Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits riwayat Tirmidzi no. 2570 ini masih berkaitan dengan bab sifat surga, yaitu tentang sungai-sungai surga yang mengalir di atas permata dan emas. Redaksi "يَحْسِرُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ" menunjukkan bahwa sungai surga itu menyingkap (mengalir di atas) gunung emas. Imam at-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih, sehingga bisa dijadikan pegangan dalam bab sifat surga.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, melalui jalur Abu az-Zinad dari al-A'raj, dan dicatat oleh Imam at-Tirmidzi dalam Jami' at-Tirmidzi, Kitab Sifat Surga. Imam at-Tirmidzi berkata: "هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ" (ini hadits hasan shahih).
Teks hadits yang disebutkan:
<p>حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الأَشَجُّ، حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ مِثْلَهُ إِلاَّ أَنَّهُ قَالَ "يَحْسِرُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ" . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ .</p>
Terjemahan ringkas: Dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, serupa dengan hadits sebelumnya, hanya saja beliau bersabda: "menyingkap tentang gunung dari emas." Abu Isa (at-Tirmidzi) berkata: "Ini hadits hasan shahih."
Dalil Al-Qur'an yang relevan tentang kenikmatan surga dan sifatnya:
<p>مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا ۚ تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوا ۖ وَّعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ</p>
QS. Ar-Ra'd [13]: 35 — "Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa, di bawahnya mengalir sungai-sungai; buahnya selalu ada dan naungannya (juga). Itulah tempat kesudahan orang-orang yang bertakwa, dan tempat kesudahan orang-orang kafir adalah neraka."
Penjelasan Rinci
Hadits ini termasuk dalam bab sifat surga, khususnya tentang gambaran sungai-sungai surga. Redaksi "يَحْسِرُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ" secara bahasa berarti "menyingkap/menampakkan dari gunung emas." Para ulama yang tercantum dalam daftar rujukan, seperti Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar al-Asqalani, menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang sifat surga harus dipahami sebagaimana adanya (itsbat) tanpa menakwilkan secara berlebihan, karena surga adalah alam gaib yang hanya diketahui melalui wahyu. Kita mengimani bahwa sungai-sungai surga itu nyata, dan gambaran emas serta permata menunjukkan keagungan dan kemuliaan tempat itu.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika membahas ayat-ayat tentang surga menegaskan bahwa kenikmatan surga tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan dunia, dan semua gambaran dalam hadits shahih harus diterima sebagai kabar gembira bagi orang beriman. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab-kitabnya tentang surga (seperti Hadi al-Arwah) menjelaskan bahwa sungai-sungai surga mengalir tanpa parit, dan bahan dasarnya berbeda-beda: ada dari air, susu, khamr yang tidak memabukkan, dan madu, sebagaimana disebut dalam QS. Muhammad [47]: 15. Adapun hadits ini menambahkan gambaran bahwa sungai itu mengalir di atas gunung emas, yang menunjukkan betapa mulianya tempat tersebut.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa semua yang Allah sebutkan tentang surga adalah untuk memotivasi hamba agar beramal saleh, karena kenikmatan itu kekal dan tidak pernah habis. Syaikh al-Albani menilai hadits ini sebagai bagian dari hadits-hadits shahih tentang sifat surga, dan beliau memasukkan riwayat ini dalam kitab-kitab beliau tentang hadits shahih.
Perlu dicatat bahwa hadits ini merupakan penguat dari hadits sebelumnya dalam bab yang sama, yang menyebutkan tentang sungai-sungai surga. Imam at-Tirmidzi menyebutkan hadits ini dengan jalur Abu Sa'id al-Asyaj — 'Uqbah bin Khalid — 'Ubaidullah bin 'Umar — Abu az-Zinad — al-A'raj — Abu Hurairah. Semua perawi ini tsiqah (terpercaya), sehingga hadits ini dinilai hasan shahih.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits tentang sifat surga dan neraka. Beliau pernah berkata: "Aku bertanya kepada Nabi ﷺ tentang sesuatu yang tidak ditanyakan oleh seorang pun sebelumku." Salah satu sahabat, Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, juga banyak meriwayatkan tentang sifat surga. Para salaf seperti Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah bin Di'amah as-Sadusi ketika membahas ayat-ayat surga, mereka menangis dan berkata: "Betapa jauhnya kita dari surga, padahal kita mendambakannya." Ini menunjukkan bahwa para ulama awal sangat antusias memahami sifat surga untuk mendorong amal, bukan untuk berdebat tentang hakikatnya.
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada yang gaib: Kita wajib mengimani semua yang dikabarkan Nabi ﷺ tentang surga, termasuk sungai yang mengalir di atas gunung emas, tanpa menolak atau menakwilkan secara berlebihan.
- Motivasi beramal: Gambaran kemuliaan surga seharusnya mendorong kita untuk memperbanyak amal saleh, karena surga adalah tempat yang kekal dan penuh kenikmatan.
- Menerima hadits hasan shahih: Hadits ini dinilai hasan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, sehingga layak dijadikan dalil dalam bab sifat surga.
- Mengikuti pemahaman salaf: Para ulama seperti Ibnu Katsir, Ibnu Qayyim, dan as-Sa'di mengajarkan agar kita memahami sifat surga sebagai kabar gembira, bukan bahan perdebatan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.