yang dilarangnya, tanpa memperbanyak pertanyaan yang tidak bermanfaat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi No. 2679:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda cantumkan, dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "اتْرُكُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِذَا حَدَّثْتُكُمْ فَخُذُوا عَنِّي فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ"

Makna ringkas: "Tinggalkanlah aku selama aku meninggalkan kalian (tidak menjelaskan). Jika aku menyampaikan sesuatu kepada kalian, maka ambillah. Sesungguhnya umat sebelum kalian binasa karena banyak bertanya dan berselisih terhadap para nabi mereka."

Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

QS. Al-Ma'idah [5]: 101

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkanmu. Dan jika kamu bertanya tentang hal itu ketika Al-Qur'an diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan hal itu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun."

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung prinsip besar dalam beragama:

  1. Prinsip "Tarku" (meninggalkan) dalam hal yang tidak dijelaskan.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya meninggalkan pertanyaan tentang hal-hal yang tidak diwajibkan. Beliau berkata: "Para ulama berkata: maknanya adalah janganlah kalian membebani diri dengan bertanya tentang hal-hal yang tidak ada kewajiban untuk menanyakannya, dan tidak ada kebutuhan syar'i untuk itu."

  1. Larangan banyak bertanya yang memberatkan.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa banyak bertanya yang tercela adalah bertanya tentang hal-hal yang tidak terjadi, atau bertanya untuk mencari-cari keringanan yang tidak ada dalilnya, atau bertanya dengan maksud memperdebatkan dan membantah. Beliau menukil perkataan Al-Hasan Al-Bashri: "Termasuk tanda kebencian Allah kepada seorang hamba adalah Dia menjadikan kesibukannya pada hal-hal yang tidak bermanfaat baginya."

  1. Peringatan tentang sebab kebinasaan umat terdahulu.

Imam Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Adzim saat menafsirkan QS. Al-Ma'idah: 101 menjelaskan bahwa banyaknya pertanyaan Bani Israil kepada para nabi mereka—seperti pertanyaan tentang sapi betina yang bertele-tele—menyebabkan mereka dipersulit. Maka Allah memerintahkan umat ini untuk tidak meniru kebiasaan buruk tersebut.

  1. Penerapan dalam fiqih.

Imam Asy-Syafi'i dan para ulama ushul fiqih menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa hukum asal sesuatu yang tidak ada dalilnya adalah dimaafkan/dibiarkan (al-'afw), bukan diharamkan atau diwajibkan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba'in menjelaskan: "Selama Allah dan Rasul-Nya diam tentang suatu perkara, maka itu termasuk yang dimaafkan. Janganlah kita mempersempit diri dengan bertanya-tanya yang tidak perlu."

  1. Perbedaan antara bertanya yang terpuji dan tercela.
  • Terpuji: bertanya tentang hal yang dibutuhkan untuk beribadah, seperti bertanya tentang tata cara shalat, zakat, haji, dan perkara halal-haram yang jelas.
  • Tercela: bertanya tentang hal yang tidak terjadi, bertanya untuk memperdebatkan, atau bertanya yang hanya memberatkan diri tanpa manfaat.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa sahabat-sahabat besar sangat berhati-hati dalam bertanya kepada Nabi ﷺ. Mereka lebih memilih diam dan menunggu turunnya wahyu daripada bertanya yang tidak perlu.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika turun firman Allah tentang kewajiban haji. Maka seorang sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah haji itu setiap tahun?" Nabi ﷺ diam. Orang itu bertanya lagi, "Apakah setiap tahun?" Maka Nabi ﷺ bersabda:

"لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَوْ وَجَبَتْ لَمْ تَسْتَطِيعُوا"

"Jika aku katakan 'ya', maka wajib setiap tahun, dan jika wajib setiap tahun niscaya kalian tidak mampu."

Kemudian beliau bersabda: "Tinggalkanlah aku selama aku meninggalkan kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena banyak bertanya dan berselisih terhadap para nabi mereka." (HR. Ahmad, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Kisah ini menunjukkan betapa sayangnya Nabi ﷺ kepada umatnya. Beliau tidak ingin memberatkan umatnya dengan kewajiban yang di luar kemampuan. Maka kita pun hendaknya tidak mempersempit agama dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu.

Kesimpulan Praktis

  1. Ambillah perintah Nabi ﷺ dengan penuh ketaatan, dan tinggalkan apa yang beliau larang.
  2. Jangan banyak bertanya tentang hal-hal yang tidak terjadi atau tidak dibutuhkan, karena itu bisa memberatkan diri sendiri.
  3. Bertanyalah hanya tentang hal yang benar-benar dibutuhkan untuk beribadah dan bermuamalah dengan benar.
  4. Jauhi sikap berdebat dan berselisih dalam masalah agama yang tidak ada dalilnya, karena itulah sebab kebinasaan umat terdahulu.
  5. Ridha dengan apa yang telah dijelaskan Allah dan Rasul-Nya, dan jangan mempersempit diri dengan pertanyaan yang tidak bermanfaat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?