Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ agar kita tidak bersikap malas dan menolak sunnah hanya karena merasa cukup dengan Al-Qur'an saja. Jika ada perintah atau larangan dari Nabi ﷺ yang sampai kepada kita, kita wajib mengikuti dan mematuhinya, bukan malah berkata, "Kami hanya mengikuti apa yang ada di dalam Al-Qur'an." Sikap seperti ini adalah pintu kesesatan dan bentuk meninggalkan sunnah Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Ilmu, Bab Apa yang Dilarang untuk Dikatakan Ketika Hadis Nabi ﷺ, dari sahabat Abu Rafi' radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan."
Teks hadits:
لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ يَأْتِيهِ أَمْرٌ مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ أَوْ نَهَيْتُ عَنْهُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي مَا وَجَدْنَا فِي كِتَابِ اللَّهِ اتَّبَعْنَاهُ
Terjemahan: "Janganlah aku mendapati salah seorang di antara kalian bersandar di sofa ketika suatu perintah yang aku perintahkan, atau larangan dariku datang kepadanya, dan dia berkata: 'Saya tidak tahu. Apa yang kami temukan dalam Kitab Allah, kami mengikutinya.'"
Dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar kewajiban mengikuti sunnah Nabi ﷺ:
QS. Al-Hasyr [59]: 7
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Terjemahan: "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya."
QS. An-Nur [24]: 63
لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُم بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Terjemahan: "Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian yang lain. Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya). Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih."
Penjelasan Rinci
Hadits ini menjelaskan tentang bahaya sikap seseorang yang merasa cukup dengan Al-Qur'an saja dan menolak hadits Nabi ﷺ. Nabi ﷺ menggambarkan orang seperti ini sebagai orang yang "bersandar di sofa" (mutakkian 'ala arikatihi), yaitu gambaran orang yang malas, merasa nyaman, dan tidak mau bersusah payah untuk menuntut ilmu dan mengamalkan sunnah.
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil wajibnya mengikuti sunnah Nabi ﷺ dan haramnya menolak hadits dengan alasan hanya menerima Al-Qur'an. Beliau menegaskan bahwa Al-Qur'an sendiri memerintahkan kita untuk taat kepada Rasulullah ﷺ, sehingga menolak sunnah berarti menolak Al-Qur'an juga.
Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya ketika menjelaskan QS. Al-Hasyr [59]: 7 menyebutkan bahwa ayat ini mencakup perintah untuk mengikuti semua yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ, baik berupa Al-Qur'an maupun sunnah. Beliau juga menyebutkan bahwa para ulama sepakat bahwa sunnah Nabi ﷺ adalah wahyu dari Allah yang wajib diikuti.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang kewajiban mengikuti sunnah sangat banyak, dan sikap menolak sunnah dengan alasan "hanya Al-Qur'an" adalah pendapat yang batil dan sesat. Beliau menyebutkan bahwa orang yang berkata demikian telah keluar dari jalan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa sunnah Nabi ﷺ adalah hujjah (dalil) yang wajib diikuti, sama seperti Al-Qur'an. Beliau juga menyebutkan bahwa orang yang menolak sunnah dengan alasan hanya mengikuti Al-Qur'an telah melakukan kesalahan besar, karena Al-Qur'an sendiri memerintahkan untuk taat kepada Rasul.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa ayat "وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ" mencakup semua yang datang dari Nabi ﷺ, baik berupa perintah maupun larangan, baik yang ada di Al-Qur'an maupun yang ada di sunnah. Beliau menegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara keduanya dalam hal kewajiban mengikuti.
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam kitabnya tentang ilmu hadits menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu hadits pokok dalam bab kewajiban mengikuti sunnah. Beliau menyebutkan bahwa hadits ini hasan dan memiliki banyak syawahid (penguat) yang menguatkan maknanya.
Perlu dipahami bahwa hadits ini tidak berarti kita mengabaikan Al-Qur'an. Justru sebaliknya, Al-Qur'an adalah sumber utama, dan sunnah adalah penjelas Al-Qur'an. Imam asy-Syafi'i rahimahullah dalam kitab Ar-Risalah menjelaskan bahwa sunnah Nabi ﷺ adalah penjelas Al-Qur'an, dan tidak mungkin seseorang memahami Al-Qur'an dengan benar tanpa merujuk kepada sunnah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang berkata, "Kami hanya mengikuti Al-Qur'an dan tidak mengikuti hadits." Beliau menjawab dengan tegas bahwa orang seperti ini telah tersesat, karena Al-Qur'an sendiri memerintahkan untuk taat kepada Rasulullah ﷺ. Beliau juga menyebutkan bahwa jika seseorang hanya mengikuti Al-Qur'an tanpa sunnah, maka ia tidak akan tahu bagaimana cara shalat, berpuasa, dan berhaji dengan benar, karena semua itu dijelaskan dalam sunnah.
Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata, "Ilmu itu adalah apa yang datang dari Nabi ﷺ, dan apa yang tidak datang dari Nabi ﷺ bukanlah ilmu." Beliau juga menegaskan bahwa siapa yang meninggalkan sunnah dengan alasan hanya mengikuti Al-Qur'an, maka ia telah meninggalkan Al-Qur'an itu sendiri.
Kesimpulan Praktis
- Wajib bagi setiap Muslim untuk mengikuti sunnah Nabi ﷺ, baik berupa perintah maupun larangan.
- Tidak boleh menolak hadits Nabi ﷺ dengan alasan hanya mengikuti Al-Qur'an, karena Al-Qur'an sendiri memerintahkan untuk taat kepada Rasulullah ﷺ.
- Hendaknya kita bersemangat menuntut ilmu hadits dan sunnah, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
- Sikap malas dan merasa cukup dengan Al-Qur'an saja adalah pintu kesesatan yang harus kita jauhi.
- Kita harus mengikuti pemahaman para ulama Ahlus Sunnah dalam memahami Al-Qur'an dan sunnah, bukan pemahaman sendiri yang mengabaikan sunnah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.