Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan dua hal besar: (1) pentingnya mengingat Allah dan mengingat kematian, karena hari kiamat dan kematian pasti datang; dan (2) keutamaan memperbanyak shalawat kepada Nabi ﷺ, sampai jika seluruh waktu doa dijadikan shalawat, maka Allah akan mencukupkan urusan dunia dan mengampuni dosa. Ini adalah hadits hasan menurut Imam at-Tirmidzi, dan maknanya sangat agung bagi kehidupan sehari-hari.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Hajj [22]: 1
إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ
Terjemahan: "Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar."
QS. Al-A'la [87]: 14–15
قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ
Terjemahan: "Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri, dan mengingat nama Tuhannya lalu dia shalat."
QS. Al-Ahzab [33]: 56
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Terjemahan: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kepada Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan."
Hadits terkait:
- Hadits Ubay bin Ka'b ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi (no. 2457) dan beliau menilainya hasan. Perawi dari sahabat: Ubay bin Ka'b رضي الله عنه.
- Hadits lain dari Abu Hurairah رضي الله عنه tentang keutamaan shalawat, diriwayatkan Muslim, bahwa siapa yang bershalawat sekali, Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.
Kaitan dengan ulama:
- Imam at-Tirmidzi menilai hadits ini hasan, sehingga layak diamalkan dalam fadhail (keutamaan amal).
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam penjelasan hadits-hadits shalawat menegaskan bahwa memperbanyak shalawat termasuk amal yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat.
- Imam an-Nawawi dalam kitab-kitabnya tentang adzkar menekankan keutamaan shalawat dan bahwa ia menjadi sebab terangkatnya derajat serta terhapusnya dosa.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya tentang shalawat menjelaskan bahwa shalawat memiliki pengaruh besar dalam mencukupkan kebutuhan hamba dan menghilangkan kesusahan.
Penjelasan Rinci
1. Waktu bangun Nabi ﷺ di sepertiga malam terakhir.
Nabi ﷺ bangun di waktu yang penuh berkah, yaitu ketika sepertiga malam terakhir, waktu turunnya rahmat dan waktu dikabulkannya doa. Beliau tidak hanya shalat, tetapi juga menyeru manusia: "Wahai manusia, ingatlah Allah!" Ini menunjukkan bahwa dzikir dan mengingat Allah adalah kebutuhan utama, bukan hanya amalan sunnah biasa. Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah menekankan bahwa dzikir menghidupkan hati dan menjauhkan kelalaian.
2. "Jā'atir-rājifah, tatba'uhar-rādifah."
Para ulama tafsir dari daftar, seperti Mujahid, Qatadah, dan Ibn Katsir, menjelaskan bahwa ar-rājifah adalah goncangan pertama (tiupan sangkakala pertama yang mengguncang alam), dan ar-rādifah adalah yang mengikutinya (tiupan kedua). Ini isyarat bahwa kiamat itu pasti dan berurutan, tidak bisa dihindari. As-Sa'di menjelaskan bahwa penyebutan dua goncangan ini untuk menggugah hati agar bersiap.
3. "Jā'al-mautu bimā fīh."
"Kematian datang dengan segala isinya" — maksudnya kematian membawa serta apa yang menyertainya: hisab, amal, dan akibatnya. Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya tentang kematian menegaskan bahwa mengingat kematian adalah obat hati yang keras dan pemutus kelalaian. Fudail bin 'Iyadh terkenal dengan nasihatnya agar manusia mengingat kematian sebagai penasihat yang paling jujur.
4. Dialog Ubay bin Ka'b tentang shalawat.
Ubay bertanya: "Aku banyak bershalawat untukmu, berapa banyak yang harus aku jadikan untukmu?" Nabi ﷺ menjawab bertahap: seperempat, setengah, dua pertiga — semuanya beliau jawab "terserah, dan jika menambah lebih baik." Hingga Ubay berkata: "Aku jadikan seluruh doaku untukmu." Nabi ﷺ menjawab: "Idzan tukfā hammuka wa yughfaru dzanbuka" — "Maka engkau akan dicukupkan dari kesusahanmu dan diampuni dosamu."
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa makna "menjadikan shalawat sebagai seluruh doa" adalah seseorang mengisi waktu doanya dengan shalawat, bukan berarti meninggalkan doa lain sama sekali, tetapi menjadikan shalawat sebagai inti dan yang terbanyak. Ibn Qayyim menegaskan bahwa shalawat adalah doa yang paling utama dan paling mustajab, karena ia mengandung pujian kepada Nabi ﷺ dan permohonan rahmat, serta mendatangkan kecukupan dari Allah.
5. Perbedaan pendapat ringkas.
Sebagian ulama memahami "menjadikan seluruh shalawat" secara harfiah: seluruh waktu doa diisi shalawat. Sebagian lain memahami: menjadikan shalawat sebagai bagian terbesar dari doa. Yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Imam an-Nawawi dan Ibn Qayyim — adalah memperbanyak shalawat dalam doa, dan ini tidak berarti meninggalkan doa-doa lain yang disyariatkan, tetapi menjadikan shalawat sebagai amalan utama yang menyertai doa.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Ubay bin Ka'b رضي الله عنه, sahabat yang mulia dan salah satu penulis wahyu, sangat mencintai Nabi ﷺ. Ia bertanya dengan penuh adab: "Wahai Rasulullah, aku banyak bershalawat untukmu, berapa banyak yang harus aku jadikan untukmu?" Nabi ﷺ menjawab lembut, bertahap, hingga akhirnya Ubay berkata: "Aku jadikan seluruh doaku untukmu." Maka Nabi ﷺ memberi kabar gembira: "Maka engkau akan dicukupkan dari kesusahanmu dan diampuni dosamu."
Hikmahnya: cinta kepada Nabi ﷺ yang benar akan mendorong seseorang memperbanyak shalawat, dan shalawat itu sendiri menjadi sebab Allah mencukupkan kebutuhan dunia dan akhirat. Ibn Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa orang yang banyak bershalawat akan mendapat cahaya di hari kiamat dan kedekatan dengan Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Hidupkan dzikir dan ingat kematian. Seperti Nabi ﷺ menyeru "Ingatlah Allah!", jadikan dzikir sebagai kebiasaan harian, terutama di waktu-waktu mulia seperti sepertiga malam terakhir.
- Perbanyak shalawat kepada Nabi ﷺ. Mulailah dari yang mudah: seperempat waktu doa, lalu tingkatkan. Shalawat adalah amal ringan namun besar pahalanya.
- Jadikan shalawat sebagai inti doa. Ketika berdoa, awali dan akhiri dengan shalawat, dan perbanyaklah di dalamnya.
- Yakinlah janji Nabi ﷺ. Siapa yang memperbanyak shalawat dengan ikhlas, Allah akan mencukupkan kesusahannya dan mengampuni dosanya — ini janji yang shahih dan hasan.
- Jangan tinggalkan doa-doa lain yang disyariatkan, tetapi jadikan shalawat sebagai amalan yang paling banyak dan utama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.