Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 262 tentang Bacaan ruku dan sujud dalam shalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa ketika ruku' kita membaca "Subhaana Rabbiyal 'Azhim" dan ketika sujud membaca "Subhaana Rabbiyal A'laa". Selain itu, Nabi ﷺ mengajarkan adab membaca Al-Qur'an dalam shalat: berhenti sejenak pada ayat rahmat untuk memohon, dan pada ayat azab untuk berlindung. Hadits ini hasan shahih menurut Imam At-Tirmidzi.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang menjadi dasar perintah tasbih dan doa:

QS. Al-A'laa [87]: 1

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

"Suci-kanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi."

QS. Al-Waqi'ah [56]: 74

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

"Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Agung."

Hadits terkait:

Hadits Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi no. 262, Abu Dawud, An-Nasa'i, dan Ahmad. Imam At-Tirmidzi menyatakan: "Hadits ini hasan shahih."

Kaitan ulama:

  • Imam At-Tirmidzi (penyusun kitab) menilai hadits ini hasan shahih.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa bacaan tasbih ruku' dan sujud disepakati oleh jumhur ulama.
  • Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' menegaskan sunnahnya membaca tasbih tiga kali minimal.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ konsisten membaca tasbih ini dan berhenti pada ayat rahmat/azab.

Penjelasan Rinci

1. Bacaan tasbih dalam ruku' dan sujud

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ membaca:

  • Saat ruku': سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ (Subhaana Rabbiyal 'Azhim) — "Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung."
  • Saat sujud: سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى (Subhaana Rabbiyal A'laa) — "Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi."

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa penyebutan "Al-'Azhim" (Maha Agung) saat ruku' dan "Al-A'laa" (Maha Tinggi) saat sujud bukan tanpa hikmah. Ruku' adalah posisi merendah, maka kita mengagungkan Allah Yang Maha Agung. Sujud adalah posisi paling rendah bagi manusia, maka kita menyucikan Allah Yang Maha Tinggi di atas segalanya.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa jumhur ulama (termasuk Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan Imam Malik) berpendapat bacaan ini sunnah, bukan wajib. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat wajib pada ruku' dan sujud. Namun pendapat yang lebih kuat menurut dalil adalah sunnah, karena Nabi ﷺ mengajarkannya sebagai bacaan rutin, bukan sebagai rukun yang jika ditinggalkan shalat batal.

2. Berhenti pada ayat rahmat dan azab

Nabi ﷺ juga mengajarkan adab membaca Al-Qur'an dalam shalat: ketika melewati ayat tentang rahmat, beliau berhenti dan memohon; ketika melewati ayat azab, beliau berhenti dan berlindung.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa ini menunjukkan kekhusyukan Nabi ﷺ dalam membaca Al-Qur'an. Beliau tidak sekadar melafalkan, tetapi menghayati maknanya dan meresponsnya dengan doa. Ini adalah bentuk tadabbur (perenungan) yang paling tinggi.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa para salaf, termasuk Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah, juga mengamalkan hal ini. Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Sesungguhnya orang beriman itu ketika membaca ayat rahmat, ia berharap; dan ketika membaca ayat azab, ia takut."

3. Kedudukan hadits

Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih. Syeikh al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi juga menilai hadits ini shahih. Sanadnya melalui Syu'bah dari Al-A'masy dari Sa'd bin 'Ubaidah dari Al-Mustaurid dari Shilah bin Zufar dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu.

Story Telling

Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang dikenal sangat dekat dengan Nabi ﷺ dan dipercaya menyimpan rahasia tentang fitnah akhir zaman. Suatu ketika ia shalat malam bersama Nabi ﷺ. Ia menyaksikan langsung bagaimana Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an dengan penuh penghayatan.

Dalam riwayat lain (Shahih Muslim), Hudzaifah menceritakan bahwa Nabi ﷺ membaca surah Al-Baqarah, An-Nisa', dan Ali Imran dalam satu rakaat. Setiap kali melewati ayat rahmat, beliau berhenti dan berdoa. Setiap kali melewati ayat azab, beliau berhenti dan berlindung. Setiap kali melewati ayat tasbih, beliau bertasbih.

Hudzaifah berkata: "Aku belum pernah melihat orang yang lebih baik bacaannya daripada Nabi ﷺ." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hikmahnya: shalat bukan sekadar gerakan dan bacaan, tetapi dialog antara hamba dengan Rabb-nya. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa Al-Qur'an harus dibaca dengan hati yang hidup, bukan hanya lisan yang bergerak.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah tasbih ruku' dan sujud dengan bacaan: سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ (saat ruku') dan سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى (saat sujud), minimal tiga kali.
  2. Hayati makna bacaan — saat ruku', renungkan keagungan Allah; saat sujud, renungkan kelemahan diri di hadapan Allah Yang Maha Tinggi.
  3. Berhentilah pada ayat rahmat dan azab saat membaca Al-Qur'an dalam shalat, lalu berdoa atau berlindung. Ini adalah sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ.
  4. Perbanyak doa dalam sujud, karena sujud adalah saat paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
  5. Ikhlaskan shalat sebagai dialog dengan Allah, bukan sekadar kewajiban yang harus ditunaikan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?