Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2674 tentang Bab Apa yang Dikatakan tentang Siapa yang Mengajak kepada Petunjuk

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa siapa pun yang mengajak orang lain kepada kebaikan (petunjuk) akan mendapat pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, siapa pun yang mengajak kepada kesesatan akan menanggung dosa yang sama dengan dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun. Ini adalah dorongan besar untuk berdakwah dan peringatan keras agar tidak menjadi sumber kesesatan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an

QS. Ali Imran [3]: 104

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ayat ini menegaskan kewajiban berdakwah dan mengajak kepada kebaikan, yang sejalan dengan hadits di atas.

Hadits

Hadits riwayat At-Tirmidzi no. 2674, juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2674) dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu. Teks lengkapnya sebagaimana tercantum dalam soal. Hadits ini dinilai hasan shahih oleh At-Tirmidzi.

Kaitan dengan Ulama

  • Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim (jilid 13, hlm. 44-45) menjelaskan bahwa pahala orang yang mengajak kepada petunjuk tidak berkurang karena pahala pengikut adalah pemberian Allah yang berlipat ganda tanpa saling mengurangi.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (syarh hadits ke-9) merinci bahwa “mengajak kepada petunjuk” mencakup semua bentuk kebaikan, baik ilmu, ibadah, maupun akhlak.
  • Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bari (jilid 1, hlm. 160) menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan besarnya keutamaan berdakwah dan bahayanya mengajak kepada kesesatan.

Penjelasan Rinci

Makna Hadits

Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa siapa pun yang menjadi sebab seseorang mengikuti petunjuk (hidayah), baik dengan mengajarkan ilmu, menasihati, atau menjadi teladan, maka ia akan memperoleh pahala yang sama persis dengan setiap pahala yang diraih oleh orang yang mengikutinya. Allah tidak mengurangi pahala masing-masing, karena ini adalah karunia-Nya yang Maha Luas.

Sebaliknya, siapa pun yang mengajak kepada kesesatan – baik dengan ucapan, perbuatan, atau menyebarkan bid’ah dan kemaksiatan – maka ia menanggung dosa yang sama dengan setiap dosa yang dilakukan oleh pengikutnya. Ini bukan berarti dosa mereka berkurang, tetapi beban dosa si pengajak bertambah sebanding dengan dosa setiap orang yang terpengaruh.

Pemahaman Ulama

  • Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini berlaku umum untuk setiap orang yang menjadi sabab (sebab) kebaikan atau keburukan. Ia mencontohkan: “Jika seseorang mengajarkan satu ayat Al-Qur’an dan orang lain mengamalkannya, maka pengajar mendapat pahala seperti pahala pengamal.”
  • Ibnu Rajab menambahkan bahwa mengajak kepada petunjuk tidak harus dengan lisan; bisa juga dengan menulis buku, memberikan contoh, atau mendukung kebaikan. Sedangkan mengajak kepada kesesatan bisa melalui ucapan, tulisan, atau bahkan diam terhadap kemungkaran yang seharusnya dicegah.
  • Ibnu Hajar menekankan bahwa keutamaan ini khusus untuk orang yang ikhlas dan benar-benar mengajak kepada petunjuk yang sesuai Al-Qur’an dan Sunnah, bukan kepada hawa nafsu atau bid’ah. Jika seseorang mengajak kepada kebid’ahan yang disangka baik, ia tetap mendapat dosa kesesatan.

Perbedaan Ringan dalam Penerapan

Ada ulama yang membedakan antara da’i (penyeru) dan mu’allim (pengajar). Namun mayoritas, termasuk Imam Ahmad dan asy-Syafi’i, menyamakan keduanya karena sama-sama menjadi sebab hidayah. Yang terpenting adalah niat dan objek dakwah sesuai syariat.

Hikmah

Hadits ini memotivasi umat Islam untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan menjauhi perbuatan yang bisa menyesatkan orang lain. Pahala yang terus mengalir setelah kematian (seperti ilmu yang bermanfaat) juga termasuk dalam “mengajak kepada petunjuk” – sebagaimana disebut dalam hadits lain tentang amal jariyah.

Story Telling

Kisah Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu

Perawi hadits ini, Abu Hurairah, dikenal sangat semangat dalam menyebarkan ilmu. Beliau meriwayatkan ribuan hadits dan selalu mengajak orang untuk mendengarkan dan mengamalkannya. Suatu ketika, seorang sahabat bertanya, “Wahai Abu Hurairah, engkau tidak letih berdakwah?” Beliau menjawab, “Aku hanya ingin menjadi orang yang disebut Nabi ﷺ: ‘Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.’” (Riwayat Ahmad, sanad hasan).

Semangat Abu Hurairah ini menunjukkan betapa besar harapan pahala dari dakwah, sehingga beliau terus bersabar dan istiqomah.

Hikmah: Ilmu yang disebarkan dengan ikhlas akan menjadi pahala abadi, baik di dunia maupun akhirat.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak dakwah dan ajakan kepada kebaikan, meskipun hanya satu ayat atau satu nasihat.
  2. Hati-hati dengan ucapan dan perbuatan, karena setiap ajakan – disengaja atau tidak – bisa menjadi dosa jika mengarah pada kesesatan.
  3. Niatkan setiap ilmu dan pengaruh sebagai amal jariyah, agar pahala terus mengalir.
  4. Jika melihat kemungkaran, cegah sesuai kemampuan, agar tidak termasuk orang yang diam saat kesesatan menyebar.
  5. Jangan meremehkan dosa mengajak kepada keburukan, meskipun hanya satu orang yang terpengaruh.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.