Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah nasihat agung dari Nabi ﷺ agar kita tidak menjadikan harta benda dan kesibukan dunia sebagai tujuan utama hidup. Beliau mengingatkan bahwa jika hati kita terlalu sibuk dengan harta dan urusan duniawi, maka kita akan semakin cinta dunia dan lalai dari akhirat. Ini bukan berarti kita dilarang bekerja atau memiliki harta, tetapi dilarang menjadikannya sebagai orientasi hidup yang melalaikan kewajiban dan ibadah kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits yang dimaksud:
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَتَّخِذُوا الضَّيْعَةَ فَتَرْغَبُوا فِي الدُّنْيَا
"Janganlah kalian mengambil harta benda (yang banyak), sehingga kalian menjadi menginginkan (cinta) dunia."
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Az-Zuhd, Bab Tentang Hal Itu, no. 2328. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan (baik). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Imam Abu Dawud.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi." (QS. Al-Qashash [28]: 77)
Ayat ini mengajarkan keseimbangan: kita boleh menikmati dunia, tetapi tujuan utamanya adalah akhirat.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa kata الضَّيْعَة (adh-dhai'ah) dalam hadits ini bermakna harta benda yang banyak, ladang, atau sumber penghasilan yang menyita perhatian dan waktu. Maksudnya adalah harta yang membuat seseorang sibuk dan lalai dari mengingat Allah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa cinta dunia yang tercela adalah ketika dunia menjadi tujuan utama hati, sehingga seseorang sibuk mengumpulkannya dan lupa akan kewajiban agama. Beliau membedakan antara dunia yang tercela (yang melalaikan dari akhirat) dan dunia yang terpuji (yang digunakan sebagai bekal untuk taat kepada Allah).
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa zuhud bukanlah meninggalkan harta sama sekali, tetapi zuhud adalah hati yang tidak diperbudak oleh harta. Beliau menukil perkataan gurunya, Ibnu Taimiyah, bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat untuk akhirat.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah ketika menafsirkan ayat tentang dunia dan akhirat menjelaskan bahwa Allah tidak melarang hamba-Nya untuk menikmati rezeki yang halal, tetapi yang dilarang adalah menjadikan dunia sebagai tujuan dan melupakan akhirat.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini adalah peringatan agar kita tidak terlalu sibuk dengan urusan dunia seperti pertanian, perdagangan, atau pekerjaan yang menyita waktu hingga melalaikan shalat berjamaah, menuntut ilmu, dan ibadah-ibadah lainnya.
Pelajaran penting dari hadits ini:
- Boleh memiliki harta, tetapi jangan sampai harta itu menguasai hati kita.
- Bekerja dan berusaha adalah bagian dari sunnah para Nabi, namun yang dilarang adalah menjadikan dunia sebagai orientasi hidup.
- Tanda cinta dunia adalah ketika seseorang sibuk mengumpulkan harta tanpa memperhatikan halal-haramnya, lalai dari ibadah, dan tidak merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Sufyan ats-Tsauri rahimahullah, seorang ulama besar dari kalangan tabi'in, pernah ditanya tentang zuhud. Beliau menjawab: "Zuhud itu bukan berarti kamu tidak memiliki sesuatu, tetapi zuhud adalah ketika kamu tidak merasa tenang dengan apa yang kamu miliki dan tidak merasa sedih dengan apa yang hilang darimu."
Beliau juga pernah berkata: "Tidaklah seseorang mencintai dunia kecuali akan semakin jauh dari kebenaran." Sufyan ats-Tsauri adalah ulama yang sangat zuhud, meskipun beliau memiliki ilmu yang banyak dan kedudukan yang tinggi di masyarakat.
Kisah lain, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang harta. Beliau menjawab bahwa harta itu boleh dimiliki, tetapi ia tidak boleh menguasai hati. Beliau sendiri hidup sederhana meskipun ilmunya sangat luas dan pengikutnya sangat banyak.
Hikmah dari kisah-kisah ini adalah bahwa para ulama salaf tidak anti terhadap harta, tetapi mereka menjadikan hati mereka hanya untuk Allah. Harta di tangan mereka, bukan di hati mereka.
Kesimpulan Praktis
- Niatkan setiap pekerjaan dan usaha kita untuk ibadah — mencari nafkah halal untuk keluarga adalah ibadah jika diniatkan karena Allah.
- Jangan jadikan harta sebagai tujuan utama — jadikan ia sebagai sarana untuk beribadah dan membantu sesama.
- Perbanyak mengingat kematian dan akhirat — ini akan menjaga hati kita dari cinta dunia yang berlebihan.
- Sederhanakan hidup — jangan terlalu sibuk mengejar dunia hingga lalai dari kewajiban agama.
- Dahulukan ibadah wajib — jangan sampai pekerjaan atau usaha membuat kita meninggalkan shalat berjamaah dan kewajiban lainnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.