Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2339 tentang Keinginan panjang umur dan harta membuat hati tetap muda

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengingatkan bahwa meskipun fisik manusia semakin tua dan lemah, ada dua sifat yang justru tetap "muda" atau kuat dalam dirinya, yaitu ambisi panjang umur dan kecintaan berlebihan terhadap harta. Kedua sifat ini adalah tabiat dasar manusia yang perlu dikendalikan dengan iman dan kesadaran bahwa dunia hanyalah sementara.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Humazah [104]: 1-3

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ ﴿١﴾ الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ ﴿٢﴾ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ ﴿٣﴾

Artinya: "Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya."

Hadits yang dimaksud:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَيَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ

"Anak Adam menua, tetapi dua hal membuatnya tetap muda: keinginan untuk hidup dan keinginan untuk kekayaan." (HR. Tirmidzi no. 2339, beliau mengatakan hadits ini shahih)

Penjelasan ulama:

Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitab Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah bahwa manusia semakin tua usianya, semakin bertambah pula ketamakannya terhadap dunia. Beliau mengutip perkataan Al-Hasan al-Bashri rahimahullah: "Tidaklah seorang anak Adam mencapai usia senja melainkan dua hal semakin bertambah padanya: panjang angan-angan dan cinta harta."

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim juga menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa kuatnya tabiat manusia yang selalu ingin hidup lama dan mengumpulkan harta, meskipun mereka tahu bahwa kematian pasti datang.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung pelajaran yang sangat dalam tentang tabiat dasar manusia. Kata "يَهْرَمُ" (yahramu) berarti menjadi tua, lemah, dan pikun. Sementara "يَشِبُّ" (yasyibbu) artinya tetap muda, segar, dan kuat. Maksudnya, meskipun fisik manusia sudah renta, rambut memutih, tulang melemah, namun dua sifat ini justru semakin kuat dan tidak pernah tua.

Pertama: Al-Hirshu 'alal 'Umur (Keinginan kuat untuk panjang umur)

Manusia selalu ingin hidup lebih lama. Semakin dekat ajalnya, semakin besar keinginannya untuk menunda kematian. Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Ad-Da' wa ad-Dawa' menjelaskan bahwa ini adalah bentuk cinta dunia yang melekat pada jiwa. Padahal, panjang umur seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal shalih, bukan sekedar mengejar kesenangan dunia.

Kedua: Al-Hirshu 'alal Mal (Keinginan kuat terhadap harta)

Sifat ini membuat manusia terus mengumpulkan harta tanpa merasa cukup. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang sudah tua namun masih sibuk mengumpulkan harta, beliau menjawab: "Itulah yang dimaksud dalam hadits ini, setan telah menipunya dengan panjang angan-angan."

Para ulama seperti Sufyan ats-Tsauri rahimahullah menekankan bahwa kedua sifat ini harus dilawan dengan zuhud, yaitu sikap tidak terlalu bergantung pada dunia dan selalu mengingat kematian. Fudail bin 'Iyadh rahimahullah berkata: "Tanda orang yang berakal adalah ia selalu mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk akhirat."

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Al-Hasan al-Bashri rahimahullah menjenguk seorang sahabatnya yang sedang sakit parah, ia melihat sahabatnya itu masih sibuk menghitung-hitung hartanya. Maka Al-Hasan berkata: "Wahai saudaraku, engkau akan meninggalkan semua ini. Tidakkah engkau sibuk dengan apa yang akan engkau bawa mati?" Sahabat itu menangis dan berkata: "Aku tahu, tapi hatiku masih terikat dengan dunia." Al-Hasan pun menasihatinya: "Beruntunglah orang yang menjadikan dunia sebagai jembatan, bukan tempat tinggal."

Kisah ini mengajarkan bahwa meskipun tabiat cinta dunia itu kuat, seorang mukmin harus terus berjuang melawannya dengan mengingat akhirat.

Kesimpulan Praktis

  1. Sadari bahwa keinginan panjang umur dan cinta harta adalah tabiat dasar manusia yang perlu dikendalikan.
  2. Gunakan usia dan harta untuk hal-hal yang bermanfaat bagi akhirat, bukan sekedar menumpuknya.
  3. Perbanyak mengingat kematian agar hati tidak terlalu terikat pada dunia.
  4. Latih diri untuk zuhud, yaitu menggunakan dunia secukupnya dan tidak menjadikannya tujuan utama.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.