Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan dua hal yang sangat agung: pertama, hendaknya seorang muslim berpegang teguh pada kalimat tauhid (Rabbiku adalah Allah) lalu beristiqamah di atasnya. Kedua, bahaya terbesar yang dikhawatirkan Rasulullah ﷺ atas umatnya adalah lisan. Karena lisan adalah pintu segala keburukan, maka menjaganya adalah kunci keselamatan. Hadits ini menunjukkan bahwa keselamatan agama seseorang sangat bergantung pada apa yang ia ucapkan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Az-Zuhd, Bab "Apa yang Dikatakan tentang Menjaga Lisan", no. 2410. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
Teks Hadits (sebagaimana dalam riwayat At-Tirmidzi):
حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَاعِزٍ، عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ، قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ. قَالَ: "قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ". قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ؟ فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ: "هَذَا".
Makna hadits: Sahabat Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang perkara yang bisa ia pegang teguh. Beliau menjawab, "Katakanlah: Tuhanku adalah Allah, kemudian beristiqamahlah." Lalu ia bertanya lagi tentang perkara yang paling ditakuti Rasulullah ﷺ atas dirinya. Maka Rasulullah ﷺ memegang lidahnya sendiri dan bersabda, "Ini."
Dalil pendukung dari Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS. Qaf [50]: 18)
Penjelasan ulama: Ayat ini menunjukkan bahwa setiap ucapan manusia dicatat oleh malaikat. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini mencakup seluruh perkataan manusia, baik yang baik maupun yang buruk, semuanya dicatat dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ﷻ.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung dua pesan besar:
Pertama: Perintah untuk beristiqamah di atas tauhid.
Rasulullah ﷺ memerintahkan sahabatnya untuk mengucapkan "Rabbiku adalah Allah" lalu beristiqamah. Ini sejalan dengan firman Allah ﷻ:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka beristiqamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), 'Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.'" (QS. Fussilat [41]: 30)
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menukil perkataan para ulama salaf tentang makna istiqamah. Al-Hasan Al-Bashri berkata: "Mereka beristiqamah di atas perintah Allah, mengerjakan ketaatan kepada-Nya, dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya." Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi sendiri berkata: "Wahai Rasulullah, katakan kepadaku tentang Islam suatu perkataan yang aku tidak perlu bertanya kepada seorang pun setelah engkau." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah." (HR. Muslim)
Kedua: Bahaya lisan.
Ketika sahabat bertanya tentang perkara yang paling ditakutkan Rasulullah ﷺ atas dirinya, beliau memegang lidahnya dan bersabda, "Ini." Ini menunjukkan bahwa lisan adalah sumber keburukan yang paling besar. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan besarnya bahaya lisan, karena lisan adalah alat untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hati. Jika hati baik, lisan akan baik; jika hati rusak, lisan akan rusak.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa menjaga lisan adalah pokok dari seluruh kebaikan, dan lisan adalah penerjemah hati. Beliau menukil perkataan sebagian ulama salaf: "Barangsiapa menjaga lisannya, maka Allah akan menutupi auratnya; dan barangsiapa melepaskan lisannya, maka Allah akan membuka auratnya."
Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam hadits lain:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini memerintahkan seorang muslim untuk tidak berbicara kecuali perkataan yang baik, dan jika ragu apakah perkataannya baik atau tidak, maka diam adalah pilihan yang lebih selamat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu dan berkata, "Wahai Abu Abdurrahman, berilah aku wasiat." Maka Ibnu Mas'ud berkata: "Jagalah lisanmu, karena sesungguhnya engkau akan menuai apa yang engkau tanam. Sesungguhnya lisan itu memotong leher pemiliknya jika ia tidak menjaganya." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Ash-Shamt)
Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat memahami bahaya lisan. Mereka menganggap lisan sebagai sesuatu yang bisa "memotong leher" pemiliknya jika tidak dijaga, karena ucapan yang buruk bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kebinasaan.
Kesimpulan Praktis
- Berpegang teguhlah pada kalimat tauhid — jadikan "Rabbiku adalah Allah" sebagai pegangan hidup, lalu wujudkan dalam istiqamah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
- Jaga lisanmu — karena lisan adalah perkara yang paling dikhawatirkan Rasulullah ﷺ atas umatnya. Setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban.
- Biasakan berkata baik atau diam — jika tidak ada kebaikan dalam ucapan, maka diam adalah pilihan yang lebih selamat.
- Sadari bahwa setiap kata dicatat — malaikat Raqib dan 'Atid selalu mencatat setiap ucapan kita, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.