Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini memberitakan bahwa umat Islam akan mengalami perpecahan menjadi banyak golongan, menyerupai Bani Israil. Namun yang selamat hanyalah satu golongan, yaitu yang mengikuti jalan Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Jalan itu bukan sekadar nama atau kelompok, melainkan ittiba' (mengikuti) Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman sahabat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan At-Tirmidzi (no. 2641) dari Abdullah bin Amr bin al-Ash رضي الله عنهما, dan At-Tirmidzi menyebutnya "hasan gharib". Hadits semakna juga diriwayatkan Abu Dawud dan lainnya dengan jalur lain, sehingga para ulama menilainya shahih secara makna — di antaranya Al-Albani dalam kitab-kitab takhrijnya.
Sabda Nabi ﷺ:
«مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي»
"Yaitu apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya."
Ayat yang menjadi landasan jalan yang selamat:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
QS. An-Nisa' [4]: 115 — "Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam; dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali."
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa "sabilil mu'minin" (jalan orang-orang mukmin) adalah jalan para sahabat Nabi ﷺ, dan ayat ini menjadi dalil tegas bahwa menyelisihi jalan mereka adalah kesesatan.
Penjelasan Rinci
1. Makna "menyerupai Bani Israil langkah demi langkah."
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa sebagian umat ini akan meniru perilaku Bani Israil, bahkan sampai pada kemungkaran yang paling keji. Ini adalah berita gaib yang terbukti terjadi, sekaligus peringatan agar kita tidak menempuh jalan itu. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menegaskan bahwa hadits-hadits semacam ini adalah peringatan (tahdzir) dari tasyabbuh (meniru) ahli kitab dalam perkara agama maupun adat yang menjadi ciri khas mereka.
2. Makna "tujuh puluh tiga golongan."
Angka ini menunjukkan banyaknya kelompok, bukan pembatasan hitungan secara matematis. Yang penting dipahami: perpecahan itu terjadi dalam perkara ushul (pokok agama) maupun furu' (cabang), dan tidak semua perbedaan tercela — perbedaan dalam masalah ijtihadiyah yang dibolehkan bukanlah perpecahan yang diancam neraka. Yang tercela adalah perpecahan dalam pokok agama dan mengikuti hawa nafsu.
3. Makna "semua di neraka kecuali satu."
Ini adalah ancaman keras bagi golongan yang menyimpang dari jalan Nabi ﷺ dan sahabat. Al-Albani dan ulama lain menjelaskan bahwa ancaman ini berlaku bagi kelompok-kelompok yang menyelisihi pokok agama; adapun individu dari kelompok mana pun yang mengikuti kebenaran, maka keselamatan bergantung pada ittiba', bukan pada label kelompok.
4. Makna "apa yang aku dan para sahabatku jalani."
Inilah inti jawaban Nabi ﷺ. Jalan yang selamat adalah:
- Mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah,
- Dengan pemahaman para sahabat رضي الله عنهم,
- Serta menjauhi bid'ah dalam agama.
Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa dan Ibn Qayyim dalam Ighatsat al-Lahfan menegaskan bahwa Ahlus Sunnah adalah orang yang berpegang pada sunnah dan ijma' sahabat, serta tidak menyelisihi mereka dalam ushuluddin. As-Sa'di dalam kitab-kitabnya juga menekankan bahwa keselamatan ada pada ilmu yang bermanfaat dan amal shalih yang sesuai tuntunan.
5. Perbedaan pendapat di antara ulama daftar.
Sebagian ulama memaknai "satu golongan" sebagai kelompok ahlul hadits/atsar (sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain), sebagian memaknai sebagai orang-orang yang berpegang pada sunnah secara individu. Yang paling kuat — sesuai zhahir hadits — adalah makna ittiba' kepada Nabi ﷺ dan sahabat, bukan sekadar nama kelompok. Ini sebagaimana ditegaskan Ibn Rajab dan Ibn Qayyim.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika hadits ini disampaikan, para sahabat langsung bertanya dengan penuh perhatian: "Siapa golongan itu, ya Rasulullah?" — bukan bertanya tentang jumlah atau nama kelompok, tetapi tentang jalan keselamatan. Nabi ﷺ pun menjawab dengan jawaban yang sangat ringkas dan padat: "Apa yang aku dan para sahabatku jalani." Dari sini kita belajar adab salaf: ketika mendengar ancaman, mereka bertanya "bagaimana selamatnya?", bukan sibuk menuduh kelompok lain. Al-Hasan al-Bashri dan para tabi'in dikenal sangat berhati-hati dalam masalah ini, selalu mengembalikan perkara kepada sunnah dan ijma' sahabat.
Kesimpulan Praktis
- Pegang Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman sahabat — ini inti keselamatan.
- Jauhi bid'ah dalam ibadah dan keyakinan, karena bid'ah adalah pintu perpecahan.
- Jangan sibuk melabeli kelompok lain, tetapi periksa diri: apakah amal kita sesuai tuntunan Nabi ﷺ?
- Berpegang pada ijma' sahabat dan rujuk kepada ulama Ahlus Sunnah yang terpercaya ketika ada masalah.
- Berdoa agar dijauhkan dari hawa nafsu dan diberikan istiqamah di atas sunnah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.