Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan kehidupan zuhud Rasulullah ﷺ dan keluarganya yang sangat sederhana. Mereka seringkali melewati malam-malam berturut-turut dalam keadaan lapar, dan roti yang menjadi makanan pokok mereka adalah roti dari gandum kasar (barley). Ini menunjukkan bahwa kenabian dan kemuliaan di sisi Allah tidak diukur dengan kemewahan dunia, melainkan dengan kesabaran dan keikhlasan.
Rujukan Ulama & Dalil
Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
QS. Al-Ahzab [33]: 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh sikap dan kehidupan Nabi ﷺ adalah teladan, termasuk dalam kesederhanaan dan zuhudnya.
Hadits:
Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْجُمَحِيُّ، حَدَّثَنَا ثَابِتُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ هِلَالِ بْنِ خَبَّابٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَبِيتُ اللَّيَالِيَ الْمُتَتَابِعَةَ طَاوِيًا، وَأَهْلُهُ لَا يَجِدُونَ عَشَاءً، وَكَانَ أَكْثَرُ خُبْزِهِمْ خُبْزَ الشَّعِيرِ.
Artinya: “Ibnu Abbas berkata: ‘Rasulullah ﷺ sering melewati malam-malam berturut-turut dalam keadaan lapar, dan keluarganya tidak mendapatkan makan malam. Dan kebanyakan roti mereka adalah roti barley (gandum kasar).’”
(HR. At-Tirmidzi, no. 2360, beliau berkata: hadits hasan shahih)
Perkataan Ulama:
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam) menjelaskan bahwa zuhudnya Nabi ﷺ bukan karena kemiskinan, tetapi karena pilihan untuk merendahkan hati dan mengutamakan akhirat. Beliau juga mengutip perkataan Al-Hasan al-Bashri rahimahullah: “Aku telah bertemu dengan orang-orang yang dunia ini hina di sisi mereka, mereka lebih memilih rasa lapar dan pakaian kasar daripada kemewahan yang melalaikan.”
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, sahabat yang sangat dekat dengan Nabi ﷺ. Beliau menyaksikan langsung kondisi rumah tangga Rasulullah. Kata “يَبِيتُ اللَّيَالِيَ الْمُتَتَابِعَةَ طَاوِيًا” artinya beliau menghabiskan malam-malam berturut-turut dalam keadaan perut kosong tanpa makan malam. Ini menunjukkan bahwa kelaparan bukan hanya terjadi sekali atau dua kali, tetapi sering berulang. Hal ini dikuatkan oleh riwayat lain dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa keluarga Muhammad ﷺ tidak pernah kenyang dengan roti gandum dua hari berturut-turut (HR. Bukhari dan Muslim).
Kata “خُبْزَ الشَّعِيرِ” adalah roti yang terbuat dari gandum barley yang kasar dan tidak diayak. Roti ini sangat sederhana, berbeda dengan roti gandum putih yang halus. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ dan keluarganya hidup dengan makanan yang paling rendah mutunya, padahal beliau adalah pemimpin umat dan bisa mendapatkan apa pun jika menginginkannya.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Bukhari) ketika membahas hadits serupa menyebutkan bahwa kesederhanaan ini adalah bentuk tawadhu' dan untuk mengajarkan umat agar tidak terlalu bergantung pada dunia. Beliau juga mengutip perkataan Imam Ahmad bin Hanbal bahwa zuhud adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat untuk akhirat, bukan berarti haram.
Al-Imam asy-Syafi'i rahimahullah pernah berkata: “Jika engkau ingin melihat tanda-tanda zuhud, lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ hidup. Beliau tidak pernah mengumpulkan harta, tidak pernah menimbun makanan, dan lebih memilih memberi daripada menyimpan.” (diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra)
Hadits ini juga mengingatkan kita bahwa kaya bukanlah aib, tetapi yang tercela adalah cinta dunia yang melampaui batas. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata: “Zuhud bukan berarti engkau memiliki sedikit harta, tetapi zuhud adalah ketika engkau lebih percaya kepada apa yang di sisimu daripada apa yang di tanganmu.” (riwayat ad-Darimi)
Story Telling
Suatu ketika, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu masuk ke rumah Nabi ﷺ dan melihat bekas tikar di punggung beliau karena tidur di atas tikar yang kasar. Umar pun menangis. Nabi ﷺ bertanya: “Mengapa engkau menangis, wahai Umar?” Umar menjawab: “Wahai Rasulullah, para raja di Persia dan Romawi hidup dalam kemewahan, sementara engkau dalam keadaan seperti ini.” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Tidakkah engkau rela wahai Umar, bahwa untuk mereka dunia, dan untuk kita akhirat?” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma)
Kisah ini mengajarkan bahwa kemuliaan sejati bukan pada pakaian atau makanan mewah, melainkan pada keteguhan iman dan kesabaran dalam ketaatan. Sebagaimana dikatakan oleh Fudail bin 'Iyadh rahimahullah: “Tanda cinta kepada Allah adalah engkau tidak terlalu peduli dengan apa yang dunia berikan padamu, baik sedikit maupun banyak.”
Kesimpulan Praktis
- Teladan dalam kesederhanaan: Kita dianjurkan untuk hidup sederhana dan tidak berlebihan dalam makanan, pakaian, dan tempat tinggal.
- Bersyukur atas nikmat: Meski sederhana, Nabi ﷺ selalu bersyukur. Kita pun hendaknya mensyukuri setiap rezeki sekecil apa pun.
- Zuhud bukan berarti miskin: Zuhud adalah sikap hati yang tidak terikat pada dunia, bukan berarti tidak memiliki harta.
- Mengutamakan akhirat: Kesulitan dunia bukanlah aib, justru bisa menjadi jalan menuju kemuliaan di sisi Allah jika disertai kesabaran.
- Meneladani Nabi dalam semua aspek: Kehidupan beliau adalah uswah (teladan) yang sempurna.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.