Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 242 tentang Doa iftitah dan perlindungan dari godaan setan saat shalat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan doa iftitah (pembuka shalat) yang diajarkan Nabi ﷺ ketika memulai shalat malam. Inti bacaannya adalah memuji Allah, mensucikan-Nya, mengagungkan nama dan keagungan-Nya, lalu dilanjutkan dengan ta'awudz (memohon perlindungan) dari gangguan syaitan. Para ulama berbeda pendapat tentang keabsahan sanad hadits ini, namun sebagian ulama tetap mengamalkannya karena maknanya baik dan sesuai dengan dalil-dalil lain yang shahih.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi (No. 242)

Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

> "Adalah Rasulullah ﷺ apabila berdiri untuk shalat malam, beliau bertakbir kemudian mengucapkan: 'Subhanaka Allahumma wa bihamdika wa tabarakasmuka wa ta'ala jadduka wa la ilaha ghairuk' (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, dan Maha Berkah nama-Mu, dan Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau). Kemudian beliau mengucapkan: 'Allahu Akbaru kabira' (Allah Maha Besar dengan kebesaran yang sempurna). Kemudian beliau mengucapkan: 'A'udzu billahis sami'il 'alim minasy syaithanir rajim, min hamzihi wa nafkhihi wa nafatsihi' (Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari syaitan yang terkutuk, dari bisikannya, sombongnya, dan tiupannya)."

Komentar Imam At-Tirmidzi dalam kitabnya Sunan At-Tirmidzi:

  • "Dalam bab ini ada riwayat dari Ali, Aisyah, Abdullah bin Mas'ud, Jabir, Jubair bin Muth'im, dan Ibnu Umar."
  • "Hadits Abu Sa'id adalah hadits yang paling masyhur dalam bab ini."
  • "Sebagian ulama mengambil hadits ini, namun kebanyakan ulama berpegang dengan riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengucapkan 'Subhanaka Allahumma wa bihamdika wa tabarakasmuka wa ta'ala jadduka wa la ilaha ghairuk' saja (tanpa tambahan ta'awudz). Demikianlah yang diriwayatkan dari Umar bin Khaththab dan Abdullah bin Mas'ud."
  • "Amalan ini yang dipegang oleh kebanyakan ulama dari kalangan tabi'in dan selain mereka."
  • "Ada pembicaraan tentang sanad hadits Abu Sa'id ini. Yahya bin Sa'id mengkritik Ali bin Ali Ar-Rifa'i, dan Imam Ahmad berkata: 'Hadits ini tidak shahih.'"

Catatan Penting: Imam At-Tirmidzi sendiri menegaskan bahwa kebanyakan ulama mengamalkan doa iftitah yang diriwayatkan dari Umar bin Khaththab dan Abdullah bin Mas'ud, yaitu:

> "Subhanaka Allahumma wa bihamdika wa tabarakasmuka wa ta'ala jadduka wa la ilaha ghairuk"

Doa ini juga diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari hadits Aisyah radhiyallahu 'anha (no. 598) dengan sanad yang shahih.

Penjelasan Rinci

1. Kedudukan Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya. Namun perlu diketahui bahwa sanadnya diperselisihkan. Imam Ahmad bin Hanbal berkata hadits ini tidak shahih karena adanya kritikan terhadap perawi Ali bin Ali Ar-Rifa'i. Imam Yahya bin Sa'id Al-Qaththan juga mengkritik perawi tersebut.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Irwa'ul Ghalil (no. 341) menilai hadits ini dha'if (lemah) karena kelemahan pada Ali bin Ali Ar-Rifa'i. Namun Syaikh Al-Albani juga menjelaskan bahwa sebagian isi hadits ini—yaitu doa "Subhanaka Allahumma wa bihamdika..."—memiliki penguat dari hadits Aisyah dalam Shahih Muslim.

2. Kandungan Doa Iftitah

Doa iftitah yang shahih dari Nabi ﷺ (diriwayatkan Muslim dari Aisyah) adalah:

> "Subhanaka Allahumma wa bihamdika wa tabarakasmuka wa ta'ala jadduka wa la ilaha ghairuk"

Maknanya:

  • Subhanaka — Maha Suci Engkau dari segala kekurangan dan kelemahan
  • Allahumma wa bihamdika — Ya Allah, dan dengan pujian kepada-Mu (aku mensucikan-Mu)
  • Wa tabarakasmuka — Maha Berkah nama-Mu, artinya nama-Mu membawa kebaikan dan keberkahan yang banyak
  • Wa ta'ala jadduka — Maha Tinggi keagungan-Mu, artinya kebesaran dan keagungan-Mu di atas segala-galanya
  • Wa la ilaha ghairuk — Tidak ada sesembahan yang benar selain Engkau

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa mensucikan Allah (tasbih) adalah fondasi ibadah, karena seorang hamba mengakui kesempurnaan Allah dan kekurangan dirinya. Ini adalah adab seorang hamba di hadapan Rabb-nya.

3. Tambahan Ta'awudz dalam Hadits

Adapun tambahan "A'udzu billahis sami'il 'alim minasy syaithanir rajim..." dalam hadits Abu Sa'id—karena sanadnya lemah menurut Imam Ahmad dan para kritikus hadits—maka tidak dijadikan dasar wajib. Namun maknanya tetap benar, karena Allah memerintahkan ta'awudz dalam Al-Qur'an:

QS. An-Nahl [16]: 98

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

"Maka apabila kamu membaca Al-Qur'an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk."

Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan membaca ta'awudz sebelum membaca Al-Qur'an, termasuk dalam shalat.

4. Pendapat Ulama tentang Doa Iftitah

Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Umm menganjurkan membaca doa iftitah yang shahih dari Nabi ﷺ, yaitu "Subhanaka Allahumma wa bihamdika..." dan membolehkan tambahan ta'awudz setelahnya.

Imam Ahmad bin Hanbal—sebagaimana dinukil oleh Al-Khallal—berpegang pada doa iftitah yang shahih dan tidak mengamalkan hadits Abu Sa'id karena dianggap tidak shahih.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa (22/346) menjelaskan bahwa doa iftitah yang shahih dari Nabi ﷺ adalah yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Aisyah. Adapun tambahan-tambahan lain yang tidak shahih sanadnya, maka tidak mengapa ditinggalkan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarhul Mumti' (3/108) menjelaskan bahwa doa iftitah hukumnya sunnah, bukan wajib. Jika seseorang meninggalkannya, shalatnya tetap sah. Beliau juga menganjurkan membaca doa iftitah yang shahih dan tidak berlebihan dalam memilih riwayat yang lemah.

5. Hikmah Doa Iftitah

Imam Ibnul Qayyim dalam Zad Al-Ma'ad (1/194) menjelaskan bahwa doa iftitah mengandung hikmah yang agung: seorang hamba memulai shalatnya dengan mengakui kesucian Allah, kebesaran-Nya, dan keagungan-Nya, agar hatinya hadir dan khusyuk dalam menghadap Allah. Ini adalah persiapan ruhani sebelum berdialog dengan Allah melalui bacaan Al-Qur'an.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu—sebagaimana disebutkan Imam At-Tirmidzi dalam hadits ini—membaca doa iftitah dengan suara yang keras ketika shalat berjamaah, agar kaum muslimin mendengar dan mempelajarinya. Ini menunjukkan perhatian para sahabat dalam mengajarkan sunnah Nabi ﷺ kepada umat.

Imam Asy-Syafi'i meriwayatkan dalam Musnad-nya bahwa Umar mengucapkan:

> "Subhanaka Allahumma wa bihamdika wa tabarakasmuka wa ta'ala jadduka wa la ilaha ghairuk"

Lalu beliau melanjutkan dengan ta'awudz. Ini menunjukkan bahwa doa iftitah ini sudah dikenal dan diamalkan oleh para sahabat.

Hikmah: Para sahabat sangat bersemangat mempelajari dan mengajarkan doa-doa shalat. Kita pun hendaknya mempelajari doa iftitah yang shahih dan mengamalkannya dengan penuh kesadaran akan maknanya, bukan sekadar hafalan tanpa pemahaman.

Kesimpulan Praktis

  1. Doa iftitah yang shahih adalah "Subhanaka Allahumma wa bihamdika wa tabarakasmuka wa ta'ala jadduka wa la ilaha ghairuk" — diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Aisyah.
  2. Hadits Abu Sa'id yang memuat tambahan ta'awudz dinilai lemah oleh Imam Ahmad dan para kritikus hadits, namun sebagian ulama tetap membolehkan mengamalkannya karena maknanya baik.
  3. Hukum doa iftitah adalah sunnah, bukan wajib. Meninggalkannya tidak membatalkan shalat.
  4. Yang terbaik adalah membaca doa iftitah yang shahih, lalu membaca ta'awudz sebelum membaca Al-Fatihah, karena ta'awudz diperintahkan dalam Al-Qur'an.
  5. Perbanyaklah memahami makna doa iftitah agar hati hadir dan khusyuk dalam shalat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Hadits.id tetap gratis untuk semua

Yuk, bantu penjelasan AI tetap ada

Menjalankan AI membutuhkan biaya. Dukungan donatur sangat membantu agar penjelasan hadits terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi