Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2649 tentang Larangan menyembunyikan ilmu yang diketahui

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras bagi siapa saja yang ditanya tentang ilmu agama yang ia ketahui, lalu ia sengaja menyembunyikannya. Ancaman baginya adalah akan dikendalikan dengan kendali dari api neraka pada hari kiamat. Ini menunjukkan betapa besarnya dosa menyembunyikan ilmu yang bermanfaat bagi umat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab, mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat oleh semua makhluk yang dapat melaknat." (QS. Al-Baqarah [2]: 159)

Hadits:

Hadits yang ditanyakan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Ilmu, Bab: Apa yang Dikatakan tentang Menyembunyikan Ilmu, nomor 2649. Beliau menilai hadits ini hasan (baik). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad.

Kaitan dengan Ulama:

Imam Al-Bukhari (w. 256 H) dalam Shahih-nya, Kitab Ilmu, Bab: Dosa Orang yang Menyembunyikan Ilmu, membawakan ayat di atas (QS. Al-Baqarah: 159) sebagai penguat larangan ini. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan ini berlaku bagi ilmu yang wajib disebarkan, bukan ilmu yang bersifat pribadi atau ada udzur syar'i.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan ancaman yang sangat serius bagi seorang yang berilmu. Ancaman "dikendalikan dengan kendali dari api" adalah gambaran azab yang pedih dan menghinakan di hari kiamat.

Makna "Ilmu" dalam Hadits:

Para ulama, seperti yang dijelaskan oleh Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim, menjelaskan bahwa ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar'i yang bermanfaat, terutama yang berkaitan dengan kewajiban agama yang harus diketahui oleh seorang muslim. Jika seseorang ditanya tentang suatu hukum yang ia ketahui, dan ia sengaja menyembunyikannya tanpa alasan yang dibenarkan, maka ia terancam dengan dosa besar ini.

Siapa yang Terkena Ancaman Ini?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa ancaman ini berlaku jika:

  1. Orang yang bertanya benar-benar membutuhkan ilmu tersebut.
  2. Ilmu tersebut memang diketahui oleh orang yang ditanya.
  3. Tidak ada alasan syar'i untuk menyembunyikannya, seperti takut difitnah atau ilmu tersebut akan disalahgunakan untuk kemungkaran yang lebih besar.

Pengecualian:

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) dan para ulama lainnya menyebutkan beberapa pengecualian, di antaranya:

  • Jika ilmu tersebut akan digunakan untuk merusak agama atau menimbulkan fitnah.
  • Jika orang yang bertanya adalah seorang yang fasik atau ahli bid'ah yang jelas-jelas akan menggunakan ilmu itu untuk membela kebatilannya.
  • Jika ilmu tersebut adalah ilmu tentang aib seseorang yang tidak boleh disebarkan.

Hikmah Larangan:

Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam Miftah Daris Sa'adah mengatakan bahwa menyembunyikan ilmu adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah ilmu yang Allah berikan. Ilmu adalah warisan para nabi, dan menyembunyikannya berarti memutus rantai pewarisan risalah kenabian.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

> "Siapa yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan kendali dari api." (Riwayat Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu'allaq)

Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat sangat takut dengan ancaman ini. Mereka adalah generasi yang paling semangat dalam menyebarkan ilmu. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Beliau tidak pernah menyembunyikan ilmu yang beliau dengar dari Rasulullah ﷺ, meskipun beliau harus menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengajarkannya kepada orang lain.

Kesimpulan Praktis

  1. Niatkan Ilmu untuk Dakwah: Jadikan setiap ilmu yang kita pelajari sebagai bekal untuk berbagi dan mengajak kepada kebaikan.
  2. Jangan Pelit Ilmu: Jika ada saudara kita yang bertanya tentang agama, jawablah dengan ikhlas dan penuh hikmah, sesuai kemampuan kita.
  3. Gunakan Pertimbangan: Jika ada kekhawatiran ilmu akan disalahgunakan, maka tahanlah dan berikan penjelasan yang lebih bijak.
  4. Jangan Takut Dicap Kurang Ilmu: Jika tidak tahu, katakan "Allahu a'lam" atau "saya tidak tahu". Ini lebih baik daripada menyembunyikan ilmu yang kita tahu atau malah menjawab tanpa ilmu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.