Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa cinta berlebihan terhadap harta dan kedudukan (kehormatan/pangkat) lebih berbahaya bagi agama seseorang daripada dua serigala lapar yang menerkam sekawanan domba. Sebagaimana serigala akan merusak dan menghancurkan domba, demikian pula ambisi terhadap harta dan status akan merusak iman, amal, dan akhirat seseorang. Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu menjaga hatinya agar tidak dikuasai oleh ketamakan duniawi.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. At-Takatsur [102]: 1-2
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ * حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur."
Hadits:
Hadits riwayat Jami' At-Tirmidzi no. 2376, dari Ka'ab bin Malik radhiyallahu 'anhu. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini adalah perumpamaan yang sangat tepat. Sebagaimana serigala yang lapar tidak akan puas hanya dengan satu atau dua domba, demikian pula orang yang tamak terhadap harta dan kedudukan tidak akan pernah merasa cukup.
- Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin sering mengutip hadits ini untuk menjelaskan bahaya syahwat dan ambisi dunia yang dapat membinasakan agama seseorang.
- Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat at-Takatsur dan hadits ini saling menguatkan, bahwa cinta dunia yang berlebihan adalah pangkal segala kesalahan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menggunakan perumpamaan yang sangat hidup dan mudah dipahami. Dua serigala lapar yang dilepaskan di tengah kawanan domba pasti akan menimbulkan kerusakan besar: domba-domba akan tercerai-berai, terluka, dan banyak yang mati. Kerusakan ini tidak terbatas pada satu atau dua ekor, tetapi bisa menghancurkan hampir seluruh kawanan.
Rasulullah ﷺ menyamakan sifat "al-hirsh" (ketamakan/ambisi berlebihan) terhadap harta dan kedudukan (kehormatan/pangkat) dengan dua serigala lapar tersebut. Maksudnya:
- Kerusakan pada Agama: Sama seperti serigala yang merusak domba, ketamakan terhadap harta dan pangkat akan merusak agama seseorang. Ia bisa membuat seseorang lalai dari kewajiban, berani melakukan dosa (seperti riba, suap, menipu, atau menjilat), dan melupakan akhirat.
- Tidak Pernah Puas: Serigala lapar tidak akan berhenti setelah memakan satu domba; ia akan terus menerkam. Begitu pula orang yang tamak, ia tidak akan pernah merasa cukup dengan harta dan pangkat yang dimiliki. Semakin banyak ia dapatkan, semakin besar keinginannya.
- Prioritas Terbalik: Orang yang dikuasai ambisi dunia akan menjadikan agama sebagai alat untuk meraih dunia, bukan sebaliknya. Ia rela mengorbankan prinsip agama demi mendapatkan harta atau kedudukan.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (syarah hadits ke-30) menegaskan bahwa hadits ini adalah peringatan keras agar seorang muslim tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Beliau juga mengutip perkataan Al-Hasan al-Bashri: "Anak Adam, demi seteguk air ia bisa dijual, demi sepotong roti ia bisa diperbudak, dan demi satu dirham ia bisa dihinakan."
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam syarahnya terhadap hadits-hadits pilihan menjelaskan bahwa "kehormatan" (asy-syaraf) di sini mencakup semua bentuk kedudukan, popularitas, pujian, dan pengakuan dari manusia. Inilah dua hal yang paling sering merusak hati manusia: cinta harta dan cinta pujian/pangkat.
Story Telling
Diriwayatkan dari Ka'ab bin Malik radhiyallahu 'anhu (perawi hadits ini), beliau adalah salah satu sahabat yang diuji dengan berat ketika tidak ikut Perang Tabuk. Setelah turun ayat yang memaafkannya, beliau berkata: "Demi Allah, tidaklah Allah memberiku nikmat yang lebih besar setelah Islam, selain dari kejujuranku kepada Rasulullah ﷺ." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ka'ab adalah sahabat yang kaya raya, namun ia tidak pernah dikuasai oleh cinta harta. Ketika diuji, ia memilih kejujuran dan kehilangan harta serta kedudukan sosial sementara waktu, demi menjaga agamanya. Inilah contoh nyata seorang mukmin yang selamat dari "dua serigala" yang disebut dalam hadits.
Kesimpulan Praktis
- Evaluasi Niat: Periksa niat dalam mencari harta dan kedudukan. Apakah semata-mata untuk ibadah dan kemaslahatan, atau karena ambisi pribadi?
- Batasi Ambisi: Jangan biarkan keinginan terhadap dunia menguasai hati. Ingatlah bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara.
- Jaga Prioritas: Dahulukan kewajiban agama di atas kepentingan duniawi. Jangan sampai karena mengejar harta atau pangkat, kita meninggalkan shalat, zakat, atau berbuat zalim.
- Perbanyak Zuhud: Latih diri untuk merasa cukup (qana'ah) dan tidak terlalu bergantung pada dunia.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.