Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat agung bagi seorang hamba yang diuji dengan kehilangan penglihatan (buta), lalu ia bersabar dan mengharap pahala dari Allah. Allah Ta'ala berjanji bahwa balasan bagi orang tersebut tidak akan cukup dengan apa pun selain Surga. Ini menunjukkan keutamaan besar kesabaran atas musibah, terutama kehilangan anggota tubuh yang paling berharga, yaitu mata.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Zuhud, Bab "Apa yang Diriwayatkan Tentang Perginya Penglihatan", nomor 2401. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلاَنَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: " يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ أَذْهَبْتُ حَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ وَاحْتَسَبَ لَمْ أَرْضَ لَهُ ثَوَابًا دُونَ الْجَنَّةِ "
Terjemahan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Allah 'Azza wa Jalla berfirman: 'Barangsiapa yang Aku ambil kedua kekasihnya (penglihatannya), lalu dia bersabar dan mengharap pahala, maka Aku tidak meridhai baginya pahala yang kurang dari Surga.'"
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar [39]: 10)
Ayat ini menunjukkan bahwa pahala orang yang bersabar tidak terbatas dan tidak bisa diukur dengan pahala biasa, yang menguatkan makna hadits di atas bahwa balasan kesabaran adalah Surga.
Penjelasan Rinci
Makna "حَبِيبَتَيْهِ" (Habibatayhi - Dua Kekasihnya):
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "dua kekasih" di sini adalah dua mata. Ini adalah istilah yang sangat indah dari Allah, yang menunjukkan bahwa mata adalah anggota tubuh yang paling dicintai oleh manusia. Dengan menyebutnya sebagai "kekasih", Allah hendak menegaskan betapa besar ujian kehilangan penglihatan ini, dan betapa besar pula pahala yang disiapkan bagi yang bersabar.
Makna "فَصَبَرَ وَاحْتَسَبَ" (Fashabara wahtasaba - Lalu dia bersabar dan mengharap pahala):
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa kesabaran yang diterima adalah sabar yang disertai ihtisab, yaitu mengharap pahala dari Allah semata, bukan sekadar pasrah atau mengeluh. Orang yang ihtisab meyakini bahwa musibah ini datang dari Allah, dan Allah akan menggantinya dengan kebaikan yang lebih besar.
Pahala yang Tiada Tandingan:
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya 'Uddatush Shabirin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan khusus bagi orang yang kehilangan penglihatan. Hal ini karena mata adalah "pintu hati" dan sumber sebagian besar ilmu dan keindahan dunia. Ketika seseorang kehilangan mata, ia kehilangan kenikmatan dunia yang paling besar, maka Allah menggantinya dengan kenikmatan Surga yang kekal.
Perbandingan dengan Hadits Lain:
Hadits ini senada dengan hadits lain yang diriwayatkan dari sahabat 'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu, sebagaimana disebutkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam bab yang sama. Ini menunjukkan bahwa makna hadits ini dikuatkan oleh riwayat lain.
Catatan Penting:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang buta namun tidak sabar. Beliau menjelaskan bahwa pahala besar ini hanya untuk yang bersabar. Adapun yang tidak sabar, ia tetap mendapatkan musibahnya, namun tidak mendapatkan pahala kesabaran, bahkan bisa jadi ia berdosa karena keluh kesahnya.
Story Telling
Ada kisah yang sangat menyentuh dari kalangan salaf tentang kesabaran atas kehilangan penglihatan. Diriwayatkan bahwa Qatadah bin Di'amah As-Sadusi rahimahullah, seorang ulama besar tabi'in yang terkenal dengan hafalan dan ilmunya yang luas, adalah seorang yang buta. Namun kebutaan ini tidak menghalanginya untuk menjadi salah satu ulama paling produktif di zamannya. Ia menghafal Al-Qur'an, menguasai tafsir, hadits, dan bahasa Arab.
Qatadah tidak menjadikan kebutaan sebagai penghalang untuk menuntut ilmu. Ia justru lebih fokus mendengarkan dan menghafal, hingga ia menjadi rujukan umat. Ini adalah contoh nyata bahwa kesabaran atas ujian penglihatan tidak hanya dijanjikan Surga, tetapi juga Allah bisa menggantinya dengan ilmu dan kemuliaan di dunia.
Hikmah dari kisah ini: jangan pernah merasa bahwa musibah adalah akhir dari segalanya. Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Di balik setiap ujian, selalu ada hikmah dan ganti yang lebih baik bagi hamba-Nya yang bersabar.
Kesimpulan Praktis
- Bersabar dan ber-ihtisab adalah kunci diterimanya amal saat tertimpa musibah. Sabar tanpa mengharap pahala dari Allah hanyalah sikap pasrah biasa, bukan ibadah.
- Jangan mengeluh kepada makhluk tentang musibah yang menimpa, karena keluhan menghapus pahala kesabaran. Cukuplah Allah sebagai tempat mengadu.
- Yakinlah bahwa ganti Allah lebih baik dari apa yang hilang. Jika Allah mengambil sesuatu dari kita, pasti Dia akan memberikan yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat.
- Bagi yang memiliki penglihatan, hendaknya bersyukur dan menggunakan mata untuk hal-hal yang diridhai Allah, bukan untuk maksiat.
- Bagi yang diuji dengan kebutaan, hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar. Bersabarlah, karena Surga telah menanti.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.