Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini (riwayat Tirmidzi no. 2580) menjelaskan dahsyatnya azab bagi orang kafir di neraka: lidahnya direntangkan sejauh satu atau dua farsakh (sekitar 5–10 km), lalu manusia (penghuni neraka) berjalan di atasnya. Imam at-Tirmidzi sendiri menilai hadits ini gharib (jalur periwayatannya tunggal) dan menyebut perawi Abu al-Mukhariq tidak dikenal (لَيْسَ بِمَعْرُوفٍ). Karena itu, para ulama berbeda sikap: sebagian menerimanya sebagai peringatan tentang azab, sebagian melemahkannya dari sisi sanad, namun maknanya tidak bertentangan dengan prinsip Al-Qur'an bahwa azab neraka itu sangat besar.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Mu'minun [23]: 103
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ
Terjemahan: "Dan barangsiapa yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam."
QS. Al-Hajj [22]: 19–20
فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّن نَّارٍ يُصَبُّ مِن فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ يَصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ
Terjemahan: "Maka orang-orang kafir itu dipotongkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api (neraka) dan dituangkan air panas membakar ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancurkan segala yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka)."
Hadits terkait:
Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda tentang besarnya penghuni neraka:
"Nabi ﷺ bersabda: 'Gigi orang kafir (di neraka) sebesar gunung Uhud, dan tebal kulitnya sejauh perjalanan tiga hari.'" (HR. Muslim, Kitab al-Jannah wa Sifat Na'imiha)
Kaitan dengan ulama:
- Imam at-Tirmidzi (dalam kitab Jami'nya) sendiri menyatakan hadits ini gharib dan Abu al-Mukhariq tidak dikenal — ini menunjukkan kejujuran beliau dalam menilai sanad.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang sifat fisik penghuni neraka bersifat tamtsil (perumpamaan) yang menunjukkan besarnya azab, bukan harus dibayangkan secara fisik semata.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa azab neraka itu hakiki dan sangat dahsyat, dan hadits-hadits semacam ini dipahami sebagai gambaran nyata yang Allah kehendaki.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Hadi al-Arwah menegaskan bahwa azab neraka mencakup seluruh anggota badan, termasuk lidah, sebagai balasan yang setimpal dengan perbuatan.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Hadits ini menggambarkan azab yang menimpa lidah orang kafir di neraka. Lidahnya direntangkan sedemikian panjang — satu atau dua farsakh (1 farsakh ≈ 3 mil ≈ 5,5 km) — lalu penghuni neraka yang lain berjalan di atasnya. Ini menunjukkan:
- Azab yang sangat besar dan berlipat — lidah yang di dunia digunakan untuk kekufuran, kedustaan, dan menghina agama, akan mendapat balasan yang setimpal.
- Kehinaan yang luar biasa — lidah yang direntangkan dan diinjak-injak menunjukkan kerendahan dan penghinaan abadi.
Pandangan ulama tentang sanad hadits ini:
- Imam at-Tirmidzi menyatakan: "Hadits ini gharib, kami hanya mengetahuinya dari jalur ini. Abu al-Mukhariq tidak dikenal." Ini adalah penilaian beliau sendiri sebagai ahli hadits.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Taqrib at-Tahdzib menyebut Abu al-Mukhariq (nama aslinya Qais bin Abi Muslim) sebagai perawi yang dha'if (lemah).
- Adz-Dzahabi dalam Mizan al-I'tidal juga menyebutkan kelemahan perawi ini.
- Namun, Ibn Katsir dan Ibn Qayyim tetap membawakan hadits-hadits tentang sifat neraka dalam karya mereka sebagai peringatan, selama tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan hadits shahih.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama seperti Ibn Hibban dan Ibn Khuzaimah lebih ketat dalam menerima hadits tentang sifat neraka dan mensyaratkan keshahihan sanad. Sementara at-Tirmidzi sendiri membawakan hadits ini dengan catatan kelemahannya. Yang paling kuat: hadits ini dha'if dari sisi sanad, tetapi maknanya tidak bertentangan dengan prinsip umum Al-Qur'an dan hadits shahih tentang dahsyatnya azab neraka. Karena itu, ia boleh disebutkan sebagai peringatan (tarhib), bukan sebagai penetapan aqidah yang wajib diyakini secara rinci.
Story Telling
Ibn Umar رضي الله عنه, sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits ini, dikenal sebagai sahabat yang sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Beliau pernah berkata: "Aku tidak ingin menambah atau mengurangi satu huruf pun dari hadits Rasulullah ﷺ."
Suatu ketika, Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang hadits-hadits sifat neraka yang sanadnya lemah. Beliau menjawab: "Kami meriwayatkan hadits-hadits tentang tarhib (peringatan) dan targhib (anjuran) dengan sanad yang lemah, selama tidak menetapkan hukum halal-haram." Ini menunjukkan bahwa ulama salaf membolehkan meriwayatkan hadits dha'if untuk fadhail al-a'mal dan tarhib, bukan untuk menetapkan aqidah atau hukum.
Al-Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang ayat-ayat azab neraka. Beliau menangis dan berkata: "Cukuplah bagi seorang mukmin untuk takut kepada neraka dengan mendengar namanya saja, tanpa perlu mengetahui detail azabnya."
Kesimpulan Praktis
- Hadits ini dha'if dari sisi sanad menurut penilaian Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hajar, dan Adz-Dzahabi. Karena itu, tidak wajib diyakini secara rinci, tetapi boleh disebutkan sebagai peringatan.
- Makna umumnya benar: azab neraka itu sangat dahsyat dan mencakup seluruh anggota badan, termasuk lidah. Ini didukung oleh Al-Qur'an dan hadits shahih.
- Pelajaran utama: jagalah lidah dari kekufuran, dusta, ghibah, dan perkataan yang menyakiti. Lidah adalah anggota yang paling banyak menjerumuskan manusia ke neraka.
- Jangan ghuluw (berlebihan) dalam membayangkan detail azab neraka. Cukup kita yakini bahwa azab itu hakiki dan sangat pedih, lalu kita berlindung kepada Allah darinya.
- Perbanyak doa: "Allahumma inni a'udzu bika min 'adzabi jahannam" (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.