Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2493 tentang Keutamaan menahan amarah dan ganjaran bidadari

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi orang-orang yang mampu menahan amarahnya. Ketika seseorang marah, tetapi ia memilih untuk menahan dan mengendalikan diri padahal ia mampu untuk membalas atau melampiaskannya, maka Allah akan memberikan kehormatan yang luar biasa di Hari Kiamat nanti, yaitu memanggilnya di hadapan seluruh makhluk untuk memilih bidadari yang ia inginkan. Ini menunjukkan betapa tingginya derajat orang yang mampu mengendalikan amarah karena Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:

Teks hadits yang Anda sertakan adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، وَعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدُّورِيُّ، قَالاَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ، حَدَّثَنِي أَبُو مَرْحُومٍ عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ مَيْمُونٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ " مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي أَىِّ الْحُورِ شَاءَ " . قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ .

Terjemahan: "Sahl bin Mu'ad bin Anas menceritakan dari ayahnya, bahwa Nabi ﷺ bersabda: 'Siapa yang menahan amarahnya, padahal ia mampu untuk melaksanakannya, Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk [pada Hari Kiamat] agar ia bisa memilih mana di antara para bidadari yang ia kehendaki.'" (HR. At-Tirmidzi no. 2493)

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini dinilai hasan gharib oleh Imam At-Tirmidzi. Para ulama seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam kitab Shahih Sunan At-Tirmidzi juga menilai hadits ini hasan. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, dan dinilai hasan oleh para ulama.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Ali 'Imran [3]: 134:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."

Penjelasan Rinci

Makna "كَظَمَ غَيْظًا" (menahan amarah):

Para ulama menjelaskan bahwa kazhmul ghayzh (menahan amarah) adalah menahan diri dari melampiaskan kemarahan ketika seseorang mampu untuk melakukannya. Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa menahan amarah adalah puncak kesabaran dan tanda kekuatan jiwa, bukan kelemahan. Justru orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya saat marah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain: "Orang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi orang yang mampu menahan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna "وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يُنَفِّذَهُ" (padahal ia mampu untuk melaksanakannya):

Syarat ini menunjukkan bahwa pahala besar ini diberikan kepada orang yang benar-benar mampu membalas atau melampiaskan amarahnya, tetapi ia memilih untuk menahannya karena Allah. Ini membedakan antara orang yang menahan amarah karena tidak mampu (terpaksa) dengan orang yang menahan amarah karena ikhlas karena Allah.

Makna "دَعَاهُ اللَّهُ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ" (Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk):

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah bentuk penghormatan dan kemuliaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang sabar. Allah memanggilnya secara khusus di hadapan seluruh makhluk sebagai bentuk pujian dan pengakuan atas kesabarannya. Ini adalah kehormatan yang tidak diberikan kepada kebanyakan orang.

Makna "حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي أَىِّ الْحُورِ شَاءَ" (hingga ia bisa memilih bidadari mana yang ia kehendaki):

Ini adalah balasan yang sangat besar. Imam Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa Allah memberikan hak pilih kepada hamba-Nya yang menahan amarah untuk memilih bidadari yang ia inginkan di surga. Ini menunjukkan bahwa Allah sangat menghargai perjuangan orang tersebut dalam mengendalikan hawa nafsunya di dunia.

Pelajaran dari Ulama:

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Janganlah kalian marah." Beliau mengulanginya beberapa kali. Ini menunjukkan bahwa menahan amarah adalah akhlak yang sangat ditekankan dalam Islam.

Sufyan ats-Tsauri berkata: "Menahan amarah adalah obat dari segala keburukan." Beliau juga berkata: "Seseorang tidak akan mencapai derajat sabar hingga ia mampu menahan amarahnya ketika ia mampu untuk melampiaskannya."

Fudail bin 'Iyadh berkata: "Barangsiapa yang menahan amarahnya karena Allah, maka Allah akan menahan azab-Nya darinya."

Story Telling

Dikisahkan bahwa Al-Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang hakikat kesabaran. Beliau menjawab: "Sabar adalah ketika seseorang ditimpa musibah, ia tidak mengeluh, dan ketika ia mampu membalas kejahatan, ia memilih untuk memaafkan."

Ada juga kisah tentang seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhu. Suatu hari, beliau sedang berjalan bersama seorang pemuda. Tiba-tiba pemuda itu berkata dengan kasar kepada beliau. Abdullah bin Amr hanya tersenyum dan berkata: "Engkau telah berkata kasar kepadaku, padahal di antara kami ada sungai yang besar (maksudnya: engkau telah melampaui batas)." Kemudian beliau melanjutkan: "Sesungguhnya orang-orang yang kuat adalah mereka yang mampu menahan amarahnya." Pemuda itu pun tersadar dan meminta maaf.

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat dan ulama salaf benar-benar mengamalkan akhlak menahan amarah ini dalam kehidupan sehari-hari, bahkan kepada orang yang berlaku kasar kepada mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Latih diri untuk menahan amarah setiap kali muncul rasa marah, terutama saat kita mampu untuk membalas.
  2. Ingatlah balasan Allah yang sangat besar bagi orang yang menahan amarah, yaitu dipanggil di hadapan seluruh makhluk dan diberi hak memilih bidadari di surga.
  3. Berlindunglah kepada Allah dari godaan setan saat marah, karena setan senang melihat manusia saling bermusuhan.
  4. Ubah posisi saat marah: jika berdiri, duduklah; jika duduk, berbaringlah, sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ.
  5. Biasakan berwudhu saat marah, karena air dapat meredakan panasnya amarah.
  6. Jadikan menahan amarah sebagai jalan menuju surga, karena ini adalah akhlak para Nabi dan orang-orang shalih.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?