Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi seorang mukmin yang kehilangan penglihatannya (matanya) di dunia. Allah ﷻ berfirman bahwa jika Dia mengambil "dua kesayangan" hamba-Nya, yaitu kedua matanya, lalu hamba itu bersabar, maka balasan yang dijanjikan di sisi-Nya tidak lain adalah Surga. Ini menunjukkan keutamaan besar bagi orang yang bersabar atas musibah hilangnya penglihatan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda sertakan):
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْجُمَحِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا أَبُو ظِلاَلٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ إِذَا أَخَذْتُ كَرِيمَتَىْ عَبْدِي فِي الدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ لَهُ جَزَاءٌ عِنْدِي إِلاَّ الْجَنَّةَ "
Terjemahan: Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah berfirman: 'Jika Aku mengambil dua kesayangan hamba-Ku di dunia, maka tidak ada balasan baginya di sisi-Ku kecuali Surga.'"
Hadits ini dinilai hasan oleh Imam At-Tirmidzi dalam kitabnya Jami' At-Tirmidzi, Kitab Zuhud, Bab tentang Hilangnya Penglihatan, no. 2400.
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah ﷻ berfirman: 'Jika Aku mengambil dua kesayangan hamba-Ku (yaitu kedua matanya), lalu ia bersabar dan mengharap pahala, maka Aku tidak meridhai baginya balasan yang kurang dari Surga.'" (HR. Al-Bukhari, no. 6424)
Kaitan dengan Ulama: Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "karimataini" (dua kesayangan) yang dimaksud adalah kedua mata, karena keduanya adalah anggota tubuh yang paling berharga dan paling sering digunakan untuk melihat kebaikan. Beliau juga menukil penjelasan para ulama bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar bagi orang yang bersabar atas hilangnya penglihatan.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:
- Makna "Karimataini" (dua kesayangan): Imam At-Tirmidzi dan para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "dua kesayangan" adalah kedua mata. Ini karena mata adalah anggota tubuh yang paling dicintai dan paling berharga bagi manusia. Dengan mata, seseorang dapat melihat keluarga, alam semesta, dan tanda-tanda kebesaran Allah.
- Syarat Mendapatkan Balasan Surga: Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa balasan Surga ini dikaitkan dengan kesabaran. Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan dengan jelas: "lalu ia bersabar dan mengharap pahala." Jadi, bukan sekadar kehilangan mata, tetapi kehilangan mata yang disertai kesabaran dan harapan pahala dari Allah.
- Makna "Tidak Ada Balasan Kecuali Surga": Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa ini adalah bentuk kemuliaan dari Allah. Ketika seorang hamba kehilangan sesuatu yang paling berharga, lalu ia bersabar, maka Allah akan memberikan balasan yang paling berharga pula, yaitu Surga. Ini menunjukkan keadilan dan kemurahan Allah.
- Hikmah di Balik Musibah: Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa setiap musibah yang menimpa seorang mukmin adalah bentuk ujian dari Allah. Jika ia bersabar, maka musibah itu akan menjadi penghapus dosa dan pengangkat derajat. Terlebih lagi jika musibah itu berupa kehilangan penglihatan, maka balasannya sangat besar.
- Pelajaran tentang Ridha dan Sabar: Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya 'Uddatush Shabirin menjelaskan bahwa kesabaran atas musibah adalah bagian dari keimanan. Orang yang ridha dengan ketentuan Allah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Musibah yang dihadapi dengan sabar akan berubah menjadi pahala yang melimpah.
Story Telling
Ada kisah yang sangat menyentuh tentang kesabaran seorang sahabat yang kehilangan penglihatannya. Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma suatu saat kehilangan penglihatannya di akhir usianya. Meskipun demikian, beliau tetap tenang dan bersabar. Ketika ditanya tentang kondisinya, beliau menjawab dengan penuh ketawadhuan bahwa semua itu adalah ketentuan Allah dan beliau menerimanya dengan ridha.
Kisah lain yang lebih terkenal adalah tentang Abu Qatadah al-Anshari atau sahabat-sahabat lain yang buta namun tetap bersemangat dalam beribadah. Mereka tidak menjadikan kebutaan sebagai penghalang untuk beramal shalih. Bahkan, ada di antara mereka yang tetap hadir di majelis ilmu dan berjuang di jalan Allah.
Hikmah dari kisah-kisah ini adalah bahwa kehilangan penglihatan bukanlah akhir dari segalanya. Justru, dengan kesabaran, seorang hamba bisa meraih derajat yang lebih tinggi di sisi Allah. Mata yang buta di dunia bisa diganti dengan cahaya di akhirat.
Kesimpulan Praktis
- Bersabar atas musibah adalah kunci mendapatkan balasan Surga. Jangan berputus asa atau mengeluh berlebihan saat ditimpa musibah, termasuk kehilangan penglihatan.
- Mengharap pahala dari Allah dalam setiap musibah. Niatkan bahwa musibah ini adalah ujian yang akan diganti dengan kebaikan yang lebih besar.
- Mendoakan orang yang kehilangan penglihatan agar diberikan kesabaran dan diganti dengan cahaya di akhirat. Kita juga bisa belajar dari mereka tentang keteguhan hati.
- Mensyukuri nikmat mata yang masih sehat. Sebelum kehilangan, gunakan mata ini untuk hal-hal yang bermanfaat, membaca Al-Qur'an, menuntut ilmu, dan melihat kebesaran Allah.
- Meyakini bahwa setiap musibah ada hikmahnya. Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Justru, musibah bisa menjadi sarana penghapus dosa dan pengangkat derajat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.