Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang adab yang sangat agung ketika tertimpa kefakiran atau kesulitan hidup. Intinya, seorang mukmin hendaknya menggantungkan harapan dan meminta pertolongan hanya kepada Allah ﷻ, bukan mengadu dan meminta-minta kepada sesama manusia. Jika kita meminta kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan kita dengan rezeki-Nya, baik yang cepat (di dunia) maupun yang tertunda (di akhirat). Sebaliknya, jika kita mengadu kepada manusia, maka hal itu tidak akan menghilangkan kefakiran kita, bahkan bisa menjatuhkan harga diri dan kehormatan kita.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Az-Zuhd, Bab "Ma Ja'a fil Faqri" (Bab Tentang Kefakiran), no. 2326. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih gharib.
Teks Hadits:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ بَشِيرٍ أَبِي إِسْمَاعِيلَ، عَنْ سَيَّارٍ، عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " مَنْ نَزَلَتْ بِهِ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ وَمَنْ نَزَلَتْ بِهِ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِاللَّهِ فَيُوشِكُ اللَّهُ لَهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ أَوْ آجِلٍ "
Makna Hadits:
"Barangsiapa yang ditimpa kefakiran (kemiskinan) lalu ia mengadukannya kepada manusia, maka kefakirannya tidak akan tertutup. Dan barangsiapa yang ditimpa kefakiran lalu ia mengadukannya kepada Allah, maka Allah akan segera memberinya rezeki, baik yang cepat (di dunia) maupun yang lambat (di akhirat)."
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
"Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS. At-Talaq [65]: 3)
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini mengandung anjuran untuk tawakkul (berserah diri) kepada Allah dan larangan meminta-minta kepada makhluk. Beliau menukil perkataan sebagian ulama bahwa meminta kepada manusia adalah tanda kehinaan, sedangkan meminta kepada Allah adalah tanda kemuliaan.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjat Qulub al-Abrar menafsirkan bahwa hadits ini mengajarkan bahwa hati seorang mukmin harus selalu terikat kepada Allah, bukan kepada makhluk. Karena manusia tidak bisa memberikan manfaat atau mudharat kecuali dengan izin Allah.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki dua bagian yang saling berlawanan:
- Orang yang mengadukan kefakirannya kepada manusia: Ini adalah kondisi tercela. Mengapa? Karena hal ini menunjukkan kelemahan iman dan kurangnya keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya pemberi rezeki. Meminta-minta kepada manusia (tanpa kebutuhan yang mendesak) adalah perbuatan yang dilarang. Bahkan, dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa meminta-minta kepada manusia untuk memperbanyak hartanya, maka sesungguhnya ia meminta bara api." (HR. Muslim). Orang yang mengadu kepada manusia biasanya akan merasa semakin hina, dan kebutuhannya tidak akan benar-benar terpenuhi dengan sempurna, karena manusia memiliki keterbatasan.
- Orang yang mengadukan kefakirannya kepada Allah: Ini adalah kondisi terpuji. Ini adalah inti dari tawakkul dan tadarru' (merendahkan diri) kepada Allah. Caranya adalah dengan berdoa, memohon, dan berharap hanya kepada-Nya. Allah ﷻ berfirman dalam hadits qudsi, "Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia berdoa kepada-Ku." (HR. Bukhari dan Muslim). Allah menjanjikan akan memberikan rezeki, baik yang 'ajil (cepat, di dunia) maupun ajil (tertunda, di akhirat). Ini adalah kabar gembira yang sangat besar.
Pandangan Ulama tentang Makna "Faqah" (Kefakiran):
- Imam Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa kefakiran di sini bukan hanya soal harta, tetapi juga kebutuhan hati kepada Allah. Hati yang fakir (butuh) kepada Allah adalah sifat yang terpuji, karena ia akan selalu merasa dekat dan bergantung kepada-Nya. Namun, kefakiran yang tercela adalah ketika hati merasa butuh kepada makhluk dan menjadikan mereka sebagai tempat bergantung.
Perbedaan antara "Meminta kepada Manusia" dan "Mengadu kepada Manusia":
Perlu dibedakan antara meminta-minta (yang tercela) dengan meminta bantuan dalam urusan yang dibolehkan. Dalam banyak hadits, Nabi ﷺ sendiri meminta bantuan para sahabatnya dalam urusan perang dan lainnya. Namun, yang dilarang adalah menjadikan manusia sebagai tempat bergantung utama dan mengadukan kefakiran hati kepada mereka dengan cara yang merendahkan diri. Para ulama membolehkan meminta bantuan kepada manusia untuk urusan yang mubah jika dalam keadaan darurat, selama hati tetap bergantung kepada Allah.
Story Telling
Diriwayatkan dari Imam Sufyan ats-Tsauri (salah satu perawi dalam sanad hadits ini), beliau adalah seorang ulama yang sangat zuhud dan wara'. Suatu hari, beliau ditimpa kefakiran yang sangat parah. Istrinya berkata, "Wahai Abu Abdillah, kita tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan. Bagaimana jika engkau meminta bantuan kepada sebagian saudara kita?"
Maka Imam Sufyan ats-Tsauri menjawab dengan tenang, "Tidak, aku tidak akan meminta kepada manusia. Aku akan meminta kepada Allah yang Maha Kaya lagi Maha Pemberi Rezeki. Sesungguhnya jika aku meminta kepada manusia, bisa jadi mereka akan memberiku, tetapi bisa jadi mereka akan menghinaku. Sedangkan jika aku meminta kepada Allah, maka Dia tidak akan menghinaku."
Kemudian beliau berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Tidak lama kemudian, datanglah seorang laki-laki yang membawa sekantong uang dan berkata, "Wahai Abu Abdillah, ini adalah hadiah untukmu dari seseorang yang tidak ingin disebut namanya." Maka Imam Sufyan pun menerimanya dan berkata, "Inilah buah dari tawakal kepada Allah." (Kisah ini dinukil secara makna dari sirah hidup beliau).
Hikmah: Kisah ini menunjukkan bahwa keyakinan seorang mukmin kepada Allah akan melahirkan ketenangan dan kecukupan. Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh berdoa dan bertawakal kepada-Nya.
Kesimpulan Praktis
- Perbaiki Niat dan Tujuan: Jadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung dan meminta pertolongan dalam segala hal, terutama saat kesulitan.
- Perbanyak Doa: Ketika tertimpa kefakiran atau kesulitan, perbanyaklah berdoa kepada Allah dengan penuh keyakinan, seperti doa, "Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung kepada selain-Mu." (HR. Tirmidzi).
- Hindari Meminta-minta: Janganlah mengadu dan meminta-minta kepada manusia tanpa kebutuhan yang mendesak. Jika harus meminta bantuan, lakukanlah dengan tetap menjaga harga diri dan hati yang tidak mengharap balasan dari manusia, tetapi hanya mengharap pahala dari Allah.
- Yakinlah dengan Janji Allah: Hadits ini adalah jaminan dari Rasulullah ﷺ bahwa Allah akan memberikan rezeki kepada orang yang meminta kepada-Nya, baik cepat maupun lambat. Maka, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.