Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2627 tentang Definisi Muslim dan Mukmin sejati

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa keislaman seseorang yang benar akan tampak pada sikapnya yang tidak menyakiti muslim lain, baik lewat ucapan (lisan) maupun perbuatan (tangan). Sedangkan keimanan yang benar melahirkan sifat amanah, sehingga orang lain merasa aman atas darah dan harta mereka. Jadi, iman bukan sekadar pengakuan di hati, tetapi harus dibuktikan dengan akhlak yang baik.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Iman, Bab Apa yang Dikatakan Bahwa Seorang Muslim Adalah yang Selamat dari Lisan dan Tangan, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih."

Teks hadits:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ

Terjemahan: "Seorang Muslim adalah orang yang selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya (muslim lainnya), dan seorang Mukmin adalah orang yang dipercaya oleh orang-orang atas darah dan harta mereka."

Hadits ini juga memiliki penguat dari Jabir, Abu Musa, dan Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhum.

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Hujurat [49]: 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Terjemahan ringkas: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum lain... janganlah kamu saling mencela dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk..."

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai larangan menyakiti sesama mukmin dengan lisan, merendahkan, mencela, atau memanggil dengan julukan buruk. Ini sejalan dengan hadits di atas.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung dua tingkatan: Islam dan Iman.

Pertama, "Seorang Muslim adalah orang yang selamat dari lisan dan tangannya." Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa maknanya bukanlah definisi hakiki Islam, melainkan penekanan bahwa ciri khas seorang muslim yang sempurna adalah tidak menyakiti muslim lain. Beliau menyebutkan bahwa lisan disebut lebih dahulu karena bahayanya lebih besar dan lebih sering terjadi.

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penyebutan lisan sebelum tangan menunjukkan bahwa kezaliman lisan lebih luas cakupannya, karena dengan lisan orang bisa mencela, menggunjing, mengadu domba, dan memfitnah, sedangkan tangan terbatas pada perbuatan fisik.

Kedua, "Seorang Mukmin adalah orang yang dipercaya oleh orang-orang atas darah dan harta mereka." Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa iman yang sempurna melahirkan rasa aman bagi orang lain, bukan hanya sesama muslim, tetapi juga orang lain secara umum. Karena seorang mukmin sejati tidak akan mengkhianati amanah, tidak menumpahkan darah tanpa hak, dan tidak mengambil harta orang lain secara zalim.

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa iman itu bukan hanya keyakinan hati, tetapi harus dibuktikan dengan amal anggota badan. Lisan yang baik dan tangan yang tidak menyakiti adalah buah dari iman yang benar.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa keselamatan orang lain dari gangguan kita adalah tanda kesempurnaan iman. Sebaliknya, orang yang lisannya suka menyakiti dan tangannya suka berbuat zalim, maka ia telah mengurangi kadar keislaman dan keimanannya.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: sebagian memandang hadits ini sebagai definisi syar'i, sebagian lain memandangnya sebagai penjelasan sifat sempurna. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa ini adalah penjelasan tentang muslim dan mukmin yang sempurna, sebagaimana dijelaskan An-Nawawi dan Ibnu Hajar.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang banyak beribadah tetapi lisannya suka menyakiti orang lain. Beliau menjawab bahwa ibadah yang banyak tidak bermanfaat jika seseorang masih menyakiti saudaranya dengan lisan. Beliau menekankan pentingnya menjaga lisan sebagai bagian dari akhlak seorang mukmin.

Fudail bin 'Iyadh rahimahullah juga dikenal sangat berhati-hati dalam berbicara. Beliau berkata bahwa seorang mukmin adalah orang yang hatinya bersih dan lisannya terjaga, sehingga orang lain merasa aman darinya.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga lisan dari mencela, menggunjing, memfitnah, dan menyakiti perasaan orang lain.
  2. Jaga tangan dari berbuat zalim, mencuri, atau merusak harta orang lain.
  3. Jadilah pribadi yang amanah, sehingga orang lain merasa aman atas darah dan hartanya.
  4. Ingatlah bahwa iman bukan hanya di hati, tetapi harus tampak dalam akhlak sehari-hari.
  5. Muhasabah diri: apakah orang lain merasa aman dari lisan dan tangan kita?

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?