Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar dari Nabi ﷺ. Beliau memberikan kunci praktis untuk masuk surga, yaitu menjaga dua anggota tubuh yang paling sering menjadi sumber kebinasaan: lisan (yang berada di antara dua rahang) dan kemaluan (yang berada di antara dua kaki). Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari keburukan kedua anggota tubuh ini, maka ia akan masuk surga. Ini menunjukkan bahwa keselamatan agama seseorang sangat bergantung pada kemampuannya mengendalikan lisan dan menjaga kesucian diri.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Az-Zuhd, Bab "Menjaga Lisan", no. 2409. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib.
Berikut adalah dalil-dalil yang memperkuat dan menjelaskan makna hadits ini:
1. Hadits ini sendiri (inti pembahasan):
مَنْ وَقَاهُ اللَّهُ شَرَّ مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَشَرَّ مَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
"Barangsiapa yang Allah lindungi dari kejahatan apa yang ada di antara dua rahangnya (lisan) dan kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan), dia akan masuk surga." (HR. At-Tirmidzi no. 2409)
2. Hadits pendukung dari sahabat Sahl bin Sa'd:
Dalam riwayat lain yang juga dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 2408), dari sahabat Sahl bin Sa'd, Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ يَضْمَنُ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
"Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan), maka aku menjamin untuknya surga." (HR. Al-Bukhari no. 6474)
3. Ayat Al-Qur'an yang terkait:
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Qaf [50]: 18:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)."
Ayat ini menunjukkan bahwa setiap ucapan kita dicatat dan akan dipertanggungjawabkan, sehingga menjaga lisan adalah perkara yang sangat serius.
Kaitan dengan Ulama: Imam At-Tirmidzi sendiri dalam Sunan-nya menempatkan hadits ini dalam bab khusus tentang menjaga lisan, menunjukkan perhatian besar para ulama terhadap masalah ini. Para ulama seperti Imam An-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas hadits-hadits semakna dan menjelaskan urgensi menjaga lisan dan kemaluan.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung isyarat bahwa kunci keselamatan terletak pada dua hal: menjaga lisan dan menjaga kemaluan. Ini karena kedua anggota tubuh inilah yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar.
1. Makna "Syarr Ma Baina Lahyayhi" (Kejahatan antara dua rahang):
Yang dimaksud adalah lisan. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa lisan adalah anggota tubuh yang paling berbahaya. Dengan lisan, seseorang bisa jatuh ke dalam:
- Dusta dan sumpah palsu
- Ghibah (menggunjing) dan namimah (mengadu domba)
- Ucapan kotor dan keji
- Menghina dan merendahkan orang lain
- Berkata tanpa ilmu tentang agama, yang bisa menyesatkan orang lain
Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ad-Da' wad Dawa' (Al-Jawabul Kafi) menyebutkan bahwa lisan adalah "penerjemah hati". Jika hati baik, lisan akan berkata baik. Jika hati rusak, lisan akan mengeluarkan keburukan. Beliau juga menegaskan bahwa banyak orang masuk neraka karena lisan mereka sendiri.
2. Makna "Syarr Ma Baina Rijlayhi" (Kejahatan antara dua kaki):
Yang dimaksud adalah kemaluan (fari). Ini merujuk pada perbuatan zina dan segala bentuk perbuatan yang mengarah kepadanya. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Isra' [17]: 32:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk."
Perhatikan bahwa Allah tidak hanya melarang zina, tetapi juga mendekati zina, yaitu segala hal yang bisa membawa kepada perbuatan tersebut, seperti melihat dengan syahwat, berdua-duaan dengan lawan jenis, dan lain sebagainya.
3. Hubungan Keduanya:
Para ulama menjelaskan bahwa dua perkara ini sering kali saling berkaitan. Seseorang yang tidak menjaga lisannya, sering berbicara kotor dan menggoda, akan lebih mudah terjerumus ke dalam perbuatan zina. Sebaliknya, orang yang menjaga lisannya dari perkataan yang haram akan lebih mudah menjaga kemaluannya.
Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Fawa'id menjelaskan bahwa pintu masuknya perbuatan zina sering kali adalah melalui pandangan dan ucapan. Pandangan yang tidak terjaga akan membangkitkan syahwat, dan ucapan yang tidak terjaga akan merusak rasa malu. Oleh karena itu, menjaga lisan adalah benteng pertama untuk menjaga kemaluan.
4. Siapa yang "Dijaga oleh Allah"?
Dalam hadits ini, Nabi ﷺ menyebutkan "مَنْ وَقَاهُ اللَّهُ" (barangsiapa yang Allah lindungi). Ini menunjukkan bahwa pada hakikatnya, keselamatan itu datang dari Allah. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, tetapi yang menentukan adalah Allah. Ini mengajarkan kita untuk selalu tawadhu dan tidak merasa bangga dengan amal kita, karena semua itu adalah murni karunia Allah.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu hadits yang merangkum banyak kebaikan. Beliau berkata bahwa barang siapa yang mampu menahan lisannya dari perkataan haram dan menahan kemaluannya dari perbuatan haram, maka ia telah menutup dua pintu terbesar menuju neraka.
Story Telling
Ada kisah yang sangat terkenal tentang seorang pemuda yang datang kepada Rasulullah ﷺ. Dalam riwayat dari sahabat 'Uqbah bin 'Amir, ia berkata:
"Wahai Rasulullah, apa kunci keselamatan?" Beliau menjawab: "Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu sibuk (tidak keluar tanpa keperluan), dan menangislah atas dosa-dosamu." (HR. At-Tirmidzi no. 2406, hasan)
Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ selalu menekankan pentingnya menjaga lisan sebagai kunci keselamatan. Para sahabat memahami hal ini dengan sangat mendalam.
Ada juga kisah tentang Al-Hasan Al-Bashri (salah satu ulama tabi'in yang sangat zuhud). Beliau pernah berkata: "Sesungguhnya seseorang yang menjaga lisannya, maka lisannya akan menjadi saksi kebaikan baginya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang tidak menjaga lisannya, maka lisannya akan menjadi saksi keburukan baginya."
Al-Hasan Al-Bashri juga sering menasihati murid-muridnya: "Janganlah engkau berbicara dengan perkataan yang tidak bermanfaat bagimu, karena jika engkau berbicara dengan perkataan yang tidak bermanfaat, maka aku khawatir engkau akan berbicara dengan perkataan yang membahayakanmu."
Kesimpulan Praktis
Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Jaga lisan dari segala perkataan yang haram seperti dusta, ghibah, namimah, dan perkataan kotor. Biasakan diri untuk berkata baik atau diam.
- Jaga pandangan dan pergaulan agar tidak mengarah pada perbuatan zina. Hindari berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram, dan jauhi tontonan yang merusak.
- Sadari bahwa keselamatan datang dari Allah. Perbanyak doa memohon perlindungan dari keburukan lisan dan kemaluan, misalnya dengan doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan penjaga urusanku, perbaikilah duniaku yang merupakan tempat kehidupanku..." (HR. Muslim).
- Jadikan hadits ini sebagai motivasi, bukan beban. Allah memberikan kabar gembira bahwa dengan menjaga dua hal ini, kita bisa masuk surga. Ini adalah kemudahan dari Allah.
- Mulai dari hal kecil: pikirkan sebelum berbicara, apakah perkataan ini perlu, bermanfaat, dan tidak menyakiti orang lain. Jika ragu, lebih baik diam.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.