Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2504 tentang Keutamaan muslim yang selamat dari lisan dan tangannya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa muslim yang paling utama adalah yang mampu menjaga lisan dan tangannya dari menyakiti orang lain. Ini adalah standar keutamaan yang sangat jelas dan praktis: keimanan seseorang tidak hanya diukur dari ibadah ritualnya, tetapi juga dari bagaimana ia berinteraksi dengan sesama. Menjaga lisan dan tangan dari menyakiti adalah bukti nyata kualitas keislaman seseorang.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi (No. 2504)

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan, dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ الْجَوْهَرِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، حَدَّثَنَا بُرَيْدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَىُّ الْمُسْلِمِينَ أَفْضَلُ قَالَ " مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ " . هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى .

Terjemahan: Abu Musa berkata: "Rasulullah ﷺ ditanya: 'Siapakah di antara kaum Muslimin yang paling utama?' Beliau menjawab: 'Orang yang selamat dari lisan dan tangannya.'"

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari no. 10, Muslim no. 40).

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa kesempurnaan keislaman seseorang mengharuskan ia tidak menyakiti muslim lain, baik dengan ucapan maupun perbuatan.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa "selamat" di sini berarti aman dari gangguan, baik berupa perkataan yang menyakitkan maupun tindakan yang merugikan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan jawaban tegas tentang kriteria muslim yang paling utama. Ketika para sahabat bertanya tentang siapa muslim yang paling afdhal (utama), Rasulullah ﷺ tidak menjawab dengan "yang paling banyak shalatnya" atau "yang paling banyak puasanya", melainkan langsung menunjuk pada aspek muamalah (hubungan antar sesama).

Makna "selamat dari lisan dan tangannya" menurut para ulama:

  1. Selamat dari lisannya berarti tidak menyakiti orang lain dengan perkataan. Ini mencakup:
  • Tidak berkata kasar, mencela, menghina, atau mengejek
  • Tidak menggunjing (ghibah), memfitnah, atau menyebarkan aib orang lain
  • Tidak berdusta, bersumpah palsu, atau berkata yang tidak bermanfaat
  • Tidak memprovokasi, mengadu domba, atau menyebarkan kebencian
  1. Selamat dari tangannya berarti tidak menyakiti orang lain dengan perbuatan. Ini mencakup:
  • Tidak memukul, mendorong, atau menyakiti fisik orang lain
  • Tidak mengambil hak orang lain, mencuri, atau merampas harta
  • Tidak merusak properti atau fasilitas umum
  • Tidak melakukan kezaliman dalam bentuk apapun

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam kitab Bahjatu Qulubil Abrar menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa keutamaan seorang muslim diukur dari sejauh mana ia memberikan keamanan dan kenyamanan kepada orang lain. Seorang muslim sejati adalah yang orang lain merasa aman berada di dekatnya, baik dari ucapan maupun perbuatannya.

Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini juga mengandung isyarat bahwa menjaga lisan lebih berat daripada menjaga tangan, karena lisan disebut lebih dahulu. Ini karena lisan adalah anggota tubuh yang paling sulit dikendalikan. Seseorang bisa menahan tangannya dari memukul, tetapi menahan lisannya dari berkata-kata yang menyakitkan jauh lebih sulit.

Perbedaan tingkatan dalam hadits ini:

  • Ada yang memahami bahwa "selamat" berarti tidak menyakiti sama sekali (tingkatan minimal)
  • Ada yang memahami bahwa "selamat" berarti tidak menyakiti dan juga memberikan manfaat (tingkatan yang lebih sempurna)

Namun pendapat yang lebih kuat, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al-Utsaimin, adalah bahwa hadits ini menyebutkan syarat minimal untuk menjadi muslim yang baik, yaitu tidak menyakiti orang lain. Adapun tingkatan yang lebih tinggi adalah memberikan manfaat kepada orang lain, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah ditanya tentang hakikat zuhud di dunia. Beliau menjawab: "Zuhud itu bukanlah engkau mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud adalah engkau lebih yakin dengan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tanganmu, dan ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala-Nya daripada mengharap kembalinya musibah itu."

Kemudian beliau berkata: "Sesungguhnya seorang mukmin itu adalah orang yang manusia merasa aman dari lisannya dan tangannya. Adapun orang munafik, manusia takut dari lisannya dan tangannya."

Hikmah dari kisah ini: Keimanan yang benar akan melahirkan rasa aman bagi orang lain. Jika seseorang beriman dengan benar, maka lisannya akan terjaga dari perkataan yang menyakitkan, dan tangannya akan terjaga dari perbuatan yang merugikan. Sebaliknya, jika seseorang sering menyakiti orang lain, maka itu adalah tanda lemahnya keimanan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga lisan kita — sebelum berbicara, pikirkan apakah perkataan kita akan menyakiti orang lain. Jika ya, lebih baik diam.
  2. Jaga tangan kita — jangan sampai tangan kita digunakan untuk menyakiti, mengambil hak orang lain, atau merusak sesuatu.
  3. Jadikan keamanan orang lain sebagai prioritas — jadilah pribadi yang membuat orang lain merasa nyaman dan aman berada di dekat kita.
  4. Evaluasi diri — tanyakan pada diri sendiri: apakah orang lain merasa aman dari lisan dan tangan kita? Jika belum, maka kita perlu memperbaiki diri.
  5. Tingkatkan dari sekadar tidak menyakiti menjadi memberi manfaat — setelah mampu menjaga lisan dan tangan, tingkatkan dengan memberikan kebaikan kepada orang lain.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?