Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2675 tentang Pahala mengajak kebaikan dan dosa mengajak keburukan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah dalil agung tentang keutamaan menjadi pelopor kebaikan dan bahaya menjadi pelopor keburukan. Barangsiapa memulai suatu amalan baik yang kemudian diikuti orang lain, ia akan mendapat pahala amalnya sendiri plus pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, barangsiapa memulai suatu amalan buruk yang diikuti orang lain, ia akan menanggung dosanya sendiri plus dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun. Ini adalah dorongan untuk bersemangat dalam kebaikan dan peringatan keras dari memulai keburukan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Al-'Ilm, Bab "Ma Ja'a fiman Da'aa ila Hudan" (Bab Tentang Orang yang Mengajak kepada Petunjuk), no. 2675, dari sahabat Jarir bin Abdullah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Teks hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan) adalah:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا الْمَسْعُودِيُّ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنِ ابْنِ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " مَنْ سَنَّ سُنَّةَ خَيْرٍ فَاتُّبِعَ عَلَيْهَا فَلَهُ أَجْرُهُ وَمِثْلُ أُجُورِ مَنِ اتَّبَعَهُ غَيْرَ مَنْقُوصٍ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةَ شَرٍّ فَاتُّبِعَ عَلَيْهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهُ وَمِثْلُ أَوْزَارِ مَنِ اتَّبَعَهُ غَيْرَ مَنْقُوصٍ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا "

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Artinya: "Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka baginya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun." (HR. Muslim no. 2674)

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَنَحْمِلْ خَطَايَاهُمْ فِي ذَٰلِكَ الْيَوْمِ مِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ أَضَلُّوهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

"Dan sesungguhnya mereka akan memikul dosa-dosa mereka pada hari Kiamat, dan (juga) dosa-dosa orang yang mereka sesatkan tanpa pengetahuan. Ingatlah, alangkah buruknya dosa yang mereka pikul itu." (QS. An-Nahl [16]: 25)

Ayat ini menjelaskan bahwa para pemimpin kesesatan akan menanggung dosa orang-orang yang mereka sesatkan, sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar bagi orang yang memulai kebaikan dan ancaman keras bagi orang yang memulai keburukan. Beliau menegaskan bahwa pahala orang yang mengikuti tidak berkurang sedikit pun, karena ini adalah karunia Allah yang luas.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini mencakup semua bentuk kebaikan dan keburukan, baik yang bersifat umum maupun khusus, selama amalan tersebut menjadi contoh yang diikuti.

Penjelasan Rinci

Makna "سَنَّ سُنَّةً" (memulai suatu sunnah):

Para ulama menjelaskan bahwa makna "sunnah" di sini bukan hanya terbatas pada ibadah mahdhah (seperti shalat dan puasa), tetapi mencakup semua amalan baik atau buruk yang menjadi teladan dan diikuti orang lain. Ini bisa berupa:

  • Mengajarkan ilmu yang bermanfaat
  • Membangun masjid, sekolah, atau rumah sakit
  • Membuat program sosial yang bermanfaat
  • Memulai tradisi kebaikan dalam keluarga atau masyarakat
  • Sebaliknya, memulai kemaksiatan, bid'ah yang sesat, atau kebiasaan buruk

Penjelasan Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali:

Imam Ibnu Rajab dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa siapa yang menjadi sebab suatu amalan dilakukan, maka ia mendapatkan pahala amalan tersebut. Beliau mencontohkan dengan kisah seorang sahabat yang membunuh seorang musuh dalam perang, lalu Nabi ﷺ bersabda bahwa ia mendapatkan pahala orang yang membunuhnya dan pahala orang-orang yang membunuh setelahnya sampai hari kiamat.

Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:

Beliau menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan pentingnya niat dan inisiatif dalam kebaikan. Seseorang yang memulai kebaikan akan mendapatkan dua pahala: pahala amalnya sendiri dan pahala orang yang mengikutinya. Ini adalah bentuk keadilan Allah yang Maha Luas karunia-Nya. Sebaliknya, orang yang memulai keburukan akan menanggung dua dosa: dosa amalnya sendiri dan dosa orang yang mengikutinya.

Penerapan dalam kehidupan:

  1. Dalam dakwah dan pendidikan: Seorang guru atau da'i yang mengajarkan kebaikan akan terus mendapatkan pahala selama murid-muridnya mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain.
  2. Dalam amal sosial: Orang yang memulai program kebaikan seperti membangun sumur, menyantuni anak yatim, atau membuka lembaga pendidikan akan terus mengalir pahalanya.
  3. Peringatan dari keburukan: Orang yang membuat konten negatif, menyebarkan hoaks, atau memulai tradisi maksiat akan terus menanggung dosa selama orang-orang mengikutinya.

Perbedaan pendapat yang perlu diketahui:

Para ulama sepakat tentang makna umum hadits ini. Namun, ada catatan penting dari Imam Asy-Syafi'i dan ulama lainnya bahwa "memulai sunnah baik" tidak berarti membuat bid'ah baru dalam ibadah yang tidak dicontohkan Nabi ﷺ. Yang dimaksud adalah menghidupkan kembali sunnah yang telah ditinggalkan atau memulai amalan yang sesuai dengan kaidah syariat dan tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Hadits. Adapun membuat amalan ibadah baru yang tidak ada dasarnya adalah bid'ah yang tercela, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami ini yang bukan darinya, maka ia tertolak." (HR. Bukhari dan Muslim)

Story Telling

Kisah Jarir bin Abdullah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu:

Jarir bin Abdullah adalah seorang sahabat yang tampan dan mulia. Suatu hari, beliau berkata kepada Nabi ﷺ: "Wahai Rasulullah, aku berjanji kepadamu untuk selalu menasihati setiap muslim." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Wahai Jarir, jika engkau menepati janjimu, maka itu adalah kebaikan yang besar."

Dalam riwayat lain, Jarir bin Abdullah menceritakan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa memulai sunnah yang baik..." (hadits yang kita bahas). Para ulama menyebutkan bahwa Jarir adalah sahabat yang dikenal dengan akhlak mulia dan selalu menjadi teladan dalam kebaikan. Beliau termasuk sahabat yang paling akhir masuk Islam namun paling baik komitmennya.

Kisah tentang pahala yang terus mengalir:

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menyebutkan bahwa di antara bentuk "sunnah hasanah" adalah ketika seseorang menghidupkan kembali sunnah yang telah ditinggalkan. Beliau mencontohkan kisah seorang sahabat yang shalat berjamaah sendirian di malam hari, lalu orang-orang melihatnya dan ikut shalat di belakangnya. Ketika Nabi ﷺ mengetahui hal itu, beliau bersabda kepada sahabat tersebut: "Engkau telah melakukan sesuatu yang baik. Teruskanlah." Ini menunjukkan bahwa memulai kebaikan yang diikuti orang lain adalah amalan yang sangat dicintai Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersemangatlah menjadi pelopor kebaikan — jangan menunggu orang lain memulai. Jika Anda melihat kebaikan yang bisa dimulai, lakukanlah dengan ikhlas karena Allah.
  2. Niatkan setiap amal untuk menjadi teladan — ketika Anda berbuat baik, niatkan agar kebaikan itu menginspirasi orang lain untuk berbuat serupa.
  3. Hati-hati dari memulai keburukan — jangan pernah meremehkan dosa kecil atau kebiasaan buruk, karena jika orang lain meniru Anda, dosanya akan terus mengalir kepada Anda.
  4. Perbanyak amal jariyah — seperti mengajarkan ilmu, membangun fasilitas ibadah, atau menulis buku bermanfaat, karena pahalanya terus mengalir selama dimanfaatkan orang lain.
  5. Jangan pernah berhenti berbuat baik — meskipun Anda merasa amal Anda kecil, bisa jadi Allah menjadikannya besar manfaatnya bagi banyak orang.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?