Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2500 tentang Memuliakan tamu dan berkata baik atau diam

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah fondasi adab Islam yang agung. Rasulullah ﷺ mengaitkan dua amalan mulia—memuliakan tamu dan menjaga lisan—dengan keimanan kepada Allah dan hari akhir. Ini menunjukkan bahwa iman bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi harus tercermin dalam akhlak dan interaksi kita sehari-hari. Memuliakan tamu adalah wujud nyata keimanan, dan menjaga lisan (berkata baik atau diam) adalah bukti kematangan iman seorang muslim.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya, Kitab Sifat Kiamat, Raqaiq, dan Warak, no. 2500. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini shahih (hasan shahih dalam riwayat lain).

Teks Hadits (sebagaimana dalam riwayat):

حَدَّثَنَا سُوَيْدٌ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ"

Terjemahan: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam."

Kaitan dengan Ulama: Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abdullah bin al-Mubarak (salah satu ulama dalam daftar rujukan) dari gurunya Ma'mar, dari Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri). Sanad ini sangat kuat dan menunjukkan silsilah keilmuan yang mulia.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan "man kana yu'minu billahi wal-yaumil-akhir" (barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir) adalah bentuk dorongan yang sangat kuat. Ini bukan sekadar syarat, tetapi sebuah seruan agar iman kita benar-benar hidup dan berbuah.

1. Tentang Memuliakan Tamu (Falyukrim dhaifahu)

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa memuliakan tamu termasuk bagian dari keimanan dan akhlak para nabi, khususnya Nabi Ibrahim `alaihissalam` yang terkenal sangat memuliakan tamunya. Memuliakan tamu mencakup:

  • Menyambutnya dengan wajah ceria dan ucapan yang baik.
  • Menjamunya dengan makanan yang ada, sesuai kemampuan.
  • Tidak menyakiti atau membuatnya tidak nyaman.
  • Batas memuliakan tamu adalah tiga hari menurut sebagian ulama, sebagaimana dalam hadits lain, namun tetap dianjurkan untuk berbuat baik melebihi itu.

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa memuliakan tamu adalah hak yang harus ditunaikan, dan ini adalah bagian dari syiar Islam yang mulia. Tamu yang datang membawa berkah, dan malaikat turun bersama rahmat.

2. Tentang Berkata Baik atau Diam (Falyakul khairan au liyasmut)

Ini adalah kaidah emas dalam menjaga lisan. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa siapa yang tidak mampu berkata baik, maka lebih baik diam. Karena diam adalah keselamatan dari keburukan lisan.

Imam An-Nawawi juga menegaskan bahwa hadits ini adalah perintah untuk menjaga lisan dari perkataan yang sia-sia, apalagi yang haram. Jika seseorang ingin berbicara, maka hendaknya ia memikirkan: jika perkataannya mengandung kebaikan, silakan berbicara; jika tidak atau bahkan mengandung keburukan, maka diamlah.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa lisan adalah anggota tubuh yang paling banyak menjerumuskan manusia ke neraka. Oleh karena itu, kunci keselamatan adalah menahan lisan kecuali untuk perkataan yang baik.

Hikmah Pengaitan dengan Iman: Mengapa Rasulullah ﷺ mengaitkan dua hal ini dengan iman kepada Allah dan hari akhir? Karena:

  • Iman kepada Allah membuat kita sadar bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi perbuatan kita.
  • Iman kepada hari akhir membuat kita sadar bahwa semua perbuatan akan dihisab dan dibalas. Orang yang benar-benar yakin akan hisab, ia akan berhati-hati dalam bertutur kata dan bersikap.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Abdullah bin al-Mubarak—guru yang meriwayatkan hadits ini dalam sanadnya—adalah seorang yang sangat dermawan dan memuliakan tamu. Suatu ketika, ia kedatangan tamu di musim dingin yang sangat membeku. Ia tidak memiliki apa pun untuk menjamu tamunya selain sedikit makanan. Maka ia menyalakan api unggun untuk menghangatkan tamunya, lalu berkata kepada pembantunya, "Carikan sesuatu untuk kita jamu tamu ini." Pembantunya tidak menemukan apa pun. Maka Imam Ibnul Mubarak keluar dan membeli makanan dengan seluruh uang yang ia miliki, lalu ia berkata, "Aku lebih memilih malu kepada Allah dan tamu-Nya daripada memiliki harta yang tersimpan."

Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama salaf benar-benar mengamalkan hadits ini. Mereka memahami bahwa memuliakan tamu adalah bagian dari iman yang harus diwujudkan dengan pengorbanan, bukan sekadar basa-basi.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadikan iman sebagai penggerak akhlak. Setiap kali ingin berbuat atau berkata, ingatlah bahwa Allah melihat dan hari akhir akan mempertanggungjawabkan semua.
  2. Biasakan memuliakan tamu dengan senyum, ucapan baik, dan jamuan sesuai kemampuan. Jangan merasa berat, karena ini adalah ibadah.
  3. Latih lisan untuk berkata baik. Sebelum berbicara, tanyakan pada diri: "Apakah ini perlu? Apakah ini baik?" Jika ragu, lebih baik diam.
  4. Jadikan diam sebagai perisai. Diam bukan berarti tidak peduli, tetapi menjaga diri dari perkataan yang sia-sia atau menyakiti.
  5. Ajarkan adab ini kepada keluarga. Karena hadits ini adalah warisan Nabi ﷺ yang harus hidup dalam rumah tangga kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?