Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2483 tentang Larangan berharap mati dan pahala atas pengeluaran

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi dua pelajaran besar: larangan berharap mati karena kesulitan atau penyakit, dan jangan berlebihan dalam membangun karena bangunan tidak mendatangkan pahala (bahkan bisa menjadi beban). Khabbab bin Arat radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang mulia, meskipun menderita sakit yang sangat berat dan telah diobati dengan kay (besi panas) di tujuh tempat, tetap bersabar dan tidak berharap mati karena mengikuti larangan Nabi ﷺ. Ini adalah teladan kesabaran yang luar biasa.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat At-Tirmidzi (No. 2483):

Teks Arab hadits di atas sudah Anda sertakan. Hadits ini dinilai hasan shahih oleh Imam At-Tirmidzi. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (Kitab Ad-Dzikr wa Ad-Du'a, Bab "La Tamannau Al-Maut") dari jalur yang sama, dan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya.

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

"Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 155)

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan berharap mati ini adalah larangan makruh (tidak disukai) jika tujuannya karena bosan dengan ujian dunia. Namun, jika ada kebutuhan syar'i, seperti takut fitnah dalam agama, maka tidak mengapa berharap mati.
  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) membahas hadits-hadits tentang larangan berharap mati dan menjelaskan hikmahnya, yaitu agar seorang hamba tetap beramal dan memperbanyak kebaikan selama hidupnya.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa makna "kecuali debu (at-turab)" atau "pembangunan (al-bina')" adalah bahwa semua harta yang dibelanjakan akan menjadi pahala, kecuali yang digunakan untuk membangun rumah yang berlebihan dan tidak dibutuhkan, karena itu tidak mendatangkan pahala.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung dua pesan utama yang saling berkaitan:

1. Larangan Berharap Mati Karena Kesulitan

Khabbab bin Arat radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang sangat mulia. Beliau termasuk orang yang pertama masuk Islam dan sangat disiksa oleh kaum Quraisy. Dalam riwayat lain, beliau pernah dibakar dengan api di punggungnya. Di akhir hayatnya, beliau menderita sakit yang sangat berat hingga beliau melakukan kay (pengobatan dengan besi panas) di tujuh tempat di tubuhnya.

Meskipun sakitnya sangat berat, beliau menahan diri untuk tidak berharap mati. Beliau ingat sabda Nabi ﷺ: "Janganlah salah seorang dari kalian berharap mati karena suatu musibah yang menimpanya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Para ulama menjelaskan hikmah larangan ini:

  • Imam An-Nawawi berkata: "Sebab larangan ini adalah karena berharap mati menunjukkan ketidaksabaran dalam menghadapi takdir Allah, dan juga memutus amal. Karena selama masih hidup, seorang hamba bisa memperbanyak amal shalih. Sedangkan kematian akan datang pada waktunya yang telah ditentukan."
  • Syaikh Al-Utsaimin menambahkan: "Seorang mukmin seharusnya tidak berharap mati karena kesulitan. Karena bisa jadi kesulitan itu adalah penghapus dosa-dosanya. Dan bisa jadi setelah kesulitan itu ada kemudahan. Allah ﷻ berfirman: 'Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.' (QS. Asy-Syarh [94]: 5)."

2. Pahala dalam Nafkah dan Peringatan dari Berlebihan Membangun

Khabbab radhiyallahu 'anhu juga menyampaikan sabda Nabi ﷺ: "Seorang lelaki diberi pahala untuk semua pengeluarannya kecuali debu (atau: dalam pembangunan)."

Maknanya: Semua harta yang dibelanjakan seorang muslim untuk kebutuhannya — baik untuk makanan, minuman, pakaian, keluarga, sedekah, dan kebaikan lainnya — akan dicatat sebagai pahala baginya. Namun, harta yang dibelanjakan untuk membangun (rumah atau bangunan) yang berlebihan dan tidak sesuai kebutuhan, maka itu tidak mendatangkan pahala. Bahkan bisa menjadi beban dan penyesalan di akhirat.

Imam Al-Qurthubi (yang sejalan dengan pemahaman ulama di daftar) menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah bangunan yang berlebihan dan sia-sia. Adapun membangun rumah sesuai kebutuhan untuk tempat tinggal yang layak, maka itu tidak mengapa dan bisa bernilai pahala jika diniatkan untuk kebaikan.

Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa harta adalah titipan Allah. Jika digunakan untuk hal yang bermanfaat, maka menjadi pahala. Jika digunakan untuk hal yang sia-sia, maka menjadi kerugian.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang Khabbab bin Arat radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah budak yang dimerdekakan oleh Ummu Anmar al-Khuza'iyyah. Beliau termasuk orang-orang pertama yang masuk Islam. Kaum Quraisy menyiksanya dengan sangat kejam. Mereka membaringkannya di atas bara api hingga daging punggungnya terbakar.

Ketika Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu menjadi khalifah, beliau bertanya kepada Khabbab: "Bagaimana keadaanmu?" Khabbab menjawab: "Wahai Umar, jika bukan karena Rasulullah ﷺ melarang kita berharap mati, niscaya aku akan berharap mati. Sungguh, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang lebih berat ujiannya daripada kami para sahabat. Kami disiksa dengan api, tetapi kami tetap teguh."

Umar berkata: "Kamu benar. Demi Allah, tidak ada hari yang lebih baik daripada hari di mana seorang mukmin bertemu dengan Rabbnya dalam keadaan telah melewati ujian dengan sabar."

Kisah ini menunjukkan betapa beratnya ujian para sahabat, namun mereka tetap teguh dan sabar. Mereka tidak mengeluh, tidak berharap mati, dan tetap berpegang pada petunjuk Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan berharap mati karena kesulitan, penyakit, atau musibah. Sebaliknya, berdoalah: "Ya Allah, hidupkanlah aku selama hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika mati itu lebih baik bagiku." (HR. Bukhari dan Muslim).
  2. Bersabarlah dalam menghadapi ujian. Setiap kesulitan yang menimpa seorang mukmin adalah penghapus dosa dan pengangkat derajat.
  3. Perhatikan pengeluaran harta. Semua nafkah untuk kebutuhan halal bernilai pahala. Namun, hindari berlebihan dalam membangun rumah atau bangunan yang tidak dibutuhkan.
  4. Niatkan setiap pengeluaran untuk kebaikan, agar semua menjadi pahala di sisi Allah.
  5. Teladani kesabaran para sahabat seperti Khabbab bin Arat yang tetap teguh meskipun sakit dan ujian sangat berat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.