Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2567 tentang Tiga golongan yang dicintai Allah dalam beramal

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits riwayat Abdullah bin Mas'ud ini menyebutkan tiga golongan yang dicintai Allah: (1) orang yang bangun malam untuk membaca Al-Qur'an, (2) orang yang bersedekah dengan tangan kanan dan menyembunyikannya dari tangan kiri, dan (3) orang yang tetap berani menghadapi musuh saat pasukannya lari. Meskipun jalur sanad hadits ini dinilai tidak kuat (gharib lagi tidak mahfuzh) oleh Imam at-Tirmidzi, makna kandungannya benar-benar sesuai dengan ajaran Al-Qur'an dan hadits shahih lainnya, sehingga tetap berharga sebagai motivasi amal.

Rujukan Ulama & Dalil

Teks Hadits (Jāmi‘ at-Tirmidzi, no. 2567):

<p>حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَيَّاشٍ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، يَرْفَعُهُ قَالَ ‏"‏ ثَلاَثَةٌ يُحِبُّهُمُ اللَّهُ رَجُلٌ قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَتْلُو كِتَابَ اللَّهِ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ صَدَقَةً بِيَمِينِهِ يُخْفِيهَا أُرَاهُ قَالَ مِنْ شِمَالِهِ وَرَجُلٌ كَانَ فِي سَرِيَّةٍ فَانْهَزَمَ أَصْحَابُهُ فَاسْتَقْبَلَ الْعَدُوَّ ‏"‏ ‏.‏</p>

Terjemahan: Dari Abdullah bin Mas‘ūd radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Tiga orang yang dicintai Allah: seorang laki-laki yang bangun malam membaca Kitab Allah; seorang laki-laki yang bersedekah dengan tangan kanannya –ia- menyembunyikannya –aku melihat ia berkata: ‘dari (penglihatan) tangan kirinya’–; dan seorang laki-laki yang berada dalam pasukan perang, lalu teman-temannya lari kalah, tetapi ia sendiri tetap menghadapi musuh."

Pendapat Ulama tentang Sanad:

Imam at-Tirmidzi rahimahullah (w. 279 H) sendiri berkata: "Hadits ini gharīb dari jalur ini, dan ia ghairu mahfūzh (tidak terjaga). Yang ṣaḥīḥ adalah apa yang diriwayatkan oleh Syu‘bah dan selainnya dari Manṣūr, dari Rib‘ī bin Ḥirāsy, dari Zaid bin Zhabyān, dari Abū Dzar, dari Nabi ﷺ" (Jāmi‘ at-Tirmidzi, no. 2567).

Syaikh Muḥammad Nāṣiruddīn al-Albānī rahimahullah (w. 1420 H) dalam Ḍa‘īf Sunan at-Tirmidzi menyatakan bahwa hadits ini ḍa‘īf karena perawi Abu Bakar bin ‘Ayyāš memiliki banyak kesalahan. Namun, Syaikh al-Albānī juga menjelaskan bahwa makna hadits ini sahih secara umum karena dikuatkan oleh hadits shahih lainnya, misalnya tentang keutamaan qiyāmullail, sedekah rahasia, dan keberanian di jalan Allah.

Ayat-ayat Penguat:

  1. QS. Al-Muzzammil [73]: 6

إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيْلِ هِىَ أَشَدُّ وَطْـًۭٔا وَأَقْوَمُ قِيلًا

Sesungguhnya bangun malam itu lebih kuat (pengaruhnya) dan lebih tepat ucapannya.

  1. QS. Al-Baqarah [2]: 271

إِن تُبْدُوا۟ ٱلصَّدَقَـٰتِ فَنِعِمَّا هِىَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا ٱلْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ

Jika kamu menampakkan sedekah, itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya serta memberikannya kepada orang fakir, itu lebih baik bagimu.

  1. QS. An-Nisā` [4]: 95

لَّا يَسْتَوِى ٱلْقَـٰعِدُونَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ... وَٱلْمُجَـٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ ۚ فَضَّلَ ٱللَّهُ ٱلْمُجَـٰهِدِينَ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ عَلَى ٱلْقَـٰعِدِينَ دَرَجَةًۭ

Tidaklah sama orang mukmin yang duduk (tidak berperang) ... dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan satu derajat.

Ulama yang Menjelaskan Makna Amalan Ini:

  • Imam Ibnu Rajab al-Ḥanbalī rahimahullah (w. 795 H) dalam Lathā`if al-Ma‘ārif menguraikan panjang lebar keutamaan qiyāmullail sebagai waktu yang paling mustajab untuk bermunajat.
  • Imam an-Nawawī rahimahullah (w. 676 H) dalam kitab Riyāḍuṣ Ṣāliḥīn (bab keutamaan sedekah rahasia) mengutip hadits-hadits shahih tentang sedekah yang tidak diketahui tangan kiri.
  • Syaikh ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir as-Sa‘dī rahimahullah (w. 1376 H) dalam Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān menafsirkan ayat-ayat tentang jihad dan keberanian, bahwa menegakkan hati di medan perang saat yang lain lari adalah puncak keimanan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggambarkan tiga pilar amal yang sangat dicintai Allah, meskipun sanadnya ada kelemahan namun maknanya universal dan dikuatkan banyak dalil. Berikut penjelasan masing-masing:

  1. Bangun Malam Membaca Al-Qur’an

Yang dimaksud bukan sekadar bangun, tetapi shalat Tahajjud dan tilawah. Imam Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa bangun malam adalah kebiasaan para nabi dan orang shalih. Waktu yang paling sunyi ini menjadi ujian keikhlasan, karena tidak ada riya. Membaca Al-Qur’an pada malam hari lebih khusyuk dan lebih mudah dihafal, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Muzzammil.

  1. Bersedekah dengan Tangan Kanan dan Menyembunyikannya

Frasa “menyembunyikannya dari tangan kiri” adalah majaz tentang sedekah yang sangat rahasia, sehingga orang di sebelah kirinya pun tidak tahu. Imam an-Nawawī rahimahullah meriwayatkan dalam Riyāḍuṣ Ṣāliḥīn bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Sedekah yang paling utama adalah yang dikeluarkan dengan tangan kanan dan disembunyikan, hingga tidak tahu tangan kiri apa yang diperbuat tangan kanan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan pentingnya menjaga keikhlasan dan menghindari pamer.

  1. Tetap Menghadapi Musuh Saat Pasukan Lari

Ini adalah puncak keberanian di jalan Allah. Ketika pasukan kocar-kacir, seseorang yang tetap bertahan dan maju ke hadapan musuh menunjukkan keyakinan total kepada pertolongan Allah. Syaikh as-Sa‘dī menekankan bahwa jihad dengan jiwa membutuhkan kesabaran dan keistiqamahan, dan balasannya adalah surga yang disediakan bagi orang yang berani di saat genting.

Imam at-Tirmidzi mendhaifkan jalur ini karena perawi Abu Bakr bin ‘Ayyāš banyak salah, tetapi riwayat lain dari Abū Dzar (yang disebut oleh Tirmidzi sebagai yang shahih) juga membawa makna serupa. Oleh karena itu, kandungan hadits ini tetap dapat diamalkan.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abū Dzar al-Ghifārī radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang terkenal zuhud dan berani. Beliau bercerita bahwa suatu malam ia melihat Nabi ﷺ berdiri shalat dan membaca satu ayat berulang-ulang sambil menangis: “Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Mā`idah [5]: 118). Subuh harinya, Abū Dzar bertanya, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau membaca dan menangis?” Beliau menjawab, “Ya, aku adalah hamba yang bersyukur. Malam ini aku bermunajat, dan sungguh Allah menurunkan kepadaku ayat yang memberi kabar gembira bagi orang-orang yang bangun malam.” (HR. Muslim, dari Abū Dzar). Kisah ini menunjukkan betapa mulia qiyāmullail dan tilawah malam.

Kesimpulan Praktis

  1. Biasakan qiyāmullail minimal dua rakaat dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil, walaupun sedikit.
  2. Bersedekahlah secara rahasia ketika mampu; usahakan agar tangan kanan memberi dan tangan kiri tidak tahu.
  3. Latih keberanian di jalan Allah – bisa dalam bentuk jihad dengan ilmu, harta, atau mental di saat menghadapi ujian hidup yang berat.
  4. Jadikan setiap amal semata-mata karena Allah, bukan karena pujian manusia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.