Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung dan penting, yang menjelaskan tentang cara Allah mencabut ilmu dari muka bumi. Ilmu tidak dicabut langsung dari hati manusia, melainkan dengan mewafatkan para ulama. Ketika para ulama telah tiada, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin dan rujukan. Mereka ini berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan orang lain. Ini adalah tanda dekatnya hari kiamat dan hilangnya ilmu.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya, Kitab Ilmu, Bab "Apa yang Dikatakan tentang Hilangnya Ilmu", nomor 2652. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat yang sama, Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu.
Teks Hadits (dari riwayat At-Tirmidzi):
حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ الْهَمْدَانِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا "
Terjemahan: Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan cara mencabutnya dari manusia, tetapi Dia mencabut ilmu dengan mencabut (mewafatkan) para ulama, hingga apabila tidak tersisa seorang ulama pun, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan."
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan (tafaqquh) tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga diri?" (QS. At-Taubah [9]: 122)
Ayat ini menunjukkan pentingnya keberadaan ulama yang memahami agama untuk mengajarkan dan memperingatkan umat. Jika mereka tiada, maka umat akan kehilangan rujukan yang benar.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung kabar penting tentang masa depan umat. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "ilmu" di sini adalah ilmu syar'i yang bermanfaat, yaitu ilmu Al-Qur'an dan As-Sunnah. Allah mencabutnya bukan dengan menghilangkan dari mushaf atau dari hafalan manusia secara langsung, tetapi dengan mewafatkan para ulama pewaris para Nabi.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu tanda kenabian, karena apa yang dikabarkan Rasulullah ﷺ benar-benar terjadi. Seiring berjalannya waktu, jumlah ulama semakin sedikit, dan yang tersisa hanyalah orang-orang yang mengaku berilmu tetapi tidak memiliki pemahaman yang benar.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa bahaya terbesar adalah ketika orang-orang bodoh diberi wewenang untuk berfatwa. Mereka tidak hanya sesat, tetapi juga menyesatkan orang lain. Ini adalah fitnah yang sangat besar.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam Shahih-nya, dan beliau menempatkannya dalam Kitab Ilmu, yang menunjukkan bahwa hilangnya ilmu adalah kebalikan dari menuntut ilmu. Selama masih ada ulama yang benar-benar berilmu, maka ilmu masih ada. Namun, ketika ulama telah tiada, maka manusia akan kebingungan dan mudah tersesat.
Hadits ini juga mengajarkan kepada kita tentang pentingnya menghormati ulama, mengambil ilmu dari mereka, dan tidak tergesa-gesa berfatwa tanpa ilmu. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikenal sangat hati-hati dalam berfatwa. Beliau sering berkata, "Aku tidak tahu" untuk hal-hal yang tidak beliau ketahui, dan ini adalah teladan yang sangat baik bagi kita.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Malik bin Anas rahimahullah sangat berhati-hati dalam berfatwa. Beliau tidak mudah menjawab pertanyaan, dan sering kali berkata, "Aku tidak tahu." Suatu ketika, ada seorang lelaki yang datang dari negeri yang jauh untuk bertanya kepadanya. Setelah lelaki itu menempuh perjalanan yang sangat panjang, ia bertanya kepada Imam Malik tentang suatu masalah. Imam Malik menjawab, "Aku tidak tahu." Lelaki itu terkejut dan berkata, "Lalu kepada siapa aku harus bertanya?" Imam Malik menjawab, "Tanyakanlah kepada ulama yang lebih berilmu dariku." Lelaki itu berkata, "Siapa yang lebih berilmu darimu?" Imam Malik berkata, "Aku tidak tahu." Lelaki itu berkata, "Engkau tidak tahu, dan engkau tidak tahu siapa yang lebih berilmu darimu?" Imam Malik menjawab, "Ya, aku tidak tahu." Lelaki itu pun pergi dengan heran.
Kisah ini menunjukkan betapa hati-hatinya para ulama salaf dalam berfatwa. Mereka lebih memilih berkata "tidak tahu" daripada berfatwa tanpa ilmu, karena mereka takut termasuk dalam golongan yang disebut dalam hadits ini, yaitu orang-orang yang berfatwa tanpa ilmu sehingga sesat dan menyesatkan.
Kesimpulan Praktis
- Ilmu adalah warisan para Nabi, dan ulama adalah pewarisnya. Selama ulama masih ada, ilmu masih terjaga.
- Kita wajib mengambil ilmu dari ulama yang benar-benar berilmu, bukan dari orang-orang yang hanya mengaku berilmu atau dari media sosial tanpa sanad yang jelas.
- Jangan tergesa-gesa berfatwa. Jika kita tidak tahu, katakan "tidak tahu" atau rujuklah kepada ulama yang lebih berilmu.
- Hilangnya ilmu adalah tanda kiamat. Oleh karena itu, kita harus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar'i dan mengamalkannya.
- Jadilah penuntut ilmu yang tawadhu', tidak sombong dengan ilmu yang sedikit, dan selalu menghormati para ulama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.