Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits "مَنْ صَمَتَ نَجَا" (Barangsiapa diam, maka ia selamat) adalah salah satu prinsip agung dalam Islam yang mengajarkan pentingnya menjaga lisan. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam kitabnya, dan meskipun sanadnya dinilai gharib (hanya diriwayatkan melalui satu jalur) oleh Imam At-Tirmidzi, maknanya sangat didukung oleh banyak dalil lain dari Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih. Intinya, selamatnya seseorang di dunia dan akhirat sangat berkaitan dengan kemampuannya menjaga lisan dari perkataan yang sia-sia, berdusta, menggunjing, dan menyakiti orang lain.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Qaf [50]: 18:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu hadir (Raqib dan 'Atid)."
Ayat ini menegaskan bahwa setiap perkataan manusia dicatat oleh malaikat. Ini menunjukkan betapa besarnya tanggung jawab atas setiap kata yang keluar dari lisan kita.
2. Hadits-hadits Pendukung:
- Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Hadits ini sangat shahih dan menjadi fondasi utama makna hadits "diam itu selamat".
- Hadits dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, ketika beliau bertanya kepada Nabi ﷺ tentang amalan yang bisa memasukkannya ke surga dan menjauhkannya dari neraka, Nabi ﷺ bersabda: "Mahukah engkau aku tunjukkan kunci semua itu?" Mu'adz berkata, "Ya." Maka Nabi ﷺ memegang lidahnya seraya bersabda: "Jagalah ini!" Mu'adz bertanya, "Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena apa yang kita ucapkan?" Nabi ﷺ menjawab: "Semoga ibumu kehilanganmu, wahai Mu'adz! Bukankah manusia itu diseret ke neraka di atas wajah-wajah mereka (atau di atas hidung-hidung mereka) melainkan karena buah ucapan lisan mereka?" (HR. At-Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
3. Kaitan dengan Ulama:
- Imam At-Tirmidzi (dalam Sunan-nya) menilai hadits ini gharib dari jalur Ibnu Lahi'ah, namun beliau tetap meriwayatkannya karena maknanya sesuai dengan dalil-dalil lain.
- Imam An-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin dan Al-Adzkar sangat menekankan bab "Menjaga Lisan" dan membawakan banyak hadits tentang bahaya lisan, termasuk hadits ini.
- Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa menjaga lisan adalah bagian dari kesempurnaan iman dan merupakan ciri orang yang berakal.
Penjelasan Rinci
Hadits ini, meskipun sanadnya dinilai gharib oleh Imam At-Tirmidzi, memiliki makna yang sangat agung dan sejalan dengan banyak dalil lainnya. Para ulama menjelaskan bahwa "diam" yang dimaksud bukanlah diam mutlak tanpa berbicara sama sekali, karena hal itu bertentangan dengan perintah amar ma'ruf nahi munkar dan dakwah. Yang dimaksud adalah:
- Diam dari perkataan yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Imam An-Nawawi berkata, "Ketahuilah, hendaknya seseorang tidak berbicara kecuali jika ada kemaslahatan dalam pembicaraannya, dan ia melihat bahwa berbicara itu lebih bermanfaat daripada diam."
- Diam dari perkataan yang haram seperti dusta, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), dan perkataan kotor. Ini adalah tingkatan diam yang paling utama.
- Diam dari perkataan yang makruh dan berlebihan, karena perkataan yang mubah pun bisa menjadi tercela jika berlebihan dan melalaikan dari dzikir kepada Allah.
Pandangan Ulama:
- Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata: "Seseorang tidak akan merugi karena banyak diamnya, namun ia bisa merugi karena banyak bicaranya." Ini menunjukkan bahwa diam adalah keselamatan dari banyak kesalahan.
- Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata: "Seseorang tidak akan selamat dari kesalahan kecuali dengan diam." Beliau sangat menekankan bahwa lisan adalah sumber utama kesalahan manusia.
- Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Ad-Da' wad Dawa' menjelaskan bahwa lisan adalah "penerjemah hati" dan banyak dosa besar yang berawal dari lisan, seperti syirik (kesyirikan dalam perkataan), dusta, dan persaksian palsu.
Perbedaan Pendapat (Jika Ada):
Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama tentang keutamaan menjaga lisan. Perbedaan hanya pada tataran teknis, misalnya apakah diam lebih utama daripada berbicara yang mubah. Mayoritas ulama, seperti Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad, berpendapat bahwa jika berbicara itu mengandung maslahat, maka berbicara lebih utama daripada diam. Namun jika tidak ada maslahat, maka diam lebih utama. Ini adalah pendapat yang paling kuat dan sejalan dengan hadits "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah baik atau diam."
Story Telling
Dikisahkan bahwa Luqman Al-Hakim (yang namanya diabadikan dalam Al-Qur'an) pernah ditanya oleh anaknya, "Wahai ayahku, mengapa engkau diam? Padahal diam itu adalah sebuah musibah?" Luqman menjawab, "Wahai anakku, diam itu bukanlah musibah, tetapi musibah yang sebenarnya adalah banyak bicara yang sia-sia. Sesungguhnya diam itu adalah hikmah, dan sedikit sekali orang yang melakukannya."
Kisah ini menunjukkan bahwa sejak zaman dahulu, para ulama dan orang-orang bijak sangat memahami bahwa lisan adalah pedang bermata dua. Jika digunakan dengan baik, ia akan menjadi kebaikan yang besar. Jika tidak, ia akan menjadi sumber kehancuran. Kisah ini juga mengajarkan kita bahwa diam yang bijak adalah diam yang disertai dengan pemikiran dan kehati-hatian, bukan diam karena malas atau tidak peduli.
Kesimpulan Praktis
- Jaga lisan kita dari perkataan yang sia-sia. Sebelum berbicara, tanyakan pada diri sendiri: "Apakah perkataan ini bermanfaat untuk dunia dan akhiratku?"
- Hindari dosa-dosa lisan seperti dusta, ghibah, namimah, dan perkataan yang menyakiti hati orang lain. Ini adalah syarat utama untuk meraih "keselamatan" yang disebutkan dalam hadits.
- Biasakan diam ketika tidak ada keperluan. Ini akan melatih kita untuk lebih banyak berpikir, berdzikir, dan merenung.
- Jika ingin berbicara, pastikan perkataan itu baik atau setidaknya mengandung maslahat. Jika ragu, maka diam adalah pilihan yang lebih aman dan lebih utama.
- Ingatlah bahwa setiap perkataan kita dicatat oleh malaikat (QS. Qaf: 18). Kesadaran ini akan membuat kita lebih berhati-hati dalam berbicara.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.