Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2614 tentang Iman memiliki banyak cabang, tertinggi tauhid, terendah menyingkirkan rintangan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa iman itu memiliki cabang-cabang yang banyak, lebih dari tujuh puluh cabang. Tingkatannya bertingkat-tingkat, dari yang paling rendah yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan, hingga yang paling tinggi yaitu ucapan Lā ilāha illallāh. Ini menunjukkan bahwa iman itu bukan hanya keyakinan di hati, tetapi juga mencakup amalan-amalan lahiriah, dan ia bisa bertambah dan berkurang.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Iman, Bab "Apa yang Dikatakan tentang Penyempurnaan Iman dan Penambahannya serta Pengurangannya", nomor 2614. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 35) dari jalur Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks Hadits (sebagaimana dalam riwayat At-Tirmidzi):

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ بَابًا فَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَأَرْفَعُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ"

Makna ringkas: "Iman itu memiliki tujuh puluh lebih cabang. Yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan yang paling tinggi adalah ucapan Lā ilāha illallāh."

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Anfal [8]: 2-4 menjelaskan bahwa iman itu bertambah dan berkurang, dan ia memiliki tanda-tanda dalam amalan:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal."

Kaitan dengan ulama: Imam Asy-Syafi'i rahimahullah dalam Al-Umm menjelaskan bahwa iman menurut Ahlus Sunnah adalah keyakinan di hati, ucapan di lisan, dan amalan dengan anggota badan. Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Ini sejalan dengan hadits di atas yang menjadikan amalan sebagai bagian dari iman.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan salaf menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil yang sangat kuat bahwa iman itu mencakup perkataan dan perbuatan, bukan hanya keyakinan hati semata.

1. Makna "Bid'un" (بضع)

Kata bid'un dalam bahasa Arab berarti bilangan antara tiga hingga sepuluh, atau bisa juga berarti "beberapa" yang jumlahnya banyak. Dalam riwayat lain (Shahih Muslim), disebutkan "tujuh puluh lebih" (سَبْعُونَ) secara tegas. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa angka ini bukanlah pembatasan yang kaku, melainkan menunjukkan banyaknya cabang-cabang iman.

2. Cabang Iman yang Paling Tinggi dan Paling Rendah

  • Yang paling tinggi: Qaul Lā ilāha illallāh (ucapan لا إله إلا الله). Ini adalah pokok iman, kunci masuk surga, dan kalimat tauhid yang menjadi pembeda antara iman dan kekufuran. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa kalimat ini adalah asas seluruh amalan, dan amalan tidak diterima tanpa kalimat ini.
  • Yang paling rendah: Imāthah al-adzā 'an al-tharīq (menyingkirkan gangguan dari jalan). Ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kebersihan dan kenyamanan umum. Bahkan hal sekecil membuang duri dari jalan pun dihitung sebagai cabang iman.

3. Iman Bertambah dan Berkurang

Hadits ini juga menjadi dalil bahwa iman itu bertingkat-tingkat. Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan seluruh ulama Ahlus Sunnah dari kalangan salaf sepakat bahwa iman bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Ini berbeda dengan pendapat Murji'ah yang mengatakan iman itu statis (tidak bertambah dan tidak berkurang).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Al-Iman menjelaskan bahwa iman itu terdiri dari tiga komponen: pembenaran dengan hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan. Jika salah satu komponen ini berkurang, maka iman pun berkurang.

4. Hikmah Penyebutan Dua Ujung Cabang Iman

Dengan menyebutkan cabang yang paling tinggi dan paling rendah, Nabi ﷺ mengajarkan bahwa:

  • Iman itu mencakup seluruh aspek kehidupan, dari urusan hati yang paling agung (tauhid) hingga urusan dunia yang paling sederhana (membersihkan jalan).
  • Tidak ada amalan yang terlalu kecil untuk dianggap sebagai bagian dari iman, selama dilakukan dengan ikhlas karena Allah.
  • Seorang mukmin tidak boleh meremehkan amalan-amalan kecil, karena bisa jadi amalan kecil itulah yang menyelamatkannya di akhirat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah satu sahabat yang paling banyak menghafal hadits. Suatu ketika, beliau ditanya tentang hadits-hadits yang ia riwayatkan, dan beliau berkata: "Aku tidak akan pernah melupakan apa pun yang disampaikan Rasulullah ﷺ kepadaku." Beliau juga dikenal sangat bersemangat dalam beribadah dan menjaga kebersihan, sebagaimana ia menjaga sunnah-sunnah Nabi ﷺ.

Hikmah dari kisah ini: Para sahabat tidak hanya menghafal hadits, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk amalan-amalan kecil seperti menyingkirkan gangguan dari jalan. Ini menunjukkan bahwa iman itu bukan sekadar teori, tetapi harus diwujudkan dalam amal nyata.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman itu mencakup hati, lisan, dan perbuatan — bukan hanya keyakinan di hati.
  2. Iman bisa bertambah dan berkurang — maka kita harus selalu berusaha meningkatkannya dengan amal shalih dan menjauhi maksiat.
  3. Jangan meremehkan amalan kecil — menyingkirkan duri dari jalan pun bernilai iman di sisi Allah.
  4. Jadikan kalimat tauhid sebagai pondasi — perbanyak mengucapkan dan merenungkan makna Lā ilāha illallāh.
  5. Perbanyak cabang-cabang iman — seperti shalat, zakat, puasa, haji, berbakti kepada orang tua, menjaga lisan, dan lain sebagainya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.