Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan peristiwa besar di Hari Kiamat: bagaimana Allah mengumpulkan seluruh manusia, lalu setiap penyembah berhala mengikuti sesembahannya masing-masing, sementara kaum Muslimin tetap teguh menanti rabb mereka. Hadits ini juga menegaskan dua pokok aqidah yang sangat penting: ru'yatullah (kaum beriman akan melihat Allah di akhirat) dan kekekalan penghuni surga serta neraka tanpa kematian lagi. Imam at-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih, dan beliau menukil bahwa para imam seperti Sufyan ats-Tsauri, Malik, Ibn al-Mubarak, Ibn 'Uyainah, dan Waki' menempuh jalan: menerima hadits-hadits sifat sebagaimana datangnya, mengimaninya, tanpa menanyakan "bagaimana".
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan ru'yatullah:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
(QS. Al-Qiyamah [75]: 22–23)
Maknanya: "Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannya mereka melihat."
Ayat tentang kekekalan penghuni surga dan neraka:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ مَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ
(QS. Muhammad [47]: 34)
Maknanya: "Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kemudian mati dalam keadaan kafir, maka Allah tidak akan mengampuni mereka."
Hadits terkait: Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah رضي الله عنه, dari jalur Al-'Ala' bin Abdurrahman dari ayahnya, dan dicatat oleh Imam at-Tirmidzi dalam Jami' at-Tirmidzi, Kitab Sifat Surga, no. 2557. At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih."
Kaitan dengan ulama: Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat-ayat ru'yah (seperti QS. Al-Qiyamah: 22–23 dan QS. Al-Muthaffifin: 15) bahwa kaum mukmin akan melihat Allah di akhirat, dan ini adalah pendapat Ahlus Sunnah. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari juga menegaskan bahwa melihat Allah adalah kenikmatan tertinggi penghuni surga. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Hadi al-Arwah membahas panjang tentang ru'yah dan kekekalan akhirat.
Penjelasan Rinci
Pertama: Setiap penyembah mengikuti sesembahannya.
Di padang mahsyar, Allah menampakkan kepada setiap kelompok apa yang dahulu mereka sembah di dunia. Penyembah salib melihat salibnya, penyembah gambar melihat gambarnya, penyembah api melihat apinya. Mereka mengikuti sesembahan itu menuju tempat yang Allah kehendaki. Ini menunjukkan bahwa di akhirat, seseorang akan dikumpulkan bersama apa yang ia cintai dan sembah. Ibn Katsir menjelaskan bahwa ini adalah bentuk keadilan Allah: siapa yang berpaling dari-Nya di dunia, akan berpaling kepada selain-Nya di akhirat.
Kedua: Kaum Muslimin tetap teguh.
Sementara yang lain pergi mengikuti sesembahannya, kaum Muslimin tetap di tempat mereka. Ketika Allah "menampakkan diri" (yatawara lalu yaththali'), mereka berkata: "Kami berlindung kepada Allah dari-Mu, Allah adalah Tuhan kami, dan kami tetap di sini sampai kami melihat Tuhan kami." Ibn Qayyim menjelaskan bahwa ini adalah ujian keimanan: mereka tidak mau mengikuti selain Allah meskipun dalam keadaan yang sangat berat. Allah meneguhkan mereka.
Ketiga: Ru'yatullah — melihat Allah.
Nabi ﷺ menegaskan bahwa kaum mukminin akan melihat Allah tanpa merasa terganggu, seperti melihat bulan purnama tanpa kesulitan. Ini adalah dalil utama Ahlus Sunnah bahwa ru'yah itu benar dan akan terjadi. Ibn Rajab menyebutkan bahwa ini adalah kenikmatan tertinggi di surga. Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim menegaskan bahwa ru'yah adalah aqidah Ahlus Sunnah berdasarkan hadits-hadits mutawatir.
Keempat: Shirath dan kekekalan neraka.
Setelah melihat Allah, kaum Muslimin bangkit dan melewati shirath seperti kuda dan unta yang cepat, sambil berkata "sallim sallim" (selamatkan, selamatkan). Sementara itu, neraka terus menerima penghuninya hingga Allah meletakkan "kaki-Nya" (qadam) di dalamnya, dan neraka menjadi penuh. Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa sifat "qadam" dan "tangan" dan sejenisnya adalah sifat Allah yang wajib diimani sebagaimana datangnya, tanpa tahrif, ta'thil, takyif, atau tamtsil — sesuai manhaj salaf.
Kelima: Kematian disembelih.
Setelah semua masuk ke tempat masing-masing, kematian dibawa dan disembelih di antara surga dan neraka. Lalu dikatakan: "Wahai penghuni surga, kekal tanpa kematian! Wahai penghuni neraka, kekal tanpa kematian!" Ini menegaskan kekekalan abadi. Ibn Katsir menyebutkan bahwa ini adalah puncak keadilan dan rahmat: penghuni surga tidak akan pernah mati lagi, dan penghuni neraka tidak akan pernah berhenti dari siksa.
Manhaj para imam dalam hadits sifat:
At-Tirmidzi menukil bahwa Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas, Ibn al-Mubarak, Ibn 'Uyainah, dan Waki' bin al-Jarrah berkata: "Kami meriwayatkan hadits-hadits ini, kami mengimaninya, dan tidak boleh dikatakan 'bagaimana'." Ini adalah manhaj Ahlus Sunnah: menerima nash sifat sebagaimana datangnya, mengimaninya, tanpa menyerupakan dengan makhluk, dan tanpa menolaknya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Malik bin Anas pernah ditanya seseorang tentang hadits-hadits sifat seperti istiwa dan ru'yah. Beliau menjawab dengan tenang: "Al-istiwa' itu diketahui maknanya, 'bagaimana'-nya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah." (Makna ini dinukil oleh para ulama seperti Ibn Rajab dan adz-Dzahabi dari manhaj salaf). Sikap ini mengajarkan kita adab: ketika datang nash dari Nabi ﷺ, seorang mukmin menerima dengan hati yang tunduk, bukan dengan akal yang menolak atau mulut yang bertanya "mengapa" dan "bagaimana".
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada ru'yatullah: Yakinlah bahwa kaum mukminin akan melihat Allah di akhirat, dan ini adalah kenikmatan tertinggi.
- Jaga tauhid: Di akhirat, setiap orang mengikuti apa yang ia sembah. Maka jangan sampai hati kita terikat kepada selain Allah.
- Iman kepada sifat Allah tanpa takyif: Terima hadits-hadits sifat sebagaimana datangnya, tanpa menyerupakan dan tanpa menolak.
- Yakin akan kekekalan akhirat: Surga dan neraka itu abadi; tidak ada kematian setelahnya. Maka persiapkan diri untuk negeri yang kekal.
- Berpegang pada manhaj salaf: Seperti yang ditempuh Sufyan ats-Tsauri, Malik, Ibn al-Mubarak, Ibn 'Uyainah, dan Waki' — iman, terima, dan jangan bertanya "bagaimana".
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.