Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2371 tentang Kesabaran sahabat dalam menghadapi kelaparan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan kondisi kelaparan yang sangat berat yang dialami para sahabat, hingga mereka mengikatkan batu di perut untuk menahan rasa lapar. Rasulullah ﷺ sendiri mengalami hal yang sama, bahkan dengan dua batu. Ini menunjukkan betapa tingginya kesabaran dan ketabahan mereka dalam menegakkan agama Allah, serta menjadi pelajaran tentang keutamaan zuhud dan tawakkal.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

  • Perawi: Abu Talhah Zaid bin Sahl radhiyallahu 'anhu, sahabat Nabi ﷺ.
  • Kitab: Jami' At-Tirmidzi, no. 2371, Kitab Zuhud, Bab tentang Kehidupan Sahabat.
  • Status: Imam At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini gharib (asing), kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini."

Penjelasan Ulama:

  • Imam Al-Mubarakfuri (dalam Tuhfatul Ahwadzi, syarah At-Tirmidzi) menjelaskan bahwa makna "mengangkat pakaian dari perut" adalah mereka memperlihatkan perut mereka yang diikat batu untuk menahan lapar. Ini adalah kebiasaan orang Arab saat paceklik.
  • Imam Ibn Rajab al-Hanbali (dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam) sering menyebut kisah-kisah semacam ini untuk menjelaskan makna sabar dan zuhud. Beliau menukil dari Al-Hasan al-Bashri bahwa para sahabat adalah orang yang paling keras kehidupannya di dunia, namun paling mulia kedudukannya di akhirat.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (dalam Bahjatul Qulubil Abrar) menjelaskan bahwa kondisi ini menunjukkan keutamaan sabar dan keyakinan yang kuat. Mereka tidak mengeluh dengan cara yang buruk, tetapi hanya memberitahu keadaan mereka kepada Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah potret nyata kehidupan generasi terbaik umat ini. Abu Talhah radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang mulia, menceritakan bahwa mereka (para sahabat) mengeluhkan rasa lapar yang sangat kepada Rasulullah ﷺ. Sebagai bukti, mereka mengangkat pakaian mereka dan memperlihatkan perut mereka yang diikat dengan batu. Ini adalah cara mereka untuk menahan rasa lapar yang amat sangat, karena batu yang ditekan ke perut akan memberikan rasa kenyang palsu dan mengurangi rasa sakit.

Yang lebih menakjubkan, Rasulullah ﷺ kemudian mengangkat pakaian beliau dan memperlihatkan bahwa beliau mengikatkan dua batu di perutnya. Ini menunjukkan bahwa penderitaan yang dialami Nabi ﷺ lebih berat dari yang dialami para sahabatnya. Beliau tidak pernah meminta makanan lebih, meskipun jika beliau berdoa, pasti Allah akan memberinya. Namun, beliau memilih untuk bersabar dan berbagi kesulitan dengan umatnya.

Pelajaran dari para ulama:

  1. Keutamaan Zuhud: Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah sering menekankan bahwa zuhud bukanlah mengharamkan yang halal, tetapi lebih memilih akhirat daripada dunia. Para sahabat dan Nabi ﷺ adalah teladan utama dalam hal ini. Mereka memiliki kesempatan untuk mendapatkan kekayaan, namun mereka memilih hidup sederhana demi agama.
  2. Kesabaran: Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ujian terberat akan menimpa para nabi, lalu orang-orang yang paling mirip dengan mereka. Ini adalah sunnatullah. Kesabaran mereka adalah bukti keimanan yang kokoh.
  3. Adab Mengeluh: Perhatikan bahwa mereka "mengeluh" kepada Rasulullah ﷺ, bukan kepada makhluk lain dengan cara yang penuh kemarahan. Al-Hasan al-Bashri berkata, "Seorang mukmin boleh mengeluhkan kesulitannya kepada saudaranya yang dapat dipercaya, selama itu bukan bentuk protes kepada takdir Allah." Mereka hanya memberitahu, bukan menggerutu.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, suatu ketika beliau keluar rumah dalam keadaan sangat lapar. Di jalan, beliau bertemu dengan Abu Bakar dan Umar, dan bertanya tentang ayat Al-Qur'an, padahal sebenarnya beliau hanya ingin diajak makan. Namun, mereka pun lewat begitu saja. Akhirnya, beliau diundang oleh Nabi ﷺ untuk minum susu. Setelah minum, Nabi ﷺ memerintahkan Abu Hurairah untuk memanggil orang-orang di Ahlu Suffah (para sahabat miskin yang tinggal di masjid). Abu Hurairah merasa heran, karena susu itu hanya sedikit. Namun, karena taat, beliau memanggil mereka semua. Satu per satu mereka minum hingga kenyang, dan yang terakhir adalah Nabi ﷺ dan Abu Hurairah. Setelah semua minum, susu itu masih tersisa.

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan menunjukkan bahwa keberkahan ada pada ketaatan dan berbagi. Para sahabat hidup dalam kekurangan, namun Allah memberikan keberkahan yang luar biasa pada apa yang mereka miliki.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersyukur dalam Keadaan Lapang: Sadarilah bahwa nikmat kenyang adalah nikmat yang besar. Jangan sia-siakan dengan maksiat.
  2. Bersabar dalam Kesulitan: Jika ditimpa kesusahan, ingatlah bahwa Nabi dan para sahabat mengalami yang lebih berat. Kesabaran adalah kunci pertolongan Allah.
  3. Hindari Keluhan yang Berlebihan: Boleh memberitahu kesulitan kepada orang yang bisa membantu, tetapi jangan sampai menjadi keluhan yang menunjukkan ketidakridhaan terhadap takdir.
  4. Tingkatkan Zuhud: Jangan jadikan dunia sebagai tujuan utama. Cukupkan diri dengan apa yang halal, dan fokuslah pada bekal akhirat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?