Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2615 tentang Malu adalah bagian dari iman

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa sifat malu (al-haya') adalah bagian dari iman, bukan sekadar adab atau kebiasaan semata. Malu adalah cabang keimanan yang mendorong seseorang untuk meninggalkan kemaksiatan dan melakukan kebaikan. Hadits ini juga menunjukkan bahwa menasihati saudara tentang malu adalah perbuatan yang baik, dan Rasulullah ﷺ membenarkan serta menguatkannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat At-Tirmidzi (No. 2615)

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan) adalah:

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ، وَأَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ، - الْمَعْنَى وَاحِدٌ قَالاَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَالِمٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ مَرَّ بِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " الْحَيَاءُ مِنَ الإِيمَانِ " . قَالَ أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ فِي حَدِيثِهِ إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ سَمِعَ رَجُلاً يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ . قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ . وَفِي الْبَابِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي بَكْرَةَ وَأَبِي أُمَامَةَ .

Makna ringkas: Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ melewati seorang laki-laki yang sedang menasihati saudaranya tentang sifat malu. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Malu adalah bagian dari iman."

Hadits pendukung dari Shahih Al-Bukhari dan Muslim:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ – أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ – شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

"Iman itu ada lebih dari tujuh puluh – atau enam puluh – cabang. Yang paling utama adalah ucapan La ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang iman." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam At-Tirmidzi (dalam kitab Sunan-nya) menilai hadits ini hasan shahih.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa malu adalah cabang iman karena malu mendorong kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil perkataan ulama bahwa malu termasuk iman karena iman itu terdiri dari keyakinan, perkataan, dan perbuatan. Malu adalah perbuatan hati yang mendorong kepada ketaatan.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa malu yang terpuji adalah malu yang mencegah seseorang dari perbuatan dosa, bukan malu yang menghalangi seseorang dari menuntut ilmu atau berbuat kebaikan.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa al-haya' (malu) dalam hadits ini bukan sekadar rasa malu sosial, tetapi malu yang lahir dari keimanan. Malu ini adalah perasaan takut dan malu kepada Allah ﷻ yang membuat seorang hamba enggan berbuat maksiat karena merasa diawasi oleh Allah.

Pandangan ulama tentang makna malu:

  1. Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa malu adalah salah satu sifat yang paling mulia. Malu adalah kehidupan hati, sebagaimana nafas adalah kehidupan badan. Jika malu hilang dari hati, maka hilanglah kebaikan dari diri seseorang.
  2. Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa malu terbagi menjadi dua:
  • Malu yang merupakan tabiat bawaan – ini adalah anugerah dari Allah yang membuat seseorang enggan melakukan hal-hal buruk.
  • Malu yang merupakan hasil keimanan – ini adalah malu yang muncul karena kesadaran bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi hamba-Nya.
  1. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menjelaskan bahwa malu adalah akhlak mulia yang mendorong pemiliknya untuk meninggalkan segala yang buruk dan melakukan segala yang indah. Malu adalah penghalang antara seseorang dengan dosa.

Mengapa malu termasuk iman?

Karena iman itu mencakup tiga hal: pembenaran hati, ucapan lisan, dan amalan anggota badan. Malu adalah amalan hati yang lahir dari rasa takut dan pengagungan kepada Allah. Ketika seseorang memiliki malu kepada Allah, dia akan meninggalkan maksiat, menjaga pandangan, lisannya, dan seluruh anggota badannya dari hal-hal yang dilarang.

Perbedaan pendapat ulama tentang malu:

Sebagian ulama membedakan antara malu yang merupakan tabiat bawaan dengan malu yang merupakan ibadah. Namun, mayoritas ulama – termasuk Imam Asy-Syafi'i dan para ulama hadits – menegaskan bahwa malu yang dimaksud dalam hadits ini adalah malu yang lahir dari iman, yaitu malu kepada Allah dan malu melakukan perbuatan dosa. Adapun malu yang tercela adalah malu yang menghalangi seseorang dari menuntut ilmu, berdakwah, atau berbuat kebaikan. Sebagaimana perkataan para ulama: "Malu yang tercela adalah malu yang menghalangi pemiliknya dari menuntut haknya atau menegakkan kebenaran."

Kisah yang berkaitan dengan hadits ini:

Dalam riwayat lain dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ، وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ

"Malu adalah bagian dari iman, dan iman akan membawa pemiliknya ke surga." (HR. At-Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Ini menunjukkan bahwa malu bukan sekadar sifat duniawi, tetapi memiliki kaitan erat dengan keselamatan di akhirat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Al-Hasan Al-Bashri – salah seorang ulama tabi'in yang sangat terkenal dengan kezuhudan dan ilmunya – pernah berkata:

"Jika engkau melihat seseorang yang tidak memiliki rasa malu, maka ketahuilah bahwa dia tidak memiliki iman yang sempurna."

Beliau juga pernah berkata: "Malu dan iman itu berada dalam satu wadah. Jika salah satunya hilang, maka yang lain pun ikut hilang."

Kisah lain yang indah adalah tentang seorang pemuda dari kalangan salaf yang hendak berbuat dosa di tempat sepi. Ketika dia hendak melakukannya, dia teringat bahwa Allah melihatnya. Maka dia berkata kepada dirinya sendiri: "Apakah aku tidak malu kepada Allah yang melihatku?" Lalu dia meninggalkan perbuatan dosa itu. Maka malu yang lahir dari iman telah menyelamatkannya dari kebinasaan.

Kesimpulan Praktis

  1. Tanamkan rasa malu kepada Allah dalam setiap keadaan, baik saat sendiri maupun di hadapan orang lain. Karena Allah selalu melihat kita.
  2. Jadikan malu sebagai pengendali diri – ketika ingin berbuat dosa, ingatlah bahwa Allah melihat dan malu kepada-Nya.
  3. Jangan salah memahami malu – malu yang terpuji adalah malu yang mencegah dari dosa, bukan malu yang menghalangi dari menuntut ilmu atau menegakkan kebenaran.
  4. Nasihati saudara dengan cara yang baik – sebagaimana Rasulullah ﷺ tidak mencela orang yang menasihati saudaranya tentang malu, bahkan membenarkan dan menguatkannya.
  5. Malu adalah tanda keimanan – jika seseorang kehilangan rasa malu, maka itu tanda lemahnya iman.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?