Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2345 tentang Rezeki bisa datang karena keberadaan orang lain

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa orang yang sibuk dengan ibadah (seperti hadir ke majelis Nabi) bisa menjadi sebab turunnya rezeki bagi saudaranya yang bekerja. Kita tidak boleh meremehkan orang yang tekun beribadah, karena Allah ﷻ bisa melimpahkan rezeki melalui keberadaan mereka. Intinya, tawakkal kepada Allah tidak berarti meninggalkan usaha, tetapi meyakini bahwa Allah yang mengatur segala sebab rezeki, termasuk melalui orang-orang shalih.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang dimaksud:

<p>حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ ﷺ فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِي النَّبِيَّ ﷺ وَالآخَرُ يَحْتَرِفُ فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ ‏"‏ لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ ‏.‏</p>

Perawi: Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu

Kitab: Jami’ At-Tirmidzi, no. 2345, Kitab Az-Zuhd, Bab "At-Tawakkul ‘ala Allah"

Teks terjemahan: "Ada dua orang bersaudara pada masa Nabi ﷺ. Salah seorang dari mereka datang kepada Nabi ﷺ (untuk menuntut ilmu dan beribadah), sedangkan yang lainnya bekerja mencari nafkah. Maka saudara yang bekerja mengadu kepada Nabi ﷺ tentang saudaranya (yang tekun beribadah). Lalu beliau bersabda: 'Mungkin kamu diberi rezeki karena (keberadaan) dia.'"

Kaitan dengan ulama dalam daftar:

  • Imam At-Tirmidzi (ulama abad ke-3 H) menilai hadits ini hasan shahih. Beliau adalah seorang ulama hadits yang meriwayatkan dalam kitab sunannya.
  • Imam Ibn Rajab al-Hanbali (ulama abad ke-8 H) dalam kitab Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang menyibukkan diri dalam ketaatan, dan bahwa keberadaan mereka bisa menjadi sebab turunnya rahmat dan rezeki bagi orang lain.
  • Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (ulama abad ke-14 H) dalam tafsirnya sering menekankan bahwa rezeki datang dari Allah melalui berbagai sebab, termasuk keberadaan hamba-hamba-Nya yang shalih.

Ayat Al-Qur’an yang relevan (sebagai penguat):

وَ مَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖ ۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

(QS. Ath-Thalaq [65]: 3)

Artinya: "Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu."

Ayat ini mengajarkan bahwa tawakkal sejati bukanlah meninggalkan usaha, melainkan bersandar penuh kepada Allah setelah berusaha. Dalam hadits di atas, Nabi ﷺ mengingatkan bahwa orang yang beribadah pun menjadi bagian dari takdir Allah dalam mendatangkan rezeki bagi saudaranya yang bekerja.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan dalam konteks dua orang bersaudara: satu sangat rajin menghadiri majelis Nabi ﷺ untuk belajar agama dan beribadah, sementara yang lain sibuk bekerja mencari nafkah. Saudara yang bekerja mengeluh karena merasa dirinya lah yang menanggung beban ekonomi, sementara saudaranya hanya duduk-duduk di majelis. Nabi ﷺ menjawab dengan kalimat yang sangat dalam: “لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ”“Mungkin kamu diberi rezeki karena (keberadaan) dia.”

Beberapa ulama menjelaskan maknanya:

  • Imam Ibn Rajab al-Hanbali (dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, syarah hadits ke-38) mengatakan bahwa kehadiran orang shalih di tengah masyarakat bisa mendatangkan keberkahan dan rezeki. Beliau mengutip hadits lain: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitabullah dan saling mengajarkannya, melainkan ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk-makhluk yang di sisi-Nya.” (HR. Muslim).
  • Imam Ahmad bin Hanbal (ulama abad ke-3 H) dalam Kitab az-Zuhd pernah ditanya tentang orang yang meninggalkan usaha untuk ibadah, lalu beliau menjawab bahwa ibadah yang murni dan tawakkal yang benar tidaklah bertentangan dengan usaha yang halal. Namun, beliau juga mengakui bahwa sebagian orang diberi keistimewaan untuk fokus beribadah dan Allah memberi rezeki melalui orang lain.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (ulama abad ke-14 H) dalam syarah hadits ini menjelaskan bahwa yang dimaksud “mungkin kamu diberi rezeki karena dia” adalah karena doa dan keberkahan dari saudaranya yang shalih. Beliau menekankan bahwa seorang mu’min tidak boleh iri kepada orang yang disibukkan dengan ketaatan, karena bisa jadi merekalah sebab datangnya nikmat.
  • Ibnu Hajar al-‘Asqalani (ulama abad ke-9 H) ketika menjelaskan hadits serupa dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa kehadiran orang alim dan ahli ibadah di suatu negeri dapat mencegah datangnya bencana dan mendatangkan rezeki.

Dari sini kita pahami bahwa hadits ini tidak menghina usaha atau pekerjaan, tetapi mengajarkan adab: jangan pernah meremehkan orang yang tekun beribadah dan menuntut ilmu. Kedudukan mereka di sisi Allah sangat mulia. Sebaliknya, seorang muslim juga tidak boleh malas bekerja lalu menjadikan “tawakkal” sebagai alasan. Keseimbangan antara ibadah dan usaha adalah sunnah para nabi.

Story Telling

Diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal (dalam Kitab az-Zuhd) bahwa pada suatu hari ada seorang lelaki datang mengadu kepada beliau, “Wahai Abu Abdillah, tetanggaku adalah seorang yang shalih, ia setiap malam bangun tahajud dan siangnya berpuasa. Aku merasa rezekiku sempit?” Maka Imam Ahmad tersenyum dan berkata, “Barangkali kau tidak akan mendapat rezeki seluas ini jika bukan karena doa tetanggamu itu. Bergaullah dengannya dengan baik dan jangan kau sakiti hatinya.”

Kisah ini mengingatkan kita bahwa keberadaan orang shalih di sekitar kita adalah rahmat. Maka jadilah kita orang yang shalih, atau setidaknya mencintai dan mendukung mereka. Jangan menjadi seperti saudara yang bekerja dalam hadits yang awalnya mengeluh, namun kemudian sadar bahwa adiknya yang tekun beribadah justru menjadi sebab rezeki.

Kesimpulan Praktis

  1. Hormati orang yang tekun beribadah dan menuntut ilmu agama – Mereka bisa menjadi sebab turunnya keberkahan bagi lingkungan sekitar.
  2. Jangan iri terhadap kesibukan ibadah orang lain – Bisa jadi melalui mereka Allah meluaskan rezeki kita.
  3. Seimbangkan antara ibadah dan usaha – Bekerja adalah ibadah jika diniatkan untuk mencari nafkah halal dan menunaikan kewajiban. Namun, jangan sampai pekerjaan melalaikan dari ketaatan.
  4. Perbanyak doa dan tawakkal – Sandarkan segala urusan hanya kepada Allah, baik dalam ibadah maupun usaha.
  5. Jangan mengeluh kepada sesama dengan cara yang merendahkan orang shalih – Ingatlah sabda Nabi ﷺ: “Mungkin kamu diberi rezeki karena dia.”

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah. Aamiin.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.