Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2357 tentang Kesederhanaan hidup Nabi dan keluarganya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan kesederhanaan hidup Nabi ﷺ: beliau tidak pernah kenyang dari roti gandum/barley (sya'ir) selama dua hari berturut-turut sampai beliau wafat. Ini bukan cela, melainkan pilihan zuhud dan tanda kemuliaan beliau. Para ulama memahaminya sebagai pelajaran agar kita tidak berlebihan dalam dunia dan tetap bersyukur.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Zuhd, Bab tentang kehidupan Nabi ﷺ dan keluarganya, dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih. Hadits serupa juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلاَنَ، حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ، أَنْبَأَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ يَزِيدَ، يُحَدِّثُ عَنِ الأَسْوَدِ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ مَا شَبِعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنْ خُبْزِ شَعِيرٍ يَوْمَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ حَتَّى قُبِضَ

Terjemahan: "Aisyah berkata: 'Rasulullah ﷺ tidak pernah kenyang dari roti barley selama dua hari berturut-turut hingga beliau wafat.'"

Ayat yang relevan tentang kesederhanaan dan zuhud:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

QS. Thaha [20]: 131

Terjemahan: "Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang kafir), sebagai bunga kehidupan dunia, agar Kami menguji mereka dengannya. Dan rezeki Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal."

Imam Ibn Katsir menjelaskan ayat ini sebagai larangan mengagumi kemewahan dunia dan anjuran fokus pada rezeki yang kekal. Imam As-Sa'di menambahkan bahwa kenikmatan dunia bersifat sementara dan menipu, sedangkan rezeki dari Allah yang berupa iman, ilmu, dan pahala adalah sebaik-baik bekal.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan keadaan Nabi ﷺ yang sangat sederhana. Beliau adalah pemimpin umat, namun tidak pernah kenyang dari roti barley dua hari berturut-turut. Ini bukan karena beliau tidak mampu, tetapi karena beliau memilih zuhud dan mengutamakan akhirat.

Imam An-Nawawi dalam syarahnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan zuhud Nabi ﷺ dan bahwa beliau meninggalkan dunia bukan karena terpaksa, tetapi karena pilihan. Beliau lebih memilih sederhana agar menjadi teladan bagi umatnya.

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits ini tidak berarti Nabi ﷺ kelaparan terus-menerus, tetapi beliau tidak pernah kenyang dua hari berturut-turut dari roti barley. Kadang beliau kenyang dari makanan lain, atau dari roti barley satu hari saja, lalu hari berikutnya tidak. Ini menunjukkan kadar kesederhanaan yang luar biasa.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya tentang zuhud menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Nabi ﷺ tetap makan, minum, dan berkeluarga, tetapi hatinya tidak terikat pada dunia.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa kesederhanaan Nabi ﷺ adalah bukti kenabian dan kemuliaan akhlak. Beliau tidak mengejar kenikmatan dunia, tetapi fokus pada misi dakwah dan akhirat.

Hadits ini juga mengajarkan kita untuk tidak berlebihan dalam makan dan minum. Allah berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

QS. Al-A'raf [7]: 31

Terjemahan: "Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan."

Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal menyebutkan bahwa berlebihan dalam makan dapat mengeraskan hati dan melemahkan semangat ibadah. Maka kesederhanaan Nabi ﷺ adalah teladan terbaik.

Story Telling

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau pernah berkata: "Kami (keluarga Nabi ﷺ) pernah mengalami masa di mana kami hanya makan kurma dan air selama berhari-hari. Nabi ﷺ tidak pernah mengeluh, bahkan beliau tetap tersenyum dan bersyukur."

Dalam riwayat lain, Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu pernah menangis ketika melihat Nabi ﷺ berbaring di atas tikar yang kasar hingga membekas di kulit beliau. Umar berkata: "Wahai Rasulullah, raja-raja Persia dan Romawi hidup mewah, sedangkan engkau..." Nabi ﷺ menjawab: "Apakah engkau tidak ridha bahwa mereka mendapatkan dunia, dan kita mendapatkan akhirat?" (HR. Bukhari dan Muslim)

Hikmahnya: Nabi ﷺ mengajarkan bahwa kemuliaan bukan pada banyaknya harta, tetapi pada ketakwaan dan kesederhanaan hati.

Kesimpulan Praktis

  1. Teladani kesederhanaan Nabi ﷺ dalam makan, minum, dan gaya hidup.
  2. Jangan berlebihan dalam mengejar dunia, karena dunia hanya sementara.
  3. Bersyukurlah dengan apa yang Allah berikan, sekalipun sedikit.
  4. Fokuslah pada akhirat, karena di sanalah kebahagiaan sejati.
  5. Jangan menganggap kemewahan sebagai tanda kemuliaan, karena kemuliaan sejati adalah ketakwaan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?