Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang tabiat dasar manusia, terutama saat usia senja, yang hatinya tetap "muda" (kuat keinginannya) dalam mencintai dua hal: umur panjang dan harta yang banyak. Ini adalah kabar dari Nabi ﷺ tentang realita kecenderungan jiwa manusia, sekaligus peringatan agar kita tidak tenggelam dalam cinta dunia yang berlebihan, melainkan menjadikan umur dan harta sebagai bekal untuk ketaatan kepada Allah ﷻ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:
Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar dan sesuai dengan yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Az-Zuhd, Bab "Ma Ja'a fi Qalbi Syaikhin Syabbun 'ala Hubbitsnataini" (Bab Tentang Hati Seorang Tua yang Muda Karena Cinta kepada Dua Hal), no. 2338. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ
"Katakanlah (Muhammad), 'Kesenangan di dunia ini hanya sebentar...'" (QS. An-Nisa' [4]: 77)
Ayat ini menunjukkan bahwa kesenangan dunia, termasuk umur panjang dan harta, pada hakikatnya adalah sesuatu yang sedikit dan sementara. Ini sejalan dengan makna hadits yang mengingatkan agar kita tidak terperdaya oleh kecintaan berlebihan kepada hal-hal duniawi tersebut.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Al-Mubarakfuri (dalam Tuhfatul Ahwadzi, syarah Sunan At-Tirmidzi) menjelaskan bahwa makna "hati tua yang muda" adalah keinginan dan kecintaannya yang kuat terhadap dunia, seakan-akan ia masih muda, tidak merasa lelah dan bosan untuk mengejar umur panjang dan harta.
- Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya 'Uddatush Shabirin dan Miftah Daris Sa'adah sering membahas tentang hakikat cinta dunia dan bagaimana ia dapat melalaikan hati dari akhirat. Beliau menekankan bahwa cinta dunia adalah pangkal dari segala kesalahan, dan umur serta harta adalah dua hal yang paling sering membuat manusia lalai.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu mukjizat ilmiah Nabi ﷺ dalam mengabarkan kondisi psikologis manusia. Mari kita bedah maknanya:
- Makna "Qalbusy Syaikh" (Hati Orang Tua): Yang dimaksud di sini adalah orang yang telah lanjut usia. Secara fisik, ia sudah lemah dan tenaganya berkurang. Namun, Nabi ﷺ mengabarkan bahwa hatinya tetap "syabbun" (muda). Ini bukan berarti hatinya secara fisik muda, melainkan keinginan dan ambisinya terhadap dunia tidak pernah menua.
- Makna "Syabbun 'ala hubbitsnatain" (Muda karena cinta dua hal): Dua hal yang dimaksud adalah:
- Thulul hayah (Panjang umur): Orang tua sering kali sangat berharap untuk hidup lebih lama lagi. Mereka takut mati karena merasa belum cukup menikmati dunia atau belum menyelesaikan urusan-urusan duniawi mereka.
- Katsratul mal (Banyak harta): Kecintaan untuk mengumpulkan harta tidak pernah padam. Semakin tua, terkadang semakin kuat keinginan untuk menumpuk harta, baik untuk warisan, gengsi, atau sekadar rasa aman.
- Hikmah dan Pelajaran dari Para Ulama:
- Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa cinta dunia adalah akar dari segala keburukan. Hadits ini menunjukkan bahwa kecintaan itu mengakar kuat di hati manusia, bahkan di usia senja. Oleh karena itu, butuh jihad yang besar untuk melawannya.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam syarahnya atas Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini adalah peringatan agar kita tidak tertipu oleh angan-angan panjang (thulul amal). Angan-angan panjang membuat manusia menunda taubat dan amal saleh, karena merasa masih punya banyak waktu. Beliau menasihatkan untuk selalu mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk akhirat.
- Imam Al-Ghazali (meski tidak dalam daftar, namun prinsip ini dipegang oleh ulama dalam daftar seperti Ibnul Qayyim) menyebut bahwa cinta dunia adalah racun yang mematikan hati. Namun, kita fokus pada penjelasan ulama dalam daftar, yaitu Ibnul Qayyim dan Syaikh Utsaimin.
- Perbedaan Pendapat (Jika Ada): Para ulama sepakat bahwa hadits ini adalah kabar berita (khabar) tentang kondisi nyata manusia, bukan perintah untuk melakukan hal tersebut. Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana cara menyikapinya, dan semua ulama sepakat bahwa kita harus melawan kecenderungan negatif ini dengan memperbanyak mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuk akhirat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Al-Hasan Al-Bashri (seorang ulama tabi'in yang sangat zuhud) pernah menangis ketika membaca firman Allah tentang hari kiamat. Beliau berkata, "Wahai manusia, sungguh kalian diciptakan untuk akhirat, bukan untuk dunia. Kalian diciptakan untuk kekal, bukan untuk fana. Kalian hanya singgah di dunia ini, dan akan dipindahkan ke negeri yang kekal. Maka bersiaplah kalian."
Suatu hari, ada seorang laki-laki yang bertanya kepadanya, "Wahai Abu Sa'id, mengapa hati kami ini keras dan tidak mau mengambil pelajaran?" Al-Hasan menjawab, "Karena kalian mencintai dunia dan panjang umur. Kalian telah mengisi hati kalian dengan cinta kepada dua hal yang disebutkan oleh Nabi ﷺ, sehingga tidak ada tempat lagi untuk nasihat dan pelajaran."
Kisah ini menunjukkan bagaimana para salaf memahami bahwa cinta umur panjang dan harta adalah penghalang terbesar bagi hati untuk menerima nasihat dan menjadi lembut. Mereka sangat berhati-hati terhadap penyakit hati ini.
Kesimpulan Praktis
Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan:
- Sadari Kecenderungan Hati: Akui bahwa dalam diri kita ada kecenderungan untuk cinta umur panjang dan harta. Dengan menyadarinya, kita tidak akan lengah.
- Perbanyak Mengingat Kematian: Ingatlah bahwa umur panjang bukanlah tujuan, melainkan kesempatan. Perbanyaklah berdoa agar diberikan umur yang berkah, bukan sekadar panjang. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa: "Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang merupakan penjaga urusanku, dan perbaikilah untukku duniaku yang merupakan tempat kehidupanku..."
- Jadikan Harta sebagai Alat Ketaatan: Gunakan harta untuk bersedekah, membantu keluarga, dan menegakkan syiar Islam. Harta yang bermanfaat adalah harta yang dibelanjakan di jalan Allah, bukan yang hanya ditumpuk.
- Jangan Menunda Amal: Jangan berkata, "Nanti saja saya taubat, nanti saja saya shalat, nanti saja saya berhaji." Karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput. Angan-angan panjang adalah tipuan setan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.