Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2594 tentang Neraka mengeluarkan ahli tauhid yang beriman dan takut

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat agung bagi umat Islam. Hadits ini mengabarkan bahwa di hari Kiamat nanti, Allah ﷻ akan memerintahkan agar mengeluarkan dari neraka setiap orang yang pernah mengingat (berdzikir kepada) Allah di dunia walaupun hanya satu hari, atau orang yang pernah merasa takut kepada Allah ketika hendak atau sedang berada dalam keadaan bermaksiat. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat dan kasih sayang Allah, serta betapa besarnya nilai dzikir dan rasa takut kepada-Nya, meskipun hanya sekilas di dunia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya (no. 2594), dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib.

Berikut teks haditsnya:

قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: يَقُولُ اللهُ: أَخْرِجُوا مِنَ النَّارِ مَنْ ذَكَرَنِي يَوْمًا أَوْ خَافَنِي فِي مَقَامٍ

Artinya: "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Allah berfirman: Keluarkanlah dari neraka orang yang mengingat-Ku pada suatu hari, atau orang yang takut kepada-Ku ketika berada dalam suatu keadaan (akan berbuat dosa).'"

Hadits ini juga memiliki penguat (syawahid) dari riwayat lain, di antaranya dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi juga, dan dari sahabat Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bazzar. Para ulama ahli hadits seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menilai hadits ini shahih dengan seluruh jalur penguatnya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini termasuk dalam bab syafa'at dan rahmat Allah yang sangat luas. Para ulama menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:

1. Makna "مَنْ ذَكَرَنِي يَوْمًا" (Orang yang mengingat-Ku pada suatu hari)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dzikir kepada Allah adalah amalan yang paling ringan namun paling agung pahalanya. Dzikir tidak hanya terbatas pada tasbih, tahmid, dan tahlil, tetapi juga mencakup mengingat Allah dalam hati, menyebut nama-Nya, dan mengingat kebesaran serta rahmat-Nya.

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud "mengingat Allah pada suatu hari" adalah orang yang pernah mengucapkan kalimat tauhid, atau pernah berdzikir kepada Allah dengan tulus di dunia, meskipun ia juga memiliki banyak dosa. Dzikir ini menjadi saksi baginya di akhirat.

2. Makna "أَوْ خَافَنِي فِي مَقَامٍ" (Atau takut kepada-Ku dalam suatu keadaan)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa rasa takut kepada Allah adalah salah satu ibadah hati yang paling utama. Rasa takut inilah yang mencegah seseorang dari terus-menerus berbuat maksiat. Yang dimaksud "takut dalam suatu keadaan" adalah ketika seseorang berada di ambang perbuatan dosa, lalu ia mengingat Allah dan takut akan siksa-Nya, kemudian ia menahan diri dari perbuatan tersebut.

Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya menjelaskan bahwa rasa takut yang bermanfaat adalah rasa takut yang mendorong seseorang untuk meninggalkan larangan Allah. Rasa takut yang hanya sebatas perasaan tanpa diiringi amal tidaklah banyak manfaatnya. Namun, jika seseorang pernah merasakan takut yang membuatnya berhenti dari maksiat walaupun hanya sekali seumur hidup, maka ini adalah bukti keimanan yang akan menjadi sebab keselamatannya.

3. Keagungan Hadits Ini

Hadits ini menunjukkan bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada murka-Nya. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya tentang syafa'at dan rahmat Allah menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang keluarnya para pelaku dosa besar dari kalangan ahli tauhid dari neraka adalah berita yang mutawatir maknanya. Ini menunjukkan bahwa tauhid dan keimanan sekecil apapun akan memberikan syafa'at bagi pelakunya.

4. Bantahan Terhadap Mereka yang Berputus Asa dari Rahmat Allah

Hadits ini juga merupakan bantahan bagi orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah. Tidak ada dosa yang membuat seseorang pantas untuk berputus asa selama ia masih mengingat Allah dan takut kepada-Nya. Namun perlu digarisbawahi, ini bukan berarti kita boleh meremehkan dosa. Justru hadits ini adalah motivasi agar kita tidak pernah meninggalkan dzikir dan rasa takut kepada Allah, karena keduanya adalah sebab keselamatan.

Story Telling

Imam Ibnul Qayyim menyebutkan dalam kitabnya sebuah kisah tentang seorang laki-laki Bani Israil yang banyak berbuat dosa. Ketika ia hendak melakukan dosa yang sangat besar, tiba-tiba ia teringat akan Allah dan merasa takut. Ia kemudian menahan diri dan berkata, "Wahai Tuhanku, aku takut kepada-Mu." Maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu karena rasa takut yang muncul di hatinya itu.

Kisah ini menggambarkan bahwa rasa takut kepada Allah yang muncul di saat seseorang hendak berbuat maksiat adalah momen yang sangat berharga. Momen inilah yang menjadi saksi keimanan seseorang di hadapan Allah pada hari Kiamat. Setan selalu berusaha menghilangkan rasa takut ini dari hati manusia, karena ia tahu bahwa rasa takut inilah yang akan menyelamatkan manusia dari neraka.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah meninggalkan dzikir kepada Allah, walaupun hanya sebentar. Dzikir sekecil apapun akan menjadi saksi kebaikan di akhirat.
  2. Jaga rasa takut kepada Allah di dalam hati, terutama ketika kita berada di ambang perbuatan maksiat. Rasa takut inilah yang akan menyelamatkan kita.
  3. Jangan berputus asa dari rahmat Allah, betapapun banyaknya dosa yang telah kita lakukan. Selama kita masih mengingat Allah dan takut kepada-Nya, maka pintu ampunan masih terbuka.
  4. Jadikan hadits ini sebagai motivasi untuk istiqamah, bukan sebagai alasan untuk meremehkan dosa. Kita tetap harus berusaha menjauhi semua larangan Allah dan bertaubat dari dosa-dosa yang telah lalu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?