Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah nasihat agung dari Nabi ﷺ kepada Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma agar kita hidup di dunia ini seperti orang asing atau musafir yang sedang dalam perjalanan. Artinya, kita tidak boleh terlalu larut dan betah dengan dunia, karena dunia hanyalah persinggahan sementara menuju kampung akhirat yang abadi. Hadits ini juga mengajarkan kita untuk memanfaatkan waktu sehat dan hidup sebelum datangnya sakit dan kematian.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits yang dimaksud:
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ibnu Umar:
> "كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَعُدَّ نَفْسَكَ فِي أَهْلِ الْقُبُورِ"
>
> "Jadilah di dunia seperti orang asing atau pengembara, dan hitunglah dirimu di antara penghuni kubur."
(HR. At-Tirmidzi no. 2333, dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma. Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini diriwayatkan juga oleh Al-A'masy dari Mujahid dari Ibnu Umar seperti itu." Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
> وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
>
> "Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya." (QS. Ali 'Imran [3]: 185)
Dan firman-Nya:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
>
> "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)." (QS. Al-Hasyr [59]: 18)
Kaitan dengan ulama:
- Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan hadits ini secara panjang lebar ketika membahas tentang zuhud dan memendekkan harapan.
- Imam An-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin (bab tentang zuhud dan memendekkan harapan) membawakan hadits ini sebagai landasan utama.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menjelaskan makna hadits ini sebagai dorongan untuk tidak terlalu berharap panjang kepada dunia.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua nasihat besar:
Pertama: Jadilah seperti orang asing atau musafir di dunia.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa orang asing atau musafir itu ciri-cirinya: tidak betah berlama-lama, tidak sibuk membangun istana, tidak mengumpulkan harta untuk menetap, dan hatinya selalu merindukan kampung halamannya. Seorang mukmin sejati hatinya selalu terikat dengan kampung akhirat, sehingga ia tidak menjadikan dunia sebagai tempat menetap. Ia hanya mengambil dunia sekadar bekal untuk sampai ke kampung abadi.
Kedua: Hitunglah dirimu di antara penghuni kubur.
Maksudnya adalah ingatlah kematian dan bayangkan dirimu sudah berada di dalam kubur. Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa orang yang selalu mengingat kematian akan:
- Bersungguh-sungguh dalam beramal sebelum datang ajal
- Tidak menunda-nunda taubat
- Tidak terlalu gembira dengan dunia yang fana
- Mempersiapkan bekal untuk perjalanan panjang menuju akhirat
Adapun tambahan nasihat Ibnu Umar kepada perawi (Mujahid): "Jika engkau di pagi hari, jangan menunggu sore. Jika engkau di sore hari, jangan menunggu pagi. Ambillah dari kesehatanmu sebelum sakitmu, dan dari hidupmu sebelum matimu." Ini adalah penjelasan praktis dari Ibnu Umar tentang bagaimana mengamalkan sabda Nabi ﷺ. Ini juga sejalan dengan hadits shahih dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari:
> "اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ"
>
> "Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu." (HR. Al-Hakim, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Fawa'id menjelaskan bahwa rahasia nasihat ini adalah karena manusia tidak tahu umurnya. Bisa jadi ia mati di pagi hari sebelum sore, atau mati di sore hari sebelum pagi. Maka orang yang berakal adalah yang selalu siap menghadapi kematian kapan pun datangnya.
Story Telling
Ada kisah indah tentang Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, seorang ulama tabi'in yang sangat zuhud. Suatu hari ia berkata kepada para sahabatnya:
> "Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka hilanglah sebagian darimu. Maka beramallah di hari-harimu sebelum semuanya habis."
Beliau juga pernah berkata:
> "Sesungguhnya dunia itu tidak lain seperti hari yang engkau lalui. Jika hari itu berlalu, maka berlalu pula sebagian dari umurmu. Maka perbaikilah hari-harimu, karena engkau tidak tahu kapan ajal menjemputmu."
Al-Hasan Al-Bashri dikenal sebagai ulama yang sangat takut kepada Allah dan selalu mengingat kematian. Beliau sering menangis ketika mengingat kubur dan hari pembalasan. Ini menunjukkan bahwa orang yang paling zuhud terhadap dunia adalah orang yang paling sadar akan hakikat kehidupan.
Kesimpulan Praktis
Beberapa hal yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Jangan terlalu larut dengan dunia — jadikan dunia sekadar tempat persinggahan, bukan tujuan akhir.
- Perbanyak mengingat kematian — dengan ziarah kubur, merenungkan kehidupan akhirat, dan membaca ayat-ayat tentang kematian.
- Jangan menunda amal kebaikan — kerjakan sekarang juga, jangan menunggu tua atau sakit.
- Manfaatkan waktu sehat dan muda — untuk ibadah, menuntut ilmu, dan berbuat kebaikan.
- Kurangi harapan panjang — jangan terlalu banyak merencanakan urusan dunia yang melalaikan, tapi perbanyak rencana untuk bekal akhirat.
- Siapkan bekal — perbanyak amal shalih, taubat, dan istighfar sebelum ajal tiba.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.