Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2552 tentang Keutamaan melihat Allah sebagai nikmat terbesar di surga

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu dalil terbesar tentang melihat Allah ﷻ di surga (ru’yatullah), yang merupakan kenikmatan paling agung bagi penghuni surga, melebihi segala kenikmatan lainnya. Hadits ini menafsirkan firman Allah dalam QS. Yunus [10]: 26 tentang "ziyadah" (tambahan), yang menurut para ulama adalah nikmat melihat wajah Allah yang Maha Mulia.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an:

QS. Yunus [10]: 26

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahan (kenikmatan melihat Allah). Wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya."

2. Hadits:

Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Sifat Surga, Bab: Bab Apa yang Diriwayatkan tentang Melihat Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, nomor 2552, dari sahabat Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi radhiyallahu 'anhu.

3. Kaitan dengan Ulama:

  • Imam At-Tirmidzi (w. 279 H) mencantumkan hadits ini dalam kitabnya dan menjelaskan bahwa Hammad bin Salamah yang memarfu'kan (menyandarkan) hadits ini kepada Nabi ﷺ, sementara perawi lain seperti Sulaiman bin Al-Mughirah dan Hammad bin Zaid meriwayatkannya sebagai perkataan Ibnu Abi Laila (mauquf).
  • Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menukil penafsiran ayat ini dengan hadits di atas dan riwayat-riwayat lain dari para sahabat bahwa "ziyadah" adalah melihat Allah ﷻ di surga.
  • Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali (w. 795 H) dalam kitabnya At-Takhwif min An-Nar dan pembahasannya tentang surga menjelaskan bahwa melihat Allah adalah puncak kenikmatan surga.

Penjelasan Rinci

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Makna "Ziyadah" (Tambahan)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari Abu Bakr Ash-Shiddiq, Hudzaifah, Abu Musa Al-Asy'ari, dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum bahwa "ziyadah" dalam ayat ini adalah melihat Allah ﷻ di akhirat. Ini adalah pendapat yang masyhur dari para sahabat dan tabi'in.

Kedua: Kenikmatan Melihat Allah adalah Puncak Segalanya

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ bersabda bahwa setelah penghuni surga masuk surga, mereka diberitahu bahwa mereka masih memiliki janji yang lebih besar di sisi Allah. Ketika mereka bertanya, "Bukankah Allah telah memutihkan wajah kami, menyelamatkan kami dari neraka, dan memasukkan kami ke surga?" — maka dijawab, "Benar, tetapi masih ada yang lebih agung." Lalu tabir diangkat, dan mereka melihat Allah ﷻ.

Nabi ﷺ bersumpah: "Demi Allah, tidaklah Allah memberikan sesuatu kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada melihat-Nya."

Ketiga: Kedudukan Hadits Ini

Imam At-Tirmidzi menjelaskan bahwa hadits ini diriwayatkan secara marfu' (sampai kepada Nabi ﷺ) oleh Hammad bin Salamah, namun perawi lain meriwayatkannya sebagai perkataan Abdurrahman bin Abi Laila (mauquf). Para ulama hadits tetap menerima jalur marfu' ini karena Hammad bin Salamah adalah perawi yang tsiqah (terpercaya), dan makna melihat Allah di surga juga ditegaskan oleh dalil-dalil lain yang shahih, seperti hadits Jarir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu tentang melihat Allah di hari kiamat (HR. Bukhari dan Muslim).

Keempat: Penjelasan Imam Ibnu Rajab

Imam Ibnu Rajab menjelaskan bahwa kenikmatan melihat Allah adalah kenikmatan yang tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan surga lainnya. Beliau menukil perkataan sebagian ulama bahwa jika penghuni surga mendapatkan semua kenikmatan surga tetapi tidak bisa melihat Allah, maka itu terasa kurang; dan jika mereka hanya mendapatkan nikmat melihat Allah, itu sudah cukup membahagiakan mereka.

Kelima: Bantahan terhadap yang Mengingkari

Hadits ini juga menjadi bantahan bagi kelompok yang mengingkari ru'yatullah (melihat Allah) di akhirat, seperti Mu'tazilah dan Khawarij. Ahlus Sunnah menetapkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah di akhirat dengan mata kepala mereka, sebagai kemuliaan dari Allah, tanpa kita mengetahui hakikat caranya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) — semoga Allah merahmatinya — ketika ditanya tentang melihat Allah di surga, beliau menjawab dengan tegas: "Kami beriman kepadanya, dan kami membenarkannya. Kami tidak menanyakan 'bagaimana' dan tidak menolaknya. Barangsiapa mengingkari melihat Allah di akhirat, maka dia telah mengingkari Al-Qur'an dan sunnah."

Ini menunjukkan betapa pentingnya keyakinan ini dalam akidah Ahlus Sunnah. Para ulama kita mempertahankan keyakinan ini dengan ilmu dan hujjah, bukan dengan hawa nafsu, karena ini adalah kabar dari Allah dan Rasul-Nya yang jujur.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinilah bahwa melihat Allah ﷻ di surga adalah kenikmatan terbesar yang Allah janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan berbuat baik.
  2. Jangan menanyakan "bagaimana" caranya, karena itu di luar jangkauan akal kita; cukup imani sebagaimana diberitakan.
  3. Perbanyak amal baik agar kita termasuk orang-orang yang disebut dalam ayat "lilladzina ahsanul husna wa ziyadah" — orang yang berbuat baik akan mendapat surga dan tambahan melihat Allah.
  4. Jauhi perdebatan yang tidak bermanfaat tentang masalah ini; cukup pegang teguh pemahaman para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.