Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2373 tentang Kekayaan sejati adalah kecukupan jiwa bukan harta

Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukanlah diukur dari banyaknya harta benda, melainkan dari kekayaan jiwa, yaitu hati yang merasa cukup (qana'ah) dan tidak tamak terhadap apa yang dimiliki orang lain. Orang yang hatinya kaya akan selalu merasa cukup dengan pemberian Allah, sehingga ia hidup tenang dan bahagia, meskipun hartanya sedikit.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Zuhud, Bab Apa yang Dikatakan Bahwa Kekayaan adalah Kekayaan Jiwa, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Teks hadits:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنِ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Terjemahan: "Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahih mereka dengan lafaz yang semakna, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "kekayaan jiwa" adalah hati yang merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, tidak rakus, dan tidak selalu melihat kepada apa yang dimiliki orang lain.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam tentang hakikat kekayaan. Rasulullah ﷺ ingin mengubah cara pandang manusia yang sering kali mengukur kekayaan hanya dengan materi. Beliau menegaskan bahwa kekayaan yang sejati adalah ghina an-nafs (kekayaan jiwa), yaitu kondisi hati yang merasa cukup, tenang, dan tidak diperbudak oleh keinginan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa orang yang kaya jiwanya adalah orang yang tidak merasa kekurangan terhadap apa yang ada di tangan manusia, sehingga hatinya tidak bergantung kepada selain Allah. Sebaliknya, orang yang miskin jiwanya adalah orang yang selalu merasa kurang, meskipun ia memiliki harta yang banyak. Ia selalu melihat ke atas, kepada orang yang lebih kaya, sehingga tidak pernah merasa puas.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini bukan berarti Islam mencela kekayaan materi secara mutlak. Kekayaan materi yang halal dan digunakan untuk kebaikan adalah sesuatu yang terpuji. Namun, kekayaan materi tidak akan memberi manfaat jika hati tidak merasa cukup. Bahkan, kekayaan materi bisa menjadi fitnah jika tidak disertai dengan kekayaan jiwa.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa qana'ah (merasa cukup) adalah salah satu sebab kebahagiaan hidup. Orang yang qana'ah akan selalu bersyukur, sehingga Allah menambah nikmat-Nya. Sebaliknya, orang yang tamak akan selalu merasa kurang, sehingga ia hidup dalam kegelisahan dan kelelahan mengejar dunia.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di ketika menjelaskan ayat tentang kekayaan jiwa, menyatakan bahwa hati yang kaya adalah hati yang ridha dengan pemberian Allah, tidak iri kepada orang lain, dan tidak meminta sesuatu yang tidak ada padanya. Inilah kekayaan yang tidak akan hilang meskipun harta benda lenyap.

Para ulama di daftar ini sepakat bahwa hadits ini mendorong umat Islam untuk memiliki sifat qana'ah dan menjauhi sifat tamak. Tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka dalam memahami makna utama hadits ini.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah seorang sahabat yang sangat miskin. Ia sering kali tidak memiliki makanan yang cukup dan tidur di masjid. Namun, Rasulullah ﷺ memuji beliau karena kekayaan jiwanya. Abu Hurairah tidak pernah mengeluh tentang kemiskinannya, melainkan selalu bersyukur dan fokus pada ibadah serta menuntut ilmu. Beliau adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, karena kedekatannya dengan Rasulullah ﷺ dan kesabarannya dalam menghadapi kesulitan hidup.

Kisah ini menunjukkan bahwa kekayaan jiwa tidak tergantung pada banyaknya harta. Abu Hurairah miskin secara materi, tetapi kaya secara jiwa. Sebaliknya, banyak orang kaya secara materi, tetapi miskin secara jiwa karena selalu merasa kurang dan tidak pernah puas.

Kesimpulan Praktis

  1. Ukurlah kekayaan dengan hati, bukan dengan harta. Jangan merasa miskin hanya karena harta sedikit, dan jangan merasa kaya hanya karena harta banyak.
  2. Latihlah sifat qana'ah. Biasakan diri untuk merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, dan jangan selalu melihat kepada orang yang lebih kaya dalam urusan dunia.
  3. Bersyukurlah dengan apa yang ada. Syukur akan membuka pintu keberkahan dan ketenangan hati.
  4. Jangan tamak terhadap dunia. Tamak hanya akan membuat hati gelisah dan jauh dari Allah.
  5. Perbanyaklah amal akhirat. Karena kekayaan yang hakiki adalah kekayaan yang menyelamatkan kita di akhirat kelak.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?