Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2653 tentang Ilmu diangkat dengan wafatnya ulama, bukan hilangnya Al-Qur'an

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang salah satu tanda dekatnya hari kiamat, yaitu dicabutnya ilmu dari tengah-tengah manusia. Penting untuk dipahami, yang dicabut bukanlah keberadaan mushaf Al-Qur'an atau hafalan, melainkan keberkahan, manfaat, dan pengamalan dari ilmu tersebut. Hadits ini juga mengajarkan bahwa memiliki kitab suci (seperti Taurat dan Injil bagi Ahli Kitab) tidaklah cukup jika tidak diiringi dengan pemahaman yang benar dan pengamalan yang ikhlas. Ilmu pertama yang diangkat adalah kekhusyukan, sebagaimana ditegaskan oleh sahabat 'Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu 'anhu.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat At-Tirmidzi (No. 2653):

Teks hadits yang Anda berikan sudah lengkap dengan sanad dan matannya. Hadits ini dinilai hasan gharib oleh Imam At-Tirmidzi. Dalam riwayat lain disebutkan dari sahabat 'Auf bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." (QS. Al-Jumu'ah [62]: 5)

Ayat ini sangat relevan karena Nabi ﷺ dalam hadits di atas menyerupakan orang yang memiliki Al-Qur'an tetapi tidak mengambil manfaat ilmunya dengan Ahli Kitab yang memiliki Taurat dan Injil namun tidak mengamalkannya.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah perumpamaan bagi Bani Israil yang diberi kitab Taurat tetapi tidak mengamalkannya. Mereka seperti keledai yang membawa kitab, tidak mendapatkan manfaat dari apa yang dibawanya. Ini juga menjadi pelajaran bagi umat Islam agar tidak serupa dengan mereka.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan. Jika tidak diamalkan, maka ia seperti beban yang dibawa, tidak memberi manfaat bagi pemiliknya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Makna "Ilmu Dicabut"

Para ulama menjelaskan bahwa pencabutan ilmu bukan berarti mushaf Al-Qur'an hilang atau diangkat dari bumi. Yang dimaksud adalah dicabutnya manfaat ilmu dari hati para ulama dan manusia. Imam Al-Khattabi (dalam kitab Ma'alim As-Sunan) menjelaskan bahwa yang dicabut adalah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang diamalkan dan diwariskan. Adapun keberadaan teks-teks kitab tetap ada, tetapi tidak ada lagi yang mengambil manfaat darinya.

2. Jawaban Nabi ﷺ kepada Ziyad bin Labid

Ziyad bin Labid radhiyallahu 'anhu heran, bagaimana mungkin ilmu dicabut sementara Al-Qur'an masih dibaca dan diajarkan? Maka Nabi ﷺ menjawab dengan tegas: "Taurat dan Injil ada pada orang Yahudi dan Nasrani, tetapi apa gunanya bagi mereka?" Ini adalah pelajaran yang sangat dalam. Keberadaan kitab tidak menjamin keberadaan ilmu yang bermanfaat. Yang menjadi tolok ukur adalah pemahaman yang benar dan pengamalan yang tulus.

3. Ilmu Pertama yang Diangkat: Kekhusyukan

'Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu 'anhu menjelaskan bahwa ilmu pertama yang diangkat dari manusia adalah kekhusyukan. Ini menunjukkan bahwa kekhusyukan adalah bagian dari ilmu yang diamalkan, bukan sekadar pengetahuan teoretis. Ketika kekhusyukan hilang, maka shalat menjadi gerakan tanpa ruh, dan ibadah menjadi ritual tanpa penghayatan.

4. Pelajaran dari Sahabat Abu Darda radhiyallahu 'anhu

Abu Darda radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang sangat memahami hakikat ilmu. Beliau menyaksikan langsung sabda Nabi ﷺ dan menyampaikannya kepada generasi setelahnya. Ini menunjukkan pentingnya menyampaikan ilmu dan tidak menyembunyikannya.

5. Penjelasan Ulama tentang Hadits Ini

  • Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib dan menegaskan bahwa Mu'awiyah bin Shalih adalah perawi yang tsiqah (terpercaya) menurut ahli hadits.
  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa pencabutan ilmu terjadi dengan wafatnya para ulama. Ini sesuai dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma bahwa Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari dada manusia, tetapi dengan mewafatkan para ulama.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hilangnya ilmu adalah hilangnya para pembawanya (ulama), sehingga manusia mengambil pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh yang berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Imam Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah, seorang ulama besar dari kalangan tabi'ut tabi'in, sangat memperhatikan masalah kekhusyukan dan keikhlasan. Beliau berkata: "Ilmu itu untuk diamalkan. Jika engkau tidak mengamalkan ilmu yang engkau ketahui, maka engkau akan ditimpa musibah yang lebih besar, yaitu hilangnya ilmu tersebut."

Beliau juga pernah berkata: "Seorang alim (berilmu) akan terus menjadi alim selama ia mengamalkan ilmunya. Jika ia tidak mengamalkannya, maka ia termasuk orang yang merugi."

Kisah ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memahami bahwa ilmu bukan sekadar hafalan atau pengetahuan, tetapi harus diamalkan. Kekhusyukan adalah buah dari ilmu yang diamalkan, dan ketika manusia meninggalkan pengamalan, maka kekhusyukan pun hilang.

Kesimpulan Praktis

  1. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan. Memiliki banyak hafalan atau kitab tidak menjamin kebaikan jika tidak diiringi pengamalan.
  2. Jangan berbangga dengan banyaknya ilmu tanpa amal. Sebagaimana Ahli Kitab memiliki Taurat dan Injil tetapi tidak mengambil manfaat darinya.
  3. Jaga kekhusyukan dalam ibadah. Kekhusyukan adalah ilmu pertama yang diangkat dari manusia, maka kita harus berusaha menjaganya dengan mempelajari makna ibadah dan menghadirkan hati.
  4. Bergabunglah dengan majelis ilmu dan para ulama. Selama masih ada ulama yang mengajarkan ilmu dengan ikhlas, maka ilmu masih ada di tengah manusia.
  5. Jangan menunda amal. Setiap ilmu yang kita pelajari harus segera diamalkan, sekecil apa pun itu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?