Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2437 tentang Tujuh puluh ribu umat masuk surga tanpa hisab

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan janji Allah kepada Nabi ﷺ bahwa sebagian besar umat beliau akan masuk surga tanpa dihisab dan tanpa diazab. Angka tujuh puluh ribu, lalu setiap seribu diikuti tujuh puluh ribu, dan tiga cakupan dari cakupan rahmat Allah, menunjukkan luasnya karunia Allah bagi umat Nabi Muhammad ﷺ. Ini adalah hadits tentang harapan dan rahmat, bukan sarana untuk meninggalkan amal.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hijr [15]: 49

وَنَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Terjemahan: "Dan kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

QS. Az-Zumar [39]: 53

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Terjemahan: "Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'"

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahili (radhiyallahu 'anhu) melalui jalur Muhammad bin Ziyad al-Alhani, dan dicatat oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Deskripsi Hari Kiamat (no. 2437). At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib.

Hadits senada juga terdapat dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Abbas (radhiyallahu 'anhuma) tentang tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab, yang wajah mereka bercahaya seperti bulan purnama. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa angka-angka ini menunjukkan besarnya karunia Allah, bukan pembatasan jumlah yang sebenarnya.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah menjanjikan kepadanya bahwa dari umatnya akan dimasukkan ke surga tanpa hisab (perhitungan amal) dan tanpa azab. Ini adalah keutamaan besar yang khusus bagi umat Nabi Muhammad ﷺ dibanding umat-umat sebelumnya.

Pemahaman para ulama dalam daftar:

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab menunjukkan keutamaan umat ini dan luasnya rahmat Allah. Beliau menegaskan bahwa angka tersebut bukan berarti hanya tujuh puluh ribu saja, karena hadits ini menyebutkan penggandaan: setiap seribu diikuti tujuh puluh ribu, dan ditambah tiga cakupan dari cakupan Allah.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang dimaksud "tujuh puluh ribu tanpa hisab". Sebagian mengatakan mereka adalah orang-orang yang bertawakal, tidak melakukan ruqyah, tidak meminta diruqyah, dan tidak beranggapan sial. Namun Ibnu Hajar menegaskan bahwa angka ini adalah simbol keluasan rahmat, dan Allah mengetahui siapa saja yang termasuk di dalamnya.

Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa janji Allah kepada Nabi ﷺ tentang umatnya yang masuk surga tanpa hisab adalah bagian dari kemuliaan Nabi ﷺ dan syafaatnya. Beliau mengaitkan ini dengan ayat-ayat tentang rahmat Allah yang luas.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Hadi al-Arwah menjelaskan bahwa "tiga cakupan dari cakupan-Nya" (tsalatsu hatsayaat) adalah kiasan tentang luasnya rahmat Allah yang tidak terbatas, karena Allah Maha Luas pemberian-Nya.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa rahmat Allah meliputi segala sesuatu, dan janji ini adalah bentuk khusus rahmat bagi umat Nabi ﷺ.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama memahami angka-angka ini secara literal (hakiki), sebagian lain memahaminya sebagai kiasan tentang banyaknya jumlah yang tidak terhitung. Yang paling kuat adalah pendapat yang menggabungkan keduanya: angka tersebut benar adanya, namun tidak membatasi rahmat Allah yang lebih luas lagi. Ini sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dan An-Nawawi.

Catatan tentang status hadits:

At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib. "Gharib" berarti jalur periwayatannya sedikit atau tunggal pada sebagian tingkatan. Meski demikian, maknanya didukung oleh hadits-hadits shahih dalam Al-Bukhari dan Muslim tentang tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab, sehingga maknanya kuat dan dapat diterima.

Story Telling

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas (radhiyallahu 'anhuma), bahwa Nabi ﷺ suatu hari bersabda di hadapan para sahabat:

"Ditampakkan kepadaku umat-umat, aku melihat seorang nabi dengan pengikut yang sedikit, seorang nabi dengan pengikut satu atau dua orang, dan seorang nabi tanpa pengikut. Kemudian ditampakkan kepadaku sekelompok besar manusia, aku mengira mereka adalah umatku, tetapi dikatakan: 'Itu adalah Musa dan kaumnya.' Kemudian dikatakan: 'Lihatlah ke ufuk.' Ternyata ada sekelompok besar manusia. Dikatakan: 'Mereka adalah umatmu, dan bersama mereka tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab.'"

Kemudian Nabi ﷺ masuk ke rumah dan para sahabat membahas siapa mereka. Sebagian berkata: "Mungkin mereka adalah orang-orang yang lahir dalam Islam dan tidak menyekutukan Allah." Lalu Nabi ﷺ keluar dan bersabda: "Mereka adalah orang-orang yang tidak melakukan ruqyah, tidak meminta diruqyah, tidak beranggapan sial, dan kepada Tuhan mereka mereka bertawakal."

(Hikmah: Janji ini adalah penghormatan bagi umat Nabi ﷺ, dan jalan menuju keutamaan tersebut adalah tauhid yang murni dan tawakal yang benar kepada Allah.)

Kesimpulan Praktis

  1. Berbaik sangka kepada Allah. Hadits ini mengajarkan bahwa rahmat Allah sangat luas, jauh melebihi amal kita. Jangan berputus asa dari rahmat-Nya.
  2. Jangan meninggalkan amal. Janji masuk surga tanpa hisab bukan alasan untuk bermalas-malasan, tetapi motivasi untuk memperkuat tauhid, tawakal, dan amal saleh.
  3. Perkuat tauhid dan tawakal. Para ulama menjelaskan bahwa jalan menuju keutamaan ini adalah kemurnian tauhid dan ketergantungan hati hanya kepada Allah.
  4. Jauhi ghuluw dan sikap merasa pasti masuk surga. Kita berharap kepada Allah, namun tetap takut dan beramal, karena tidak ada yang mengetahui akhir hidupnya kecuali Allah.
  5. Bersyukur menjadi umat Nabi Muhammad ﷺ. Keutamaan ini adalah kemuliaan yang Allah berikan kepada umat ini melalui Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?