Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan ancaman keras bagi orang yang sombong (mutakabbir). Pada hari kiamat mereka dihinakan: dihimpun seperti semut kecil, berwujud manusia, diselimuti kehinaan dari segala arah, lalu diseret ke penjara di neraka bernama Bulas, dan diberi minum dari perasan/kotoran penghuni neraka. Ini menunjukkan bahwa kesombongan adalah dosa besar yang wajib dijauhi, dan kerendahan hati (tawadhu') adalah jalan keselamatan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an terkait:
QS. Al-Isra' [17]: 37
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
Terjemahan: "Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung."
QS. Luqman [31]: 18
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Terjemahan: "Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."
Hadits terkait dari kitab shahih:
Hadits dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Terjemahan: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi." (HR. Muslim)
Kaitan dengan ulama:
- Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits ini dalam Jami'-nya dan menilainya hasan.
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa kibr (sombong) adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.
- Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menegaskan bahwa kesombongan adalah sifat yang paling dibenci Allah, karena ia menyerupai sifat rububiyah yang hanya milik Allah.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa kesombongan merusak hati sebagaimana racun merusak tubuh.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Hadits ini menggambarkan hukuman bagi orang sombong di akhirat. Mereka yang di dunia merasa besar dan tinggi, di akhirat justru dijadikan kecil seperti dzarrah (semut kecil). Wujudnya tetap manusia, tetapi keadaannya hina. Kehinaan menutupi mereka dari segala penjuru, lalu mereka digiring ke penjara di neraka bernama Bulas, ditimpa api yang menyala-nyala, dan diberi minum dari 'usharah ahl an-nar — perasan atau cairan kotor dari penghuni neraka, yaitu thinah al-khabal (tanah kehancuran/kotoran).
Pemahaman ulama:
Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang kibr menunjukkan bahwa kesombongan adalah dosa besar (kabair). Beliau menegaskan bahwa kibr terbagi menjadi dua: (1) menolak kebenaran, dan (2) merendahkan makhluk. Keduanya tercela.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa orang sombong dihinakan Allah di dunia dan akhirat. Di dunia mereka kehilangan kasih sayang manusia, di akhirat mereka mendapat azab yang pedih.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa kesombongan adalah sifat Iblis yang pertama kali muncul, dan siapa yang meniru Iblis maka ia akan menanggung akibatnya.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa kibr adalah penghalang terbesar antara hamba dan Allah. Orang sombong tidak akan merasakan manisnya iman dan tidak akan masuk surga selama kesombongan ada di hatinya.
Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa kesombongan adalah sifat yang bertentangan dengan tauhid dan kehambaan. Orang sombong merasa dirinya besar, padahal ia hanyalah hamba yang lemah.
Perbedaan pendapat:
Para ulama sepakat bahwa kibr adalah dosa besar. Perbedaan hanya pada apakah orang sombong yang masih beriman akan masuk neraka selamanya atau tidak. Menurut Ahlus Sunnah, orang beriman yang berdosa besar (termasuk sombong) tidak kekal di neraka jika tauhidnya masih ada, tetapi ia akan disiksa sesuai kadar dosanya, lalu dikeluarkan dari neraka. Ini pendapat Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa dan Ibnu Qayyim dalam Madarij as-Salikin.
Yang paling kuat: Hadits ini menunjukkan ancaman berat, tetapi tidak menunjukkan kekekalan di neraka bagi orang beriman. Namun, seorang mukmin harus menjauhi kesombongan sepenuhnya karena ia adalah sifat yang sangat berbahaya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak (perawi hadits ini) adalah seorang ulama yang sangat tawadhu'. Meskipun beliau terkenal sebagai ahli hadits dan zuhud, beliau tidak pernah merasa lebih tinggi dari orang lain. Beliau pernah berkata: "Aku tidak mengetahui suatu amal yang lebih utama daripada merendahkan diri di hadapan Allah."
Suatu ketika, seseorang memuji Fudail bin 'Iyadh di hadapannya. Beliau justru menangis dan berkata: "Jika aku dibandingkan dengan orang-orang saleh, aku hanyalah seperti debu." Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat takut terhadap sifat sombong, bahkan ketika mereka sudah mencapai derajat tinggi dalam ilmu dan ibadah.
Hikmah: Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia merendahkan diri, karena ia menyadari betapa besar hak Allah dan betapa banyak kekurangan dirinya.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi kesombongan dalam segala bentuknya: merasa lebih baik dari orang lain, menolak kebenaran, atau merendahkan makhluk.
- Latih diri dengan tawadhu' (rendah hati) dalam ucapan, perbuatan, dan hati.
- Ingat akhirat: Hadits ini mengingatkan bahwa kesombongan akan berujung pada kehinaan abadi jika tidak bertaubat.
- Bertaubatlah jika merasa memiliki sifat sombong, dan mintalah kepada Allah agar membersihkan hati.
- Bergaullah dengan orang saleh yang tawadhu' agar kita terhindar dari sifat tercela ini.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.