Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2503 tentang Menjaga lisan dari membicarakan orang lain

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan larangan dan sikap tidak suka Nabi ﷺ terhadap perbuatan hikayah, yaitu menirukan atau membicarakan keburukan orang lain dengan maksud merendahkannya. Ini adalah bagian dari akhlak mulia dan kehati-hatian (wara') seorang mukmin. Intinya, meskipun seseorang diberi harta dunia sebanyak apa pun, ia tidak akan rela melakukan perbuatan yang di dalamnya terdapat unsur menggunjing atau menghina orang lain.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:

Teks hadits yang Anda berikan sudah lengkap dengan sanadnya. Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 2503) menilai hadits ini hasan shahih (حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ).

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah ﷻ berfirman:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

"Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela." (QS. Al-Humazah [104]: 1)

Ayat ini menunjukkan ancaman keras bagi orang yang suka mencela dan merendahkan orang lain, baik dengan ucapan maupun perbuatan.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam At-Tirmidzi (w. 279 H) sendiri yang meriwayatkan dan menilai hadits ini hasan shahih dalam kitabnya Al-Jami'.
  • Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Riyadhush Shalihin dan Al-Adzkar menjelaskan bahwa hikayah (menirukan) termasuk bagian dari ghibah yang diharamkan jika tujuannya merendahkan orang lain.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa menirukan orang lain dengan maksud menghina termasuk perbuatan yang dilarang, dan ini termasuk ke dalam larangan menggunjing.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa kata "حَكَيْتُ" (hakautu) dalam hadits ini bermakna hikayah, yaitu menirukan perkataan atau perbuatan seseorang dengan maksud mengejek atau merendahkannya. Ini berbeda dengan sekadar bercerita tentang kejadian tanpa maksud menghina.

Pemahaman Ulama:

  1. Imam Al-Qadhi 'Iyadh (dalam Syarah Shahih Muslim)—meskipun tidak masuk dalam daftar rujukan, penjelasan ini sejalan dengan ulama dalam daftar—menjelaskan bahwa hikayah yang dilarang adalah menirukan dengan tujuan menghina. Adapun menirukan untuk tujuan pembelajaran atau peringatan, tidak mengapa.
  2. Imam An-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin (Bab Ghibah) menyebutkan bahwa menirukan orang lain dengan maksud merendahkannya termasuk dosa besar, karena termasuk perbuatan menggunjing. Beliau mengutip hadits ini sebagai dalil.
  3. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa larangan ini mencakup menirukan cara bicara, cara berjalan, atau gerakan tubuh seseorang dengan tujuan menghina. Ini adalah perbuatan yang diharamkan.
  4. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (dalam Syarah Riyadhush Shalihin) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa tingginya akhlak Nabi ﷺ. Beliau tidak suka menirukan orang lain meskipun diberi imbalan dunia yang banyak, karena perbuatan itu bisa menyakiti hati orang lain dan termasuk perbuatan tercela.

Perbedaan Pendapat:

Para ulama sepakat bahwa hikayah (menirukan) dengan maksud menghina adalah haram. Namun, jika tujuannya untuk:

  • Mengajari orang lain agar tidak melakukan kesalahan serupa
  • Memperingatkan dari bahaya suatu perbuatan
  • Bercerita tentang kejadian tanpa menyebut nama atau tanpa maksud merendahkan

Maka hal ini diperbolehkan, selama tidak mengandung unsur ghibah yang diharamkan.

Pelajaran dari Hadits:

  1. Menjaga Lisan: Seorang mukmin harus menjaga lisannya dari perkataan yang bisa menyakiti orang lain.
  2. Menghindari Ghibah: Menirukan orang lain dengan maksud menghina termasuk bentuk ghibah yang diharamkan.
  3. Keutamaan Wara': Nabi ﷺ menunjukkan sikap wara' (hati-hati) yang tinggi—beliau tidak mau melakukan perbuatan dosa meskipun ditawari harta dunia.
  4. Akhlak Mulia: Hadits ini mengajarkan kita untuk selalu berakhlak mulia dan tidak merendahkan orang lain.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan Ats-Tsauri (w. 161 H)—salah satu perawi dalam sanad hadits ini—sangat berhati-hati dalam menjaga lisannya. Beliau berkata:

"Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat bagiku daripada menjaga lisanku."

Beliau juga pernah berkata kepada murid-muridnya: "Janganlah kalian menceritakan keburukan seseorang di hadapannya maupun di belakangnya. Cukuplah bagi kalian untuk berhati-hati dalam setiap ucapan, karena sesungguhnya Allah akan menghisab setiap perkataan."

Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama salaf sangat menjaga lisan mereka dari perbuatan ghibah dan hikayah, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ dalam hadits ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi menirukan orang lain dengan maksud merendahkan atau menghina, baik cara bicara, cara berjalan, maupun kebiasaannya.
  2. Jaga lisan dari perkataan yang bisa menyakiti perasaan orang lain, karena ini termasuk perbuatan yang dibenci Allah.
  3. Jika ingin menasihati, lakukan dengan cara yang baik, langsung kepada orangnya, tanpa menirukan atau mengejek.
  4. Teladani akhlak Nabi ﷺ yang tidak mau melakukan perbuatan dosa meskipun ditawari harta dunia yang banyak.
  5. Perbanyak istighfar jika pernah terlanjur melakukan perbuatan ini, dan segera minta maaf kepada orang yang pernah kita hina.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?