Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan salah satu tanda besar dekatnya hari kiamat: waktu terasa semakin cepat dan sempit, sehingga setahun terasa seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperti sejam, dan sejam seperti nyala api yang cepat padam. Ini bukan berarti waktu secara hakiki berubah, melainkan keberkahan waktu berkurang dan hati manusia semakin sibuk dengan dunia. Imam at-Tirmidzi menilai hadits ini gharib dari jalur ini, namun maknanya didukung oleh banyak riwayat lain tentang tanda-tanda kiamat.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Qamar [54]: 1
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
Terjemahan: "Telah dekat hari kiamat dan telah terbelah bulan."
QS. Al-Anbiya' [21]: 1
اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ
Terjemahan: "Telah dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedangkan mereka dalam keadaan lalai dan berpaling."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dan dicatat oleh Imam at-Tirmidzi dalam Jami' at-Tirmidzi, Kitab Zuhud, Bab Apa yang Dikatakan tentang Dekatnya Waktu dan Pendeknya Harapan, nomor 2332. Imam at-Tirmidzi menyatakan hadits ini gharib dari jalur ini.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa tanda-tanda kiamat terbagi menjadi tanda kecil dan besar, dan percepatan waktu termasuk tanda yang disebutkan dalam berbagai riwayat.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "waktu menjadi sempit" adalah hilangnya keberkahan waktu, bukan berubahnya hitungan waktu secara fisik.
- Ibn Katsir dalam An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim menyebutkan bahwa di akhir zaman, waktu terasa sangat cepat berlalu karena kesibukan manusia dengan dunia.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menekankan bahwa pendeknya harapan (qishar al-amal) adalah obat dari cepatnya waktu berlalu tanpa amal.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa menjelang hari kiamat, waktu akan terasa semakin cepat. Setahun yang seharusnya 12 bulan terasa seperti sebulan saja. Sebulan terasa seperti seminggu. Seminggu terasa seperti sehari. Sehari terasa seperti sejam. Dan sejam terasa seperti adh-dharmah — yaitu nyala api yang menyala sebentar lalu padam dengan cepat.
Bagaimana para ulama memahami hadits ini:
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud bukanlah waktu secara hakiki berubah menjadi lebih pendek, karena matahari dan bulan tetap berjalan pada garis edarnya. Yang berubah adalah keberkahan waktu — manusia merasa waktunya sangat cepat berlalu karena terlalu sibuk dengan urusan dunia, sehingga tidak sempat beribadah dan beramal shalih dengan tenang.
Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa ini bisa juga berarti secara hakiki di akhir zaman nanti, Allah mengurangi keberkahan waktu sehingga pekerjaan yang biasanya butuh waktu lama bisa selesai dengan cepat, atau sebaliknya — waktu terasa cepat karena kesibukan yang berlebihan.
Ibn Katsir dalam kitabnya tentang fitnah dan tanda-tanda kiamat menyebutkan bahwa hadits ini termasuk tanda-tanda kiamat yang sudah kita saksikan sebagiannya di zaman ini. Betapa banyak orang mengeluh bahwa waktu terasa sangat cepat, hari-hari berlalu begitu saja, dan mereka tidak sempat melakukan amal shalih.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif mengingatkan bahwa obat dari masalah ini adalah qishar al-amal (pendeknya harapan). Ketika seseorang menyadari bahwa waktunya terbatas, ia akan segera beramal dan tidak menunda-nunda.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Sebagian ulama memahami hadits ini secara hakiki — bahwa di akhir zaman nanti Allah benar-benar akan memendekkan waktu secara fisik. Sebagian lain memahami secara majazi — bahwa waktu terasa cepat karena hilangnya keberkahan dan sibuknya manusia dengan dunia. Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi cenderung menggabungkan keduanya: bisa jadi secara hakiki di akhir zaman, dan bisa jadi secara maknawi di zaman kita sekarang. Yang paling kuat adalah pendapat yang menggabungkan keduanya, karena tidak ada dalil yang menafikan salah satunya.
Kaitan dengan judul bab "Dekatnya Waktu dan Pendeknya Harapan":
Imam at-Tirmidzi meletakkan hadits ini dalam bab tentang dekatnya waktu dan pendeknya harapan. Ini menunjukkan bahwa beliau memahami hadits ini sebagai isyarat agar kita tidak panjang angan-angan. Ketika waktu terasa cepat, orang yang panjang angan-angan akan tertinggal, sedangkan orang yang pendek harapannya akan segera beramal.
Story Telling
Kisah dari salaf tentang pendeknya harapan:
Diceritakan bahwa Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata kepada murid-muridnya: "Aku mendapati suatu kaum yang lebih menjaga waktu daripada menjaga dirham dan dinar mereka. Aku mendapati suatu kaum yang jika ditanya tentang amal, mereka sudah mengerjakannya sebelum ditanya."
Beliau juga berkata: "Wahai manusia, sesungguhnya dunia ini hanya beberapa hari. Jika engkau habiskan untuk ketaatan, maka engkau akan beruntung. Jika engkau habiskan untuk kelalaian, maka engkau akan merugi."
Fudail bin 'Iyadh rahimahullah pernah berkata: "Aku tidak pernah melihat seseorang yang panjang angan-angan melainkan ia akan malas beramal. Dan aku tidak pernah melihat seseorang yang pendek harapannya melainkan ia akan bersegera dalam kebaikan."
Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah dalam Kitab az-Zuhd menyebutkan bahwa seorang salaf berkata: "Waktu itu seperti pedang. Jika engkau tidak memotongnya, ia akan memotongmu."
Kesimpulan Praktis
- Sadari bahwa waktu semakin cepat — jangan menunda amal shalih, karena hari ini terasa seperti sejam, esok bisa jadi seperti nyala api yang padam dalam sekejap.
- Pendekkan harapan — jangan berkata "nanti saja" atau "besok saja" dalam beribadah. Ibn Rajab al-Hanbali mengingatkan bahwa panjang angan-angan adalah penyakit hati yang membuat seseorang malas beramal.
- Manfaatkan waktu untuk hal yang bermanfaat — sebagaimana nasihat Al-Hasan al-Bashri, dunia ini hanya beberapa hari. Isi dengan ketaatan, ilmu, dan amal shalih.
- Jangan sibuk dengan dunia berlebihan — salah satu sebab waktu terasa cepat adalah karena kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi hingga lupa akhirat.
- Perbanyak istighfar dan taubat — karena kita tidak tahu kapan waktu kita berakhir. Imam an-Nawawi menasihatkan agar setiap muslim selalu siap menghadap Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.